
Hari ini Leo dan Rara bersiap untuk ke rumah Rara, karena keluarga Rara akan mengadakan syukuran kalau istilah jawanya adalah tingkepan. Ada juga adat Jawa yang melakukan ritual tingkepan saat janin berusia tujuh bulan.
Acara empat bulanan bertujuan untuk mendoakan si jabang bayi supaya sehat karena saat usia empat bulan malaikat ditugaskan untuk meniup ruh, mencatat rezeki, jodoh, mau dan jalan hidup si bayi.
Makanannya pun berbeda dengan acara syukuran pada umumnya karena di acara ini ada beberapa makanan yang wajib ada seperti Klepon, iwel-iwel, arem-arem dan lain-lainnya.
Tepat pukul sepuluh pagi Leo dan Rara sampai di Sidoarjo, mama Leo yang sedang tidak enak badan tidak bisa ikut.
"Assalamualaikum Bu," salam Rara saat sampai di rumah
Ibu dan ayah bergegas keluar lalu memeluk anak semata wayangnya tersebut.
"Suamimu ajak istirahat nduk," kata ibu
Sebelum ke kamar, Leo salim dulu dengan ibu dan ayah mertuanya setelah itu baru istirahat di kamar.
Ayah dan ibu mengundang orang-orang sekitar tak lupa orang tua Ilham pun diundang oleh mereka.
"Assalamualaikum," salam ibu Rara
"Waalaikum salam Bu, mari masuk," jawab mama Ilham
Saat bersamaan munculah Ilham yang baru pulang
"Eh ibu," sapa Ilham lalu menyalami mantan ibu mertuanya
"Ilham baru pulang ya nak?" tanya ibu lagi
"enggeh Bu, habis main dari luar," jawab Ilham
Ilham pun ikut nimbrung di ruang tamu,
"Jadi begini Bu, Ilham maksud kedatangan saya kemari mau mengundang kalian untuk hadir di acara syukuran di rumah kami," kata Ibu dengan menatap Mama Ilham dan juga Ilham
"Syukuran apa Bu?" tanya Ilham
"Syukuran untuk memperingati empat bulanan kehamilan Rara," jawab Ibu
Ilham sangat terkejut dengan apa yang dikatakan ibu Rara, bagaimana bisa Rara hamil padahal Rara saat bersamanya tidak mampu mengandung.
"Rara hamil Bu?" tanya Ilham seakan tidak percaya
"Iya Ilham, ibu juga nggak menyangka kalau dia akan hamil secepat ini. Dia hamil kembar pula," jawab ibu yang semakin membuat Ilham panas dan tampak bingung.
Karena sudah tidak ada yang dibicarakan Ibu Rara pamit pulang.
Ilham nampak sedih dan menyesal, lagi-lagi penyesalan menggerogoti jiwanya.
"Kamu kenapa Ilham?" tanya Mama
__ADS_1
"Ilham masih nggak percaya ma kalau Rara hamil, padahal dulu bersama Ilham dia tidak bisa hamil," jawab Ilham
"Bukannya tidak bisa tapi belum, kamu terlalu dini menyimpulkan Ilham selain itu kamu juga salah langkah." mama menasehati Ilham
"Lagi-lagi Rara membuat Ilham menyesal tak bertepi ma," sahut Ilham
"Sabar dan Ikhlas menerima semuanya, kesalahan masa lalu jadikan pembelajaran. Kini tatap masa depanmu meski tidak bersama Rara," nasehat mama lalu menepuk bahu Ilham dan masuk ke dalam.
Di rumah Rara ada beberapa kerabat Rara yang ikut membantu masak di rumah, Rara yang merasa nggak enak pun keluar untuk membantu namun sebelumnya terjadilah debat sengit antara dia dan Leo.
"Mas aku tak bantu-bantu ya?" tanya Rara minta ijin
"Jangan, nanti kamu pasti capek," jawan Leo dengan menolak permintaan Leo
"Kok gitu sih mas kan nggak enak sama ayah, ibu dan juga kerabat lain," kata Rara
"Ibu pasti mengerti sayang, sudahlah lebih baik kamu temani aku di sini," sahut Leo
"Aku menangis ni kalau nggak dibolehin bantu-bantu," ancam Rara
"Baiklah baiklah tapi jangan terlalu capek, nimbrung saja nggak usah ikut membantu," kata Leo dengan pasrah.
"Makasih mas," ucap Rara dengan mencium pipi suaminya
Setelah mengantongi Ijin dari Leo, Rara segera keluar sebelum Leo berubah pikiran. Di dapur Rara ikut membantu mengiris-iris bawang sambil
bercanda dengan sanak saudaranya.
Karena panik tangan Rara mengeluarkan banyak darah salah satu dari kerabatnya memanggil Leo
Leo segera datang ke dapur, dia mengusap darah yang keluar dengan tisu lalu meminta obat merah dan plester pada ibu.
Saat mengobati Rara, Leo tak henti-hentinya mengomel
"Aku bilang apa? ya gini kalau nggak nurut sama suami," omel Leo
"Kamu kok ngomel sih mas, tangan aku ini sakit kok malah diomeli," gerutu Rara
"Kan tadi aku udah nyuruh istirahat sih sayang? ngapain kamu keluar," sahut Leo sambil menghela nafas
Rara yang diomeli Leo pun menangis, bahkan tangisnya semakin kencang.
Leo yang nggak enak sama ibu dan ayah serta kerabat yang lain pun memeluk Rara dan berusaha menenangkannya.
"Sayang please, jangan nangis lagi ya. Janji aku akan menuruti keinginanmu," kata Leo
Seketika Rara berhenti menangis, lalu dia pun tersenyum licik.
"Baiklah," sahut Rara lalu berjalan mengembalikan kotak obat
__ADS_1
Leo yang gergetan sama Rara mengepalkan tangannya dengan menggigit giginya.
Saat bersamaan Rara membalik, sehingga dia tau aksi Leo
"Ngapain tu mas, nggak terima ta?" tanya Rara
"Nggak kok sayang, tanganku kram saja," jawab Leo berbohong.
Rara keluar lagi untuk mengobrol dengan ibu dan para kerabatnya sedangkan Leo memilih ke ruang tamu untuk mengobrol dengan ayah dan para sanak keluarga Rara.
"Bagaimana bisnis kamu Le,?" tanya salah satu kerabat di sana
"Alhamdulillah lancar mas," jawab Leo
Mereka mengobrol kesana kemari hingga tak sadar kalau hari semakin sore.
Leo dan Rara bersiap begitu pula dengan ibu ayah dan para sanak keluarga.
"Kamu cantik sekali sayang dengan baju ini," puji Leo sambil memeluk Rara dari belakang
"Aku pakai apa saja itu cantik mas, karena dulu kata ibu saat aku lahir leher aku terbelit plasenta dan mitosnya anak yang terbelit plasenta akan cocok memaki apapun," imbuh Rara
"Kalua aku mending kamu nggak pakai baju sayang,
aku sangat menyukainya," goda Leo
"Dasar otak ngeres kamu mas," ujar Rara lalu mencubit perut Leo
Leo pura-pura kesakitan untuk menarik perhatian Rara namun bukannya perhatiaan Rara malah meninggalkan Leo di kamar.
Tamu undangan pada berdatangan, setelah semua sudah datang acara pun segera dimulai.
Satu jam kemudian acara syukuran empat bulanan sudah selesai, Kini Leo dan Rara berkumpul dengan para kerabat untuk mengobrol
"Leo tampan sekali sih Ra," puji salah satu kerabat di sana
"Makasih mba," sahut Leo
Melihat Leo yang tersenyum dengan kerabatnya membuat Rara cemburu. Tangannya kini merangkul Leo lalu mencubit Leo dalam diam.
"Kok dicubit sih sayang, apa salahku?" tanya Leo
"Kamu jangan macam-macam mas," bisik Rara
Mereka semua yang tau tingkah Rara maupun Leo tertawa
Hingga canda tawa mereka harus berhenti, saat terdengar ucapan salam dari luar
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Waalaikum salam," jawab mereka yang mendengar
"Mas Ilham," panggil Rara