
Leo bergegas ke meja makan untuk mengambilkan makanan untuk Rara namun sekitar lima langkah Leo berjalan Rara memanggilnya
"Mas,"
Leo pun berhenti dan membalikkan badannya,
"Apa sayang?" tanya Leo
"Aku nggak mau makan makanan yang tersedia di rumah mas," jawab Rara dengan menatap Leo
"Lalu?" tanya Leo lagi
"Aku ingin makan yang seger-seger mas," jawab Rara
Mama yang melihat Rara sedikit tidak enak pun melempar pertanyaan pada Rara
"Kamu mau rujak ta Ra?" tanya mama
Rara menggelengkan kepala, sehingga Leo mendekatinya dan berbisik
"Bakso?" terka Leo
Rara mengangguk, dan berkata
"Iya mas, aku mau bakso jumbo yang berisi telur ayam, trus ada tahu bakso dan somay." Dengan jelas Rara mengutarakan keinginannya
Mama dan Leo saling pandang, mereka tersenyum mendengar keinginan Rara.
"Tapi aku maunya yang makan di tempat mas," imbuh Rara
"Kamu kan nggak boleh capek sayang, biar art yang membelikan baksonya," kata Leo
"Nggak mau, aku maunya yang makan di tempat mas," sahut Rara
"Lihatlah ma kelakuan mantu mama." Leo mengadukan Rara pada mamanya
Rara yang merasa kesal memandang Leo dengan lekat,
"Nggak boleh ya sudah," kata Rara kesal
Mama yang merasa nggak enak memilih kembali ke kamarnya,
"Turutilah Leo, kasian kan perut Rara lapar," ucap mama lalu beranjak
Leo yang tidak bisa melihat Rara ngambek akhirnya mengikuti kemauan istrinya.
"Ya sudah tunggu sini," kata Leo lalu dia mengambil kunci mobil di kamar tak lupa mengambilkan jaket untuk Rara.
Rara sempat protes namun Leo tidak menggubris ucapan Rara
"Aku sudah menuruti kemauan kamu sayang, jadi please jangan membantah." Kata Leo lalu melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Rara terdiam begitu pula dengan Leo, mereka berdua sama-sama kesal dengan kekerasan kepala mereka masing-masing.
Setelah sampai Rara mematung di tempat duduknya, Leo menoleh ke arah Rara dengan menghela nafas.
__ADS_1
" Kamu marah?" tanya Leo
Rara hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Leo,
"Aku melakukan semua ini karena aku cemas dan mengkhawatirkan keadaanmu sayang, aku nggak mau hal buruk terjadi padamu maupun anak kita." jelas Leo
Mendengar kata-kata Leo membuat Rara memandang suaminya
"Aku tahu dan paham mas, tapi jangan lebay seperti ini, kita hanya membeli bakso bukan mau ke daerah kutub, lihatlah kamu menyuruhku memakai jaket dan sweater. Kenapa nggak sekalian kamu menyuruhku memakai sepatu boot," keluh Rara
Leo pun mengalihkan pandangannya, lalu dia melepas jaket serta sweater yang tadi ia pakaikan
"Maafkan aku, sekarang terserah kamu lah sayang. Kalau sikap khawatirku malah membuatmu nggak nyaman," ungkap Leo lalu dia keluar mobilnya
Leo membukakan pintu mobil lalu membantu Rara untuk turun. Leo yang masih kesal dengan Rara diam tanpa mengeluarkan suara.
Leo memesankan bakso sesuai yang diinginkan Rara, selepas itu dia kembali ke tempat duduknya.
Rara yang merasa Leo marah padanya pun menangis.
"Kenapa kamu begitu sih mas, aku hanya ingin makan bakso, kenapa kamu malah marah padaku," kata Rara
Mendengar tangisan Rara, para pengunjung menoleh ke arah Leo dan Rara.
"Sayang, sudah dong nangisnya. Maafkan aku sayang, aku janji nggak akan membuat kamu kesal lagi," hibur Leo
"Nggak kamu pasti selalu marah padaku mas," sahut Rara
"Lihatlah kamu dilihatin orang-orang apa nggak malu." Leo mencoba membujuk Rara
Begitu pula dengan Leo dengan lahap dia memakan bakso di depannya.
"Baksonya enak ya mas, boleh aku nambah?" tanya Rara
"Aku juga mau nambah sayang," jawab Leo
Dia pun berdiri memanggil pelayan untuk memesan bakso lagi.
Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan bakso kedua mereka.
"Duh kenyang nya mas," kata Rara yang membuat Leo gemas, saking gemasnya dia mengacak-acak rambut Rara.
"Ya sudah pulang yuk," ajak Leo
"Ayok mas," sahut Rara
Kini mobil mereka sudah meninggalkan resto tempat mereka makan.
"Mas maafkan aku ya mas," kata Rara dengan sedih
"Maafkan aku juga ya sayang," sahut Leo
"Aku mas yang salah," ucap Rara lagi
"Aku sayang," sahut Leo
__ADS_1
Mereka berdua saling berebut maaf dan lagi-lagi Leo yang harus mengalah.
"Mas bolehkan aku meminta sesuatu?" tanya Rara
"Boleh, apa sayang?" tanya Leo balik
"Bisakah kamu memperlakukanku sewajarnya saja, aku ini hamil mas bukan sakit. Aku sangat senang kamu perhatian namun jika kamu over aku bisa stres," jawab Rara
Leo memandang Rara dengan lekat tanpa bersuara, Leo hanya menanggapi permintaan Rara dengan mengangguk lalu memfokuskan pandangannya ke depan.
************
Vera kini sudah menjadi istri kedua dari Edward, namun Edward masih belum mau menyentuh Vera.
"Apa karena aku mantan wanita malam sehingga kamu nggak mau menyentuhku mas," tanya Vera
"Aku sangat mencintai Renata, mana mungkin aku tega menduakannya," jawab Edward
"Lalu untuk apa kamu menikahi aku, lakukan saja kewajiban mas supaya aku cepat hamil setelah itu aku akan pergi. Aku nggak mau merusak atau menjadi orang ketiga diantara kalian, sudah cukup apa yang terjadi padaku." Kata Vera
Edward nampak berfikir, dia sungguh dilema.
Renata yang baru keluar kamar nampak tersenyum pada Vera,
"Bagaimana Vera, apa kamu sudah hamil?" tanyanya
"Belum" jawab Vera
Renata nampak sedih, kenapa Vera belum juga hamil.
"Renata, maafkan aku," kata Vera
Renata mencoba tersenyum, meski hatinya sangat sakit.
"Kita serahkan saja pada yang di atas ya Vera, semoga kamu cepat diberi momongan," sahut Renata
"Kamu benar Renata," timpal Vera
********
Sudah sebulan Ilham menganggur semenjak dipecat oleh Leo dia hanya menyesali semuanya. Mamanya terus mensupport nya namun Ilham terus saja menikmati penyesalan yang seolah tiada bertepi.
Mama Ilham sudah mendapat kabar tentang kehamilan Rara dari keluarga Rara, disisi lain beliau sangat senang namun di sisi lain mama Ilham sedih seandainya dulu Ilham sabar mungkin kini Rara yang mengandung cucunya.
"Sampai kapan sih Ilham kamu begini terus nak," ucap Mama sambil menyapu teras
Ilham yang mengopi di teras tersenyum mendengar kata-kata mamanya.
"Rara sudah bahagia Ilham, apalagi sekarang dia sudah mengandung jadi lupakan Rara, begitu pula dengan Vera, jangan dendam berlebih padanya." Mama Ilham memberhentikan aktivitasnya lalu duduk di samping Ilham.
Ilham membulatkan matanya, dia tak percaya kalau Rara hamil, padahal dulu dia menganggap Rara itu mandul.
"Kenapa Tuhan mempermainkan Ilham ma," kata Ilham dengan lemas
"Bukan Tuhan yang mempermainkan kamu namun kamu yang kurang bersyukur, dikasih enak masih kurang enak, dikasih Rara masih mencari Vera kalau sudah begini bagaimana? kini mereka semua telah meninggalkanmu," ucap mama
__ADS_1
Ilham hanya diam, lagi-lagi penyesalan menggerogoti dirinya.