
Leo mencium bau-bau marah dari Rara lalu dia pun melepas pelukannya dan menangkupkan tangannya di wajah Rara.
"Kamu marah sayang?" tanya Leo
"Nggak mas, kenapa aku harus marah," jawab Rara bohong dengan senyum yang dipaksakan
"Sayang, aku cukup tau dirimu kalau kamu nggak marah kami nggak kan bersikap seperti ini," sahut Leo
Rara hanya terdiam lalu dia duduk di sofa dan menghidupkan ponselnya
"Aku tadi hanya pergi mencari referensi mas soalnya aku mau buat resep baru," timpal Rara dengan berbohong lagi
Leo ikut duduk di sofa, tanpa Rara meminta Leo menjelaskan semua pada Rara.
"Aku baru nyampe Surabaya jam enam pagi, jam delapan harus bertemu klien sehingga aku bersiap dari rumah lalu ke kantor, karena terburu-buru aku lupa tidak membawa ponselku sayang sehingga tidak menghubungimu. Wanita yang kamu lihat tadi adalah klienku yang tak lain adalah teman semasa kuliah dulu." Leo menjelaskan semua tanpa ada yang dikurangi maupun ditambahi
"Maafkan aku mas," kata Rara dengan lirih
Leo memeluk Rara lagi, begitu pula dengan Rara yang sudah mau menerima pelukan dari Leo
"Kata orang-orang tua, ketika orang akan menikah itu cobaannya banyak, jadi kita harus saling mengerti satu sama lain. Aku senang kalau kamu cemburu yang artinya kamu mencintaiku namun aku mohon tanyakan dulu, jangan langsung menarik kesimpulan sesuai pemikiran sendiri," kata Leo
Rara hanya mengangguk, dia semakin mempererat pelukannya pada Leo.
Rara menyesal yang langsung menyimpulkan kalau Leo sama seperti Ilham.
"Aku kangen dan cemas padamu mas, nggak biasanya kamu seperti ini," bisik Rara
"Iya sayang, maafkan aku ya," sahut Leo lalu mengecup pucuk kepala Rara
"Please forgive me," imbuh Leo
"Forgive me too mas," sahut Rara.
Setelah acara maaf-maafannya selesai, Leo dan Rara makan bersama karena mereka tadi belum sempat makan siang.
*******
Hari-hari berlalu sangat cepat, tak terasa kurang seminggu lagi Leo dan Rara menikah. Leo dan Rara semakin di sibukkan dengan urusan mereka, baik Rara maupun Leo menyerahkan pekerjaan pada anak buah mereka.
"Mas aku pulang sendiri apa kamu antar?" tanya Rara
"Aku antar dong? mana tega aku membiarkan calon istriku pulang sendirian," jawab Leo
"Ya sudah," sahut Rara
Saat hendak berangkat Leo mendapatkan panggilan dari dealer, pihak dealer bilang kalau mobil yang Leo pesan sudah datang.
"Sayang, aku antar kamu ke apartemen dulu ya, aku ada urusan mendadak nanti kalau sudah kelar kita pulang ke Sidoarjo," kata Leo
"Lebih baik aku tunggu di sini saja mas, sekalian aku bisa bantu-bantu karyawan melayani customer," sahut Rara
__ADS_1
"oh begitu, ya sudah terserah kamu saja sayang," timpal Leo
Leo pamit untuk pulang, di rumah sudah ada pihak dealer yang mengirim mobil pesanan dari Leo.
Sebuah mobil sport mewah bersimbolkan banteng warna merah.
Mama yang melihatnya ikut senang,
"Mobilnya bagus sekali Leo, cocok kalau Rara yang mengendarai mobilnya," puji mama
"Iya ma, untuk yang terkasih mobilnya harus istimewa," sahut Leo
"Jadi nanti bisa diajak balapan Rara nya," imbuh Leo yang membuat mama melemparkan tatapan tajamnya pada mama
Setelah serah terima barang Leo memasukkan mobil Rara ke garasi mobilnya. Dia nggak sabar menunggu seminggu lagi untuk memberikan mobil tersebut sebagai mas kawin.
Leo mengeluarkan mobil satunya,
"Kenapa di keluarkan Le?" tanya mama
"Ganti mobil ma, dari kemarin pake mobil ini," jawab Leo
"Terus kamu mau kemana?" tanya mama lagi
"Mau ke Sidoarjo ma, ngantar Rara," jawab Leo
"Anak kok nggak pernah di rumah, bentar-bentar menghilang," keluh mama dengan menatap anaknya
"Iya betah di rumah, tapi di kamar terus," sahut mama kesal lalu masuk ke dalam
"Love you ma," teriak Leo sambil melihat punggung mamanya yang masuk rumah
Leo segera kembali ke cafe Rara setelah itu mereka pergi ke rumah orang tua Rara.
Setelah sampai ibu dan ayah Rara menyambut mereka dengan senang.
"Kok baru pulang sih nduk?" protes ibu
"Iya Bu, Rara masih repot soalnya," jawab Rara
"Setelah hari ini kamu dipingit Lo nduk, gak boleh ketemu Leo dulu sampai menikah," kata ayah
Leo yang mendengar kata-kata ayah jadi kaget, bagaimana bisa dia tidak bertemu Rara selama seminggu.
"Kenapa begitu om," protes Leo
"Memang aturannya seperti itu Le," sahut ayah
Leo nampak frustasi tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kini waktunya Leo pulang, agak berat meninggalkan Rara apalagi dia harus di pingit.
"Adat apa-apaan sih ini, kenapa harus dipingit?" gerutu Leo
__ADS_1
"Hus mas, nanti kedengaran ibu dan ayah," sahut Rara
"Bisa mati aku nggak ketemu kamu selama itu," ucap Leo dengan lemas
"Mati ya dikubur, gitu aja repot," sahut Rara sambil tertawa
"Durhaka kamu sayang," timpal Leo kesal
Rara terkekeh melihat calon suaminya kesal, hanya nggak ketemu seminggu saja sudah seperti orang gila,
"Kan kita bisa melakukan VC mas," hibur Rara
"Nggak enak, gak bisa kiss," ucap Leo kesal
"Kiss nya ya secara online dong," sahut Rara dengan terkekeh
Leo melemas dengan jawaban Rara, dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya seminggu ke depan tanpa Rara.
Setalah selesai Leo pamit pulang, tak lupa dia mengecup kening Rara namun langsung saja mendapat lirikan maut dari ayah.
******
Ray yang sudah menyelesaikan pekerjaannya kembali ke Surabaya, dia nggak mau ketinggalan dalam setiap acara pernikahan adiknya.
Hari ini adalah hari serah-serahan, persiapan serah-sarahan untuk Rara sudah siap, mulai dari peralatan mandi, peralatan sholat, make up, baju, celana, daleman, seperangkat perhiasaan, sandal dan lain-lainnya.
"Ma doakan Ray ya supaya menyusul Leo," pinta Ray pada mamanya
"Selalu Ray, mangkanya kamu tu jangan bermain wanita akhirnya ya begitu nggak laku-laku," omel mama
Leo hanya tertawa mendengar omelan mamanya,
"Kak Ray memang ahli pangkal paha wanita ma, model wanita seperti apa pasti sudah dia nikmati," sahut Leo
"Pangkal paha wanita tu Enak Le, lagian itu kebiasaan di luar negeri dulu kalo sekarang udah jarang-jarang," timpal Ray
"Nggak laku soalnya, sudah tua," ejek Leo
"Heh, lihatlah kakakmu ini. Wajah masih Ok, berotot daripada kamu, loyo," ejek Ray balik
Mama yang mendengar anak2 berdebat menimpali
"Sudah-sudah jangan berdebat, ayo kita berangkat," suruh mama
Mereka semua berangkat tak lupa mama mengajak saudara-saudaranya untuk ikut memberi serah-serahan pada Rara.
Setelah sampai di rumah Rara, Leo menolehkan kepalanya kesana kemari untuk mencari Rara. Mama yang tau berbisik pada Leo
"Rara dipingit jadi nggak boleh keluar," kata mama
"Kenapa harus begitu sih ma, bisa gila aku kalau nggak ketemu Rara ma." Leo mengeluh
__ADS_1
Mama dan Ray hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Leo yang super ngebet.