
Vera sedikit tersentuh dengan kata-kata Edward yang bilang kalau dia adalah istrinya, tak terasa air matanya pun leleh.
Edward dan rekan kerjanya saling membogem sehingga membuat petugas keamanan datang untuk melerai mereka.
"Tuan-tuan kalau anda ingin berkelahi jangan di sini," omel petugas keamanan restoran tersebut
Edward dan rekan kerjanya saling membenahi baju mereka masing-masing.
"Kerja sama kita batal Edward dan ingat kamu pasti akan menyesalinya, gara-gara wanita malam ini kamu telah merusak kerja sama yang telah lama terjalin," kata rekan kerjanya
"Dia bukan wanita malam, dia adalah istriku," sahut Edward
"Istri yang kamu pungut di tempat hiburan malam, cih! bagiku sama saja dia tetap wanita malam," timpal rekan kerjanya
"Aku tak perlu pendapatmu," sahut Edwar yang membuat rekan kerjanya pergi dengan kesal
Suasana sudah normal kembali para pengunjung lain kembali ke makanan mereka masing-masing yang sebelumnya sempat fokus ke Edward dan rekan kerjanya.
Edward mendekati Vera yang menangis, lalu Edward menenangkannya.
"Jangan pikirkan omongan orang lain, yang terpenting sekarang kamu mau berbenah untuk menjadi yang lebih baik," hibur Edward
Jauh di tempat duduk mereka, Renata telah mengetahui kenyataannya kalau Vera adalah seorang wanita malam namun Renata tidak mempermasalahkan hal tersebut karena bagi Renata, Vera adalah penolongnya.
Renata berjalan mendekat dan berpura-pura tidak tau,
"Ada apa mas, kenapa Vera menangis?" tanya Renata
"Nggak papa kok sayang, ini Vera sakit perut katanya. Bagiamana kalau kita pulang," jawab dan pinta Edward pada Renata
Renata membantu Vera berjalan, setelah di mobil dia membaringkan Renata di jok tengah mobilnya.
"Jalannya hati-hati ya mas," pinta Renata
Edward mulai melajukan mobilnya, dia menuruti keinginan istrinya untuk melajukan mobilnya dengan pelan.
Setelah di rumah, Renata menyuruh Vera untuk istirahat.
"Istirahat lah Vera, ibu hamil harus banyak-banyak istirahat dan nggak boleh stres," pesan Renata lalu dia keluar dari kamar Vera
"Aku sungguh beruntung memiliki saudara sepertimu Renata," batin Vera dengan menatap punggung Renata yang hilang di balik pintu
Renata menyusul Edward di kamar, dia ikut merebahkan dirinya di tempat tidur samping Edward
"Mas, kamu bisa nggak jangan terlalu cuek pada Vera, dia mengandung anak kita lo," kata Renata membuka omongan
"Aku sama sekali tidak mencintainya sayang, bagaimana bisa kamu menyuruhku perhatian padanya," ungkap Edward
Renata menggeleng "Bukan begitu maksud aku mas, curahkanlah sedikit perhatian kamu padanya. Ini semata-mata demi anak yang ada di dalam kandungannya. Awal perkembangan anak di mulai saat dia berada dalam kandungan kalau ayahnya tidak mau perhatian padanya bagaimana dia bisa tumbuh dengan sempurna," jelas Renata yang membuat Edward manggut yang berarti dia paham
__ADS_1
Edward merubah posisinya dari rebahan menjadi duduk dengan bersandar pada kepala ranjang.
"Baiklah sayang, akan aku coba namun ingat ini demi anak kita bukan demi Vera," sahut Edward lalu merentangkan tangannya mengkode Renata supaya masuk dalam pelukannya.
Renata masuk dan memeluk Edward begitu erat, meski sakit namun dia akan bertahan ini demi rumah tangganya walaupun dia harus egois pada Vera dengan mengambil anaknya nanti.
************
Hari Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh orang yang memiliki rutinitas setiap harinya, karena hari Minggu adalah hari dimana mereka bisa menghabiskan waktu bersama keluarga begitu pula dengan Rara maupun Leo.
"Mas aku mau sarapan ma yang seger-seger," kata Rara
"Yang seger-seger tu apa sayang?" tanya Leo
Ray menyahut dari belakang
"Rujak, buah, es, tu yang seger-seger,"
Ray menarik kursinya lalu ikut bergabung bersama adik dan adik iparnya.
"Lo kak Ray kapan pulang?" tanya Rara
"Kemarin malam Ra, aku kangen sama mama dan juga kalian," jawab Ray dengan tangan yang sibuk mengambil makanan
"Nggak boleh kangen ma Rara kak," sahut Leo
Ray menatap Leo, dia pun punya niatan untuk menggoda adiknya yang posesif tersebut.
"Kenapa sih kak Ray nggak cari jodoh saja daripada berharap ma jodohku," gerutu Leo
"Aku belum menemukan wanita seperti adik ipar ku ini," sahut Ray
Ray pun tertawa lepas melihat ekspresi adiknya yang sangat kesal. Saat bersamaan datanglah mama yang hendak sarapan juga
"Kamu suka sekali sih Ray menggoda adikmu, apa kamu nggak lihat wajahnya sudah merah," kata mama
Ray hanya tersenyum begitu pula dengan Rara. Setelah selesai makan Rara meminta Leo untuk mencarikan mangga di samping rumahnya.
"Nanti biar supir mama yang memanjat sayang," ucap Leo
Rara menggeleng karena bukan seperti itu maksudnya, "Aku mau mas Leo yang memanjat," suruh Rara
Leo pun melemas karena dia tidak pernah memanjat pohon.
"Aku nggak bisa memanjat pohon sayang, bagaimana kalau kak Ray yang mengambilkan mangga untukmu." Leo memberi ide
Ray membulatkan matanya, bagaimana bisa Leo merekomendasikan dirinya untuk memanjat pohon mangga.
"Nggak, itu anak siapa yang disuruh manjat siapa," tolak Ray
__ADS_1
"Ayolah kak Ray, kan dia juga keponakan kak Ray." Leo memohon pada Ray
"Kalian berdua manjat bersama ya," sahut Rara
Mama hanya tertawa melihat kelakuan tiga orang di depannya,
"Sudahlah turuti saja Le, Ray . Hanya memanjat mangga apa sih susahnya," sahut mama
Dengan menghela nafas Ray dan Leo menuruti keinginan Rara untuk memanjat pohon mangga
"Le, jangan sampai ada yang tahu kalau kita manjat pohon mangga, apa kata dunia coba Presdir Ray Corp memanjat pohon mangga," bisik Ray
"Benar kak, aku juga apa kata semesta jika tau seorang pimpinan perusahaan yang terkenal memanjat mangga," sahut Leo
Rara yang melihat Ray dan Leo berbisik-bisik pun kesal, lalu dia meneriaki Ray maupun Leo
"Apa sih yang kalian lakukan, kenapa nggak manjat manjat, keburu ngiler ni aku,"
"Sabar dong sayang, aku dan kak Ray berdoa dulu supaya penunggu pohon mangga nya nggak mencelakai kita," alasan Leo
Rara dan mama menggeleng-geleng kan kepala, ada-ada saja kedua anaknya ini.
"Kamu dulu Le," kata Ray
"Kak Ray dulu," sahut Leo
Mereka terus berdebat sehingga nggak naik-naik pohon mangga,
"Mama mas Leo dan kak Ray kok malah berdebat sih, aku keburu lapar." Kata Rara manja pada mertuanya
"Kedua anak itu bener-bener membuat emosi mama meluap-luap," sahut mama
Mama dan Rara menghampiri Leo dan Ray, mereka masih berdebat siapa yang harus naik dulu.
"Ada apa lagi sih ini?" tanya mama
"Ini ma kak Ray nggak mau naik duluan." Leo mengadu pada mamanya
"Ini ma Leo, kan itu anaknya seharusnya dia naik duluan." Ray nggak mau kalah
"Kalian suit saja, siapa yang kalah bearti naik dulu," Mama mencoba memberi solusi
Leo dan Ray pun melakukan suit, dan ternyata Leo yang menang.
"Ini sebenarnya anak siapa sih," keluh Ray
"Keponakan siapa sih," sahut Leo
Ray pun memanjat duluan baru di susul Leo.
__ADS_1
"Tinggal manjat saja kok susah amat," celoteh mama.