Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Kamu sudah bahagia di sana


__ADS_3

Renata yang merasa terpukul atas kepergian Vera pun menemani jenazah Vera begitu pula dengan Edward,Ray dan juga Ilham, rencananya mereka semua akan bermalam di rumah duka.


Hari semakin larut Renata pun tertidur di samping tubuh kaku Vera.


Renata bermimpi bertemu Vera tampak Vera sangat bahagia dengan anak kecil.


"Vera," panggil Renata


Dalam mimpi Renata Vera memakai baju putih dan dia menggandeng seorang anak yang juga memakai baju putih.


"Renata," sahut Vera dengan wajah yang terlihat bahagia


"Ayo kita pulang Vera, anak kita menanti kita," kata Renata


"Tempatku di sini sekarang, jaga baik-baik anak kita. Aku disini juga bersama anakku," timpal Vera


Vera terus berjalan dengan akan kecil yang digandengnya dan mereka hilang bersama kilatan cahaya.


"Veraaaaaaa," teriak Renata yang membangunkan semua orang.


Edward yang mendengarnya langsung mendekati Renata


"Ada apa sayang?" tanya Edward


"Aku bermimpi Vera mas, dia nampak bahagia bersama seorang anak," jawab Renata


Ilham yang mendengarnya pun tersenyum


"Anak kami," sahut Ilham


Edward dan Renata menoleh ke Ilham,


"Apa maksudnya Ilham?" tanya Edward


"Dulu Vera adalah istri saya pak, kami sempat memiliki anak namun anak kami telah meninggal, mungkin dalam mimpi ibu Renata anak kecil yang bersama Vera adalah anak kami," jawab Ilham


"Dan maafkan aku telah menghancurkan rumah tangga kalian," timpal Ray


Edward dan Renata sangat nampak bingung, bagaimana bisa Vera terlibat dengan sahabat dan asistennya tersebut.


"Dunia memang sempit, di manapun kami berada bayang-bayang masa lalu selalu mengikuti," kata Ray


Keesokan harinya sebelum penguburan jenazah Ray pamit pulang untuk mengganti pakaiannya.


Setelah di rumahnya Ray ikut sarapan sebentar lalu ganti pakaiannya karena dia akan ikut proses pemakaman Vera.


"Kamu baru pulang Ray?" tanya mama


"Iya ma, semalam menginap di rumah Edward," jawab Ray

__ADS_1


"Kak Ray semakin gencar ni deketin Vera," sahut Leo yang belum tau kalau Vera meninggal


Ray menatap kesal wajah adiknya


"Sembarangan, Vera meninggal tadi malam jadi aku ikut menunggui jenazahnya bersama Ilham," ucap Ray


Rara dan Leo serta mama kaget, terlebih Rara. Seketika bulir-bulir air mata Rara jatuh


"Innalilahi," ucap Rara


"Kok bisa kak?" tanya Leo tak percaya karena beberapa hari yang lalu dia baru saja bertemu Vera


"Semalam Vera melahirkan dan dia meninggal," jawab Ray


Rara mengajak Leo untuk datang ke rumah Edward,


Leo, Rara dan Ray pergi bersama ke rumah Edward.


Rara terduduk lemas saat melihat jenazah Vera yang tersenyum dengan tenang.


"Subhanallah Vera, kamu meninggal dengan husnul khotimah. Semoga kamu ditempatkan di tempat yang terindah Vera," gumam Rara


Rara duduk di sebelah Renata,


"Dia cepat sekali perginya Ra," kata Renata


"Kamu benar, bahkan dia pergi dengan sangat tenang," timpal Renata


Para tetangga sudah datang dengan membawa keranda, Jenazah Vera akan di bawa ke masjid untuk di sholati setelah itu segera dikebumikan.


Rara dan Renata menabur bunga di atas pusara Vera, begitu pula dengan Leo, Ilham, Ray dan Edward.


Edward nampak menjatuhkan air matanya.


Di bawah batu nisan ini, kamu sandarkan kasih sayang kamu begitu dalam, sungguh aku kini merasa kehilangan dirimu Vera. Dan inilah saat terakhir ku melihat kamu, jatuh air mata ini melepas kepergian mu, selamat tinggal Vera. Akan aku jaga anak kita hingga kelak dia akan menjadi anak Sholeha," batin Edward sambil mengusap air matanya.


"Selamat jalan Vera," kata Ilham dan Leo barengan.


"Sempat aku merasa jijik padamu dan sempat pula aku tertarik padamu. Selamat jalan Vera tenanglah di alam sana, doaku bersamamu," ucap Ray


Mereka berenam saling diam mendoakan Vera, hari semakin panas mereka berenam memutuskan untuk pulang.


Hari cepat berlalu, Edward memanggil dokter anak dari berbagai negara untuk merawat buah hatinya.


"Jika kalian tidak sanggup menstabilkan kondisi anak saya, surat ijin rumah sakit ini aku pastikan akan aku cabut sehingga kalian semua akan pengangguran," ancam Edward para kepala dokter yang menangani anaknya.


"Jangan seperti itu pak, kita nggak tau nasib bayi bapak bagaimana entah sanggup bertahan apa tidak," kata salah satu dokter yang membuat Edward marah.


Seketika tangan Edward menarik kerah baju dokter tersebut

__ADS_1


"Saya sudah kehilangan ibunya, aku tidak akan membiarkan pengorbanan istriku sia-sia!" seru Edward


Ilham mencoba menenangkan Edward,


"Sabar pak Sabar, mereka pasti bisa menyelamatkan anak pak Edward," kata Ilham


Edward melepaskan tangannya dari kerah baju dokter,


"Apa kamu tidak tau pengorbanan Vera dalam melahirkan anak kami, mana mungkin aku membiarkan anakku pergi, apapun akan aku lakukan untuk keselamatan anakku," kata Edward dengan nada yang tinggi


"Saya tahu pak, tapi kita nggak boleh menanggapinya dengan emosi, kita serahkan saja pada mereka dan berdoa supaya anak pak Edward baik-baik saja," sahut Ilham


Setelah berbicara dengan tim dokter yang menangani anaknya, Edward dan Ilham pergi ke ruang dimana anaknya di rawat.


Edward menitikkan air matanya, dia sangat sedih melihat bayi kecilnya dengan berbagai alat yang menempel di tubuh mungilnya


"Sayangnya papa, apa kabarnya? pasti baik kan? Cepatlah sembuh sayang, papa dan mama sudah tidak sabar ingin menggendong kamu sayang," kata Edward yang membuat Ilham tersentuh


"Dia akan segera pulih pak, saya yakin itu. Pengorbanan Vera tidak akan sia-sia," hibur Ilham


Setelah puas mengunjungi buah hatinya Edward dan Ilham kembali ke kantor,


Selama perjalanan ke kantor Edward nampak sedih, berkali-kali dia menghapus air matanya.


"Apa yang bapak pikirkan?" tanya Ilham


"Jika anak kamu sampai tidak tertolong aku akan sangat menyesal, aku sudah kehilangan Vera selanjutnya aku bisa kehilangan Renata," jawab Edward dengan pandangan ke luar jendela


"Positif thinking pak, saya yakin anak bapak pasti selamat" hibur Ilham


"Kamu yakin sekali Ilham," kata Edward lalu menatap Ilham


Ilham hanya tersenyum dengan pandangan lurus ke depan.


Di rumahnya Renata masuk dalam kamar Vera, dia mengingat kenangannya bersama Vera.


"Kamar ini selamanya akan menjadi kamarmu Vera bahkan aku berencana memindahkan kamar bayi kita kesini, supaya jika kamu datang ke kamarmu kamu akan melihat anak kamu tidur di sini," gumam Renata


Air matanya lolos kembali mengingat Vera, mengingat apa yang dilakukannya pada Vera.


Renata merebahkan dirinya di tempat tidur Vera hingga matanya pun terpejam.


Lagi-lagi dia bermimpi bertemu Vera, dan Vera selalu nampak bahagia. Vera menatap Renata sambil tersenyum.


Lalu dia terbangun


"Vera, kamu sangat bahagia di sana sedangkan aku disini masih bersedih akan kepergian mu seolah aku tak ikhlas dengan takdir kamu," gumam Renata


Puas merebahkan dirinya di bekas kamar Vera, Renata keluar lalu ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2