
Kerja sama yang terjalin antara perusahaan Leo dan perusahaan Angel membuat mereka sering bertemu bahkan harus ke luar kota bersama. Berbeda dengan Leo namun Angel merasa nyaman dengan Leo meskipun tahu status Leo yang sudah beristri.
"Le, bisa kita bicara?" tanya Angel yang membuat Leo mengubah pandangannya dari berkas-berkas ke arahnya
"Bicara apa?" tanya Leo penasaran
"Sebenarnya aku nyaman denganmu, maaf aku hanya tidak ingin memendam perasaan ini saja Le, karena jujur ini sangat mengganggu, merasakan rindu pada suami orang." Jawab Angel dengan tatapan nanar nya
Leo yang mendengar kata-kata Angel sedikit kaget lalu dia beranjak dari kursi kebesarannya menuju tempat dimana Angel duduk
"Maafkan aku Angel, seharusnya kamu jangan mengungkapkan perasaanmu karena ketika aku tahu seperti ini, aku bisa menjauhi mu." Kata Leo dengan menatap Angel
"Aku tau Le konsekuensi ku namun aku tak sanggup memendam perasanku, aku sungguh tersiksa dengan rasa ini," sahut Angel
"Aku paham selama kamu nggak melebihi batas kita aku nggak masalah, karena aku nggak mau terjadi salah paham antara aku, istriku dan dirimu." Leo pun kembali ke kursi kebesarannya
Angel yang sudah menyelesaikan pekerjaannya meminta pamit pada Leo. Meskipun hatinya sakit atas penolakan Leo namun Angel masih bisa bersikap profesional.
Sore datang dengan cepat, Leo yang sudah merindukan istrinya melangkahkan kaki dengan cepat keluar kantornya.
Dia melajukan mobilnya menuju kafe Rara, saat masuk ruangan Rara betapa kagetnya dia karena melihat Rara meringkuk kesakitan.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Leo dengan panik
Dengan sedikit berlari Leo menghampiri Rara
"Perutku sakit sekali mas," jawab Rara.
Tanpa pikir panjang Leo membawa Rara ke rumah sakit untuk diperiksa,
"Bagaimana dengan istri saya dok?" tanya Leo setelah dokter selesai memeriksa Rara
"Hanya kram biasa pak, ini wajar dialami wanita yang mendapatkan tamu nya pada hari pertama," jawab dokter dengan tersenyum
Dokter memberi obat anti nyeri dan juga pelancar haid. Setelah membayar administrasinya Leo dan Rara pulang.
"Datangnya nggak bisa diundur besok ya?" kata Leo dengan wajah lemas
"Kenapa mas memangnya?" tanya Rara
"Aku lagi pingin sayang, kemarin kan udah libur masak harus libur lagi, apalagi harus menunggu selama tujuh hari," jawab Leo dengan cemberut
"Terus gimana dong?" tanya Rara lagi
__ADS_1
"Ya nggak gimana-gimana, tau gitu kemarin aku puas-puasin bukannya malah off," jawab Leo
Rara hanya menggeleng-gelengkan kepala, suaminya kali ini sungguh luar biasa, dia tidak membiarkan sedikit pun Rara kekurangan nafkah batin.
"Sabar mas," kata Rara lalu menatap jalanan dari jendela mobil
Mobil mewah Leo sudah memasuki halaman rumahnya,
Setelah memarkirkan mobilnya Leo dan Rara masuk di ruang tamu nampak mama sedang duduk di ruang tamu.
"Sudah pulang nak?" tanya mama
"Sudah ma," jawab Leo
Rara dan Leo ikut bergabung dengan mama,
"Oh ya Ra, bagaimana sudah ada tanda-tanda hamil apa belum?" tanya mama dengan menatap Rara
Nampak raut wajah Rara yang berubah, dengan tersenyum dia menjawab pertanyaan mama
"Belum ma,"
"Semoga cepat dapat momongan ya , Mama tidak sabar menunggu kabar baik dari kalian," sahut mama
********
Malam ini Vera duduk sambil menatap langit di depan rumah Edward yang dia tempati.
Bulir-bulir matanya lolos kembali mengingat hidup yang pernah dia jalani.
Memang Edward bersedia untuk membebaskannya dari cengkraman mucikari tapi sebagai balasannya Vera harus membantu Edward mendapatkan keturunan untuk dirinya dan juga istrinya.
Awalnya dia ragu untuk menolong Edward namun daripada dia terjebak dalam kehidupan hitam dan kotor seperti itu akhirnya Vera pun mau.
Edward meminta Vera untuk menikah dengannya namun bukannya pernikahan yang diimpikan setiap wanita melainkan pernikahan kontrak yang harus berakhir setelah Vera melahirkan anak untuknya. Lagi-lagi Vera dijadikan istri kedua berbeda dengan Ilham dulu yang menikah tanpa restu Rara namun kali ini malah istri Edward yang menyuruh Edward untuk menikah lagi.
" Aku pasrah atas jalan yang engkau berikan padaku," batin Vera
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil, Vera bergegas membuka pagar karena pemilik rumah datang berkunjung.
"Malam Vera," sapa Edward
"Malam mas," sahut Vera
__ADS_1
Mereka kini masuk ke dalam,
"Maaf malam-malam mengganggu kamu, aku hanya ingin menyerahkan kontrak nikah kita," kata Edward sambil menyerahkan berkas kepada Vera
Vera melihat isi berkasnya dan tersenyum kecut.
"Besok akan aku perkenalkan dirimu pada istriku," kata Edward
Vera seperti mengalami de Javu, cuma bedanya dulu dia sendiri yang memaksa Ilham untuk memperkenalkannya pada Rara dan sekarang Edward dengan senang memperkenalkannya pada istrinya.
Keesokan harinya Vera pergi ke rumah Edward dan istrinya, keringat dingin keluar saat mobil Edward masuk pekarangan rumah.
Nampak seorang wanita cantik yang menyambut kedatangan mereka.
"Sayang," sapa Edward dengan Vera di belakangnya
Renata istri Edward tak menggubris suaminya dia langsung saja menghampiri Vera dan memeluknya.
"Terima kasih kamu telah membantu kami," kata Renata dengan air mata yang jatuh.
Meskipun ada syarat namun Vera melihat ketulusan dari Renata.
"Sama-sama," jawab Vera
Setelah saling memperkenalkan diri, Renata membawa Vera masuk.
"Mulai Minggu depan kita tinggal bersama ya?" pinta Renata
Vera menatap mata Renata dengan lekat nampak ada kesedihan di sana, namun dia berpura-pura tegar.
Renata pamit untuk ke kamar sebentar, saat Renata ke kamarnya Vera melontarkan pertanyaan pada Edward,
"Apa kamu sanggup mengkhianati istrimu mas, jujur aku tak sanggup jika harus menjadi istri kedua mu meskipun hakekatnya aku hanya wadah di sini yang nantinya akan dibuang,"
"Aku tidak ada pilihan dan aku harap kamu jangan bilang pada Renata kalau dirimu dulu pernah bekerja di tempat hiburan," pinta Edward
Vera mengangguk, dia kini hanya bisa pasrah akan nasibnya, adanya dia disini bukan sebagai pelakor atau simpanan namun dia benar-benar di minta untuk menjadi yang kedua meskipun nanti setelah dia bisa melahirkan anak untuk Edward, dia harus pergi.
Berat memang namun ini konsekuensi yang harus Vera terima untuk bisa keluar dari tempat terkutuk yang sudah lebih dari satu bulan menyiksanya.
Di kamarnya dalam diam Renata menangis sungguh dia tidak bisa berbagi suaminya namun dia terpaksa melakukannya karena jika tidak orang tua Edward akan memisahkan mereka.
Karena tidak ingin berlama-lama di rumah Edward Vera minta pamit, dia juga melarang Edward yang hendak mengantarnya.
__ADS_1
"Saya naik taxi saja, lagipula saya juga mau mampir ke rumah teman saya." Alasan Vera lalu pergi dari rumah Edward