Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Batalkan saja pernikahannya


__ADS_3

Seusai makan Pras pergi entah kemana, dia juga tidak pamit pada Edward maupun Renata


"Anak itu seperti jelangkung saja, tiba-tiba datang dan pergi sesuka hatinya," gerutu Edward kesal dengan adiknya.


"Sudahlah mas, lagian Pras sudah besar." Renata menenangkan Edward yang kesal


"Nggak boleh gitu, memang dari dulu dia selalu seenaknya sendiri," sahut Edward


Renata hanya tersenyum, memang begitulah Edward karakternya berbeda jauh dengan Pras.


Pagi datang sangat cepat, Arini kini sudah siap untuk dirias, begitu pula dengan Ilham yang juga siap poles make up sedikit.


Acara Ijab Qabulnya dilaksanakan pada pagi hari pukul sepuluh yang digelar di salah satu masjid di area sekitar.


Satu jam kemudian Arini sudah siap dengan balutan


kebaya warna putih.


Arini menatap sekilas pantulan dirinya di cermin, "Sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri, lancarkan lah semua ya Rabb," gumam Arini.


Saat asik mengagumi dirinya, terdengar ponsel Arini berbunyi dan Pras yang memanggilnya, Pras meminta Arini menemuinya sebentar, karena ada yang ingin di sampaikan. Awalnya Arini enggan untuk menemui Pras namun Pras terus memohon.


Arini lewat pintu belakang untuk menemui Pras, dia masuk mobil Pras supaya tidak ada yang melihatnya.


Saat sudah masuk mobil Pras malah mengunci otomatis dan menyalakan mobilnya.


Wajah Arini memucat,


"Kita mau kemana mas?" tanya Arini dengan wajah tak karu-karuan


"Menikah," jawab Pras tanpa menoleh ke Arini


"Apa maksud kamu, sebentar lagi aku akan menikah dengan mas Ilham mas." Arini mengiba pada Pras


"Tidak, kamu adalah milikku," sahut Pras


Arini menangis, memohon dan meminta pada Pras supaya diantar pulang.


Pras tidak menggubris kata-kata Arini, dia terus saja melajukan mobilnya keluar kota Sidoarjo.


"Mas aku mohon mas," pinta Arini mengiba


Pras semakin melajukan mobilnya dengan cepat,


Keluarga Arini yang hendak berangkat mencari calon pengantinnya namun meraka tidak


menemukan Arini di kamarnya,


Ibu dan ayah Arini sangat shock, "Kamu dimana nak ,kenapa tiba-tiba menghilang," gumam ibu Arini


Disisi lain iringan dari pengantin pria sudah datang ke masjid.


Keluarga Arini terus mencari keberadaan Arini.


Sudah setengah jam Ilham menunggu Arini namun pengantinnya belum datang.


Ilham berkali-kali menghubungi Arini dan keluarganya namun tak ada jawaban.

__ADS_1


Ilham tersenyum, firasatnya mulai tak enak namun dia mencoba untuk menghalaunya


"Mungkin macet," batinnya mencoba menghibur dirinya sendiri.


Tak selang lama dia mendapat panggilan dari penghulunya kalau akan datang telat karena terjebak macet.


"Apa lagi ini," batin Ilham dengan hati tak karu-karuan. Hingga satu jam baik penghulu maupun pengantin pengantinnya belum datang.


"Arini mana Ilham?" tanya mama


"Mungkin dalam perjalanan ma," jawab Ilham


Mama dan Papa Ilham mulai khawatir, apalagi tamu sudah mulai protes.


Edward dan Renata datang, mereka kaget kenapa acara belum dimulai.


"Maaf Ilham kami baru datang, aku kira acaranya sudah selesai," kata Edward


"Belum Pak, pengantin perempuan dan penghulunya belum datang," sahut Ilham


Keluarga Arini heboh dengan menghilangnya Arini, Ibu nya sempat pingsan.


"Arini kamu jangan buat kami malu nak," gumam ibu


Leo dan Ray juga datang setelah kedatangan Edward dan Renata.


"Dilihat dari raut wajah Ilham, terlihat dia ada problem kak," terka Leo


"Kelihatannya Le, lihatlah calon wanitanya nggak ada, apa jangan-jangan dia nggak datang," sahut Ray


"Nasib Ilham, tiga kali pernikahannya gagal," ucap Ray


"Mungkin karmanya kak karena dulu menyakiti Rara," sahut Leo


"Bisa jadi namun kita tetap mendoakan yang terbaik untuknya," timpal Ray


Leo dan Ray ikut bergabung dengan Edward dan Renata. Ilham terlihat cemas dan panik, dia berkali-kali menghubungi Arini namun tak ada jawaban begitu pula dengan keluarganya.


Di tengah kekalutannya Ilham teringat akan Pras lalu dia tersenyum


"Apa kamu berubah pikiran Arini, kamu lebih memilih Pras daripada aku sehingga kamu ingin membatalkan pernikahan Ini," gumam Ilham


Ilham duduk dengan menyandarkan kepalanya di dinding, para tamu juga sudah mulai protes dan ada beberapa yang hendak pulang


"Tolong jangan pulang dulu, kita masih menunggu penghulu dan juga pengantin yang sebentar lagi datang," kata papa Ilham


"Sampai kapan pak?" tanya salah satu tamu


"Tunggu tiga puluh menit lagi pak," jawab Papa Ilham


Mereka semua kembali duduk,


Leo, Ray, Edward dan Renata juga ikut deg-deg an.


"Bagaimana ini mas, pengantinnya kok belum juga datang," kata Renata


"Entahlah sayang," sahut Edward

__ADS_1


Mereka iba melihat Ilham yang nampak sedih.


"Kalau tidak benar-benar cinta mengapa menerima perjodohan ini dan sepakat untuk menikah, lantas untuk apa kata yang kamu titip di hatiku Arini," gumam Ilham dengan mata yang basah


Melihat anaknya Mama dan papa Ilham bersedih


"Lihatlah anak kita pa, kenapa nasibnya jadi begini, kenapa saat dia mau berubah dan memulai hidup baru Tuhan seolah tak membiarkannya bahagia," kata mama dengan menitikkan air mata


"Sabar ma, mungkin Arini ada kendala di jalan," sahut papa


"Semoga pa tapi sampai kapan kita menunggu," kata Mama


"Entahlah ma," sahut papa


Semua kini harap-harap cemas, menunggu penghulu dan juga pengantin wanitanya.


Tak lama kemudian penghulu datang, Ilham langsung menemui pak penghulu.


"Mohon maaf pak Ilham saya terlambat," kata penghulu


"Tidak apa-apa pak, pengantin perempuannya juga belum datang" sahut Ilham


Waktu dhuhur pun tiba hingga banyak warga setempat yang ingin menunaikan sholat dhuhur


Semua juga ikut sholat berjamaah,


Karena tidak bisa menunggu lebih lama lagi, beberapa tamu pulang,


Leo, Ray, Edward dan Renata menghampiri Ilham yang duduk dengan menyandarkan kepala di dinding, dia sungguh putus asa


"Ilham," panggil Edward


"Iya pak," sahut Ilham


"Bagaimana ini, kami masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan nggak papa kan jika kami pulang terlebih dahulu," kata Edward


Ilham menatapnya sekilas lalu tersenyum


"Iya nggak papa pak Edward lagipula mungkin pernikahan ini nggak akan terlaksana," sahut Ilham


Tiba-tiba ayah dan ibu Arini datang dan meminta maaf kalau Arini telah menghilang setelah dirias.


Ilham tersenyum ketir, matanya basah dan hatinya sungguh sakit.


"Aku sudah menduganya kalau Arini pasti pergi bersama Pras, dia sebenarnya masih mencintai Pras, tapi kenapa tidak bilang dari awal kenapa dia memilih cara seperti ini untuk membatalkan pernikahan ini," Ilham bermonolog dengan dirinya sendiri.


Leo, Ray, Edward dan Renata sangat Iba melihat Ilham, namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kenapa kamu yakin kalau Pras lari bersama Arini?" tanya Edward


"Karena memang mereka saling mencintai pak," jawab Ilham


Pak penghulu mendekati Ilham dan bertanya


"Bagaimana ini pak, lanjut apa tidak?"


"Batalkan saja pernikahannya pak

__ADS_1


__ADS_2