
Dari pihak Leo bertanya apakah pihak Rara menerima Leo untuk menjadi pendamping Rara?
Pihak Rara bertanya pada Rara yang berada di kamarnya dan Rara menyahut dari dalam kamar jika dia menerima Leo.
Pihak dari Leo sangat senang, setelah acara serah-serahan selesai pihak Leo pamit undur diri.
Dalam perjalanan pulang, terjadilah obrolan di mobil
"Kamu kenapa Le, kok cemberut saja," goda Ray
"Dua hari aku nggak ketemu Rara," jawab Leo
"Astaga Leo, sabar nak," sahut mama
Ray dan Mama lagi-lagi menggelengkan kepala, tidak ada Leo yang dewasa dan tegas, yang ada Leo yang seperti anak kecil.
"Pesona Rara sungguh luar biasa ma, dia mampu merubah Leo menjadi anak kecil." Ray memecah keheningan diantara mereka
"Iya ya Ray, haduh Leo, Leo." Mama memegang kepalanya
Rombongan mama dan rombongan saudaranya berpisah, mereka menuju rumah masing-masing.
Hari cepat berlalu hingga satu demi satu ritual selesai hingga besok adalah hari pernikahan Rara dan Leo.
"Sayang, aku sungguh nggak sabar menunggu besok dari tadi jam dinding nggak bergerak, masa iya dari tadi jam sembilan nggak naik-naik." Leo menggerutu dalam panggilan telponnya
"Astagfirullah mas, mas. Setelah besok kita akan selalu bersama," sahut Rara
"Aku pengennya setelah aku telpon pagi datang," timpal Leo
"Karepmu dewe mas, onok-onok ae. Gak ISO bayangno pas malam pertama Karo sampean." imbuh Rara
(Seenaknya sendiri mas, ada-ada saja. Nggak bisa membayangkan saat malam pertama bersamamu.)
"Kamu pasti ketagihan sayang, pasti kamu menjerit, mendesah. Aarrrggg aku jadi nggak sabar," teriak Leo frustasi
Rara hanya tertawa di seberang panggilannya, saat asik mengobrol, mama masuk.
"Kamu ngapain Le, senyam senyum sendiri?" tanya mama
"Ni ma, Bayangin pas malam pertama," jawab Leo
"Astaga Leo, kamu c*a*b*u*l sekali nak," sahut mama
Saat Leo menata ponselnya terlihat Rara di layar ponsel Leo.
"Kalian kan dipingit kenapa melakukan Video call?" tanya mama
"Kan dipingit nya di dunia nyata ma, masa iya ada pingit dunia maya atau online," jawab Leo sambil terkekeh
Mama hanya bisa menggeleng-geleng kan kepala, sungguh pusing dengan sikap Leo.
__ADS_1
"Ya sudah lanjut kencannya mama mau keluar dulu, setelah kencan online nya selesai, nyusul mama ke kamar ya?" Mama berjalan keluar kamar Leo
"Siap ma," kata Leo sedikit berteriak
Leo melanjutkan obrolan mereka yang terjeda karena ada iklan lewat yaitu mama.
Lama mengobrol hingga lupa waktu, Leo yang sudah mengantuk merebahkan dirinya di tempat tidur dan baru sebentar saja dia sudah terlelap.
Rara yang melihat Leo tertidur pun tersenyum, nampak wajah Leo yang lelah.
"Good night my husband," ucap Rara lalu mencium layar kaca ponselnya
Karena sayang mematikan ponselnya Rara membiarkannya tetap menyala supaya dia bisa tidur online dengan Leo.
Malam berganti dengan cepat, rembulan pamit undur diri untuk bertugas di wilayah bumi yang lain, kini tugas rembulan digantikan oleh Sang mentari.
Jam empat Rara sudah di bangunkan oleh ibunya. Sang ibu kaget melihat ponsel Rara yang masih menyala dengan Leo yang sedang tidur di layarnya.
"Anak muda jaman sekarang, tidur pun ingin bersama meskipun jarak memisahkan," gumam ibu
Ibu duduk di tepi ranjang Rara dengan pelan dia membangunkan anak semata wayangnya tersebut
"Nduk, bangun." Tangan ibu menggoyang tubuh Rara
"Bentar Bu, Rara masih mengantuk," protes Rara dengan mata yang masih terpejam.
Ibu tak putus asa dia menggoyang tubuh Rara Sekali lagi dan akhirnya Rara bangun.
"Sana ambil wudhu, lalu lakukan kewajiban kamu nduk setelah itu kamu dirias," suruh ibu
Seusai nya para perias masuk ke dalam kamar Rara
"Mbak dapat orang mana?" tanya perias pengantin berbasi-basi
"Surabaya mbak," jawab Rara
"Deket mbak, acaranya jam berapa?" tanyanya lagi
"Jam sembilan acara ijab qabulnya mba, jadi kalau bisa jam tujuh harus sudah selesai semua," jawab Rara
Ibu dan ayah serta tetangga yang membantu menyiapkan kue yang akan dibawa ke rumah Leo.
Acara Ijab Qabulnya serta resepsi diadakan di rumah Leo.
Sedangkan resepsi khusunya diadakan di hotel bintang lima, dengan konsep indoor.
Disisi lain Leo masih molor, dia semakin erat memeluk guling nya. Mama yang belum mendapat tanda-tanda Leo bangun menyuruh Ray untuk membangunkan adiknya.
"Ray coba bangunkan adikmu, sudah jam lima masih saja belum bangun. Dia jadi nikah apa tidak sih," mama kesal dengan Leo
"Siap ma," sahut Ray lalu masuk kamar Leo.
__ADS_1
Melihat Leo yang memeluk guling dengan erat, Ray punya ide untuk mengerjai adiknya.
"Leo bangun, pengantin wanitanya sudah kesini," kata Ray dengan menahan tawa
Tanpa aba-aba Leo beranjak dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi.
Leo yang setelah mandi melihat jam tangannya dan benar saja Ray berhasil mengerjainya.
"Kak Ray," teriak Leo
Perias Leo menunggunya di kamar tamu, Leo dan Rara sama-sama mengenakan baju warna putih untuk Ijab Qabulnya.
Mama dan Ray sama-sama dirias, Ray memakai setelan jas warna putih tulang sedangkan mama memakai kebaya warna putih juga.
Seusai dirias nampak wajah Leo dan Ray yang sangat tampan sampai mereka membuat perias melamun sambil menatap kedua manusia tampan di depannya.
"Le bagaimana kalau posisimu aku gantikan," goda Ray
"Langkahi dulu mayat ku kak," sahut Leo
"Aku hanya bercanda Le, kamu serius sekali," timpal Ray
" Lagipula kak Ray bercandanya seperti itu," timpal Leo kesal
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan, iringan pengantin wanita pun datang. Leo yang awalnya tenang kini merasa gugup, Ray yang tau menepuk bahu Leo.
"Tarik nafas, jangan gugup biar lancar Ijab Qabulnya," kata Ray
Penghulu sudah datang, Rara duduk didepan penghulu menunggu Leo.
Akhirnya Leo datang dengan Ray,
Dengan rasa gugup Leo duduk samping Rara, saat menatap Rara, Leo sangat takjub dengan kecantikan Rara.
"OMG sayang, kamu cantik sekali," puji Leo dengan mata yang tak mau lepas dari wajah Rara
"Bagaimana pak, bisa di mulai sekarang?" tanya pak penghulu
Leo masih saja menatap Rara sehingga membuat Ray menepuk bahunya,
"Fokus pada Ijab Qabulnya bukan fokus pada Rara," bisik Ray
Leo yang tersadar dari lamunannya terkekeh dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia meminta pak penghulu dan ayah Rara menikahkannya.
"Sudah siap Le?" tanya Ayah
"Insha Allah yah," jawab Leo
Ayah menjabat tangan Leo lalu mengatakan Ijab dengan lantang.
Leo juga tak mau kalah dengan ayah mertuanya, dia juga mengucapkan Qabul dengan lantang.
__ADS_1
"Bagaimana? Sah?" tanya pak penghulu
"Sah, sah, sah" sahut semua orang yang menyaksikan.