Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Please jangan hina aku


__ADS_3

Renata yang melihat Vera menangis pun mendekatinya dan bertanya


"Kamu kenapa?" tanya Renata


"Aku terharu dengan sikap mas Edward padaku Renata," jawab Vera


Renata mengernyitkan alisnya, lalu dia pun mengajak Vera untuk bicara sebentar.


"Bisa kita bicara?" tanya Renata


"Bisa," jawab Vera


Renata menuntun Vera ke taman, mereka duduk di salah satu bangku yang ada di taman.


Hening


Hingga pertanyaan Vera memecah keheningan yang ada


"Kamu mau bicara apa Renata?" tanya Vera penasaran


Netra nya terus menatap netra Renata yang mengisyaratkan bahwa dia sangat penasaran akan apa yang ingin Renata bicarakan padanya.


"Mohon maaf sebelumnya Vera, bukan maksudku ingin melukai perasaanmu namun aku harap kamu nggak baper dengan sikap dan perhatian mas Edward padamu," jawab Renata dengan tidak enak


Renata sebenarnya tidak tega mengatakan ini tapi dia juga nggak mau Vera berharap pada suaminya. Semua ini semata-mata demi anak yang ada dalam kandungannya.


Meskipun sakit dengan kata-kata Renata namun Vera berusaha tersenyum


"Aku sadar dan paham akan tempatku jadi kamu nggak perlu khawatir Renata. Aku berada disini hanya alat pencetak anak buat kalian yang setelah itu akan kalian buang," kata Vera dengan air mata yang jatuh


Mendengar kata-kata Vera, Renata merasa dirinya sungguh wanita terkejam di dunia, namun dia juga terpaksa melakukan ini.


"Maafkan aku Vera," kata Renata dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Vera


Vera tersenyum lalu berucap


"Jangan meminta maaf padaku Renata, kita melakukan ini semua karena ada sebabnya." Vera lalu beranjak dan pamit untuk kembali ke kamarnya


Air matanya terus saja mengalir setelah dia pamit untuk kembali ke kamarnya.


Vera merasa sangat hina sekarang,


"Dari dulu aku hanya benalu untuk setiap orang di sekelilingku," kata Vera


Lalu dia pun mengambil tasnya dan pamit keluar pada Renata yang masih duduk di bangku taman.


"Aku keluar dulu ya Renata," pamit Vera dengan raut wajah yang sedang tidak baik-baik saja


"Kamu mau kemana Vera?" tanya Renata dengan ketakutan, dia takut kalau Vera meninggalkannya dengan membawa anak Edward

__ADS_1


"Menenangkan diri ," jawab singkat Vera lalu pergi


Renata sungguh takut kalau Vera benar-benar meninggalkannya dan juga Edward.


Renata pun masuk ke kamar untuk menelpon Edward namun berkali-kali Edward tidak menerima panggilannya.


Vera menuju sembarang tempat, dan kakinya melangkah pada suatu cafe yang lumayan bagus,


Vera langsung masuk saja tanpa melihat sekelilingnya, dia memesan coklat panas untuk menenangkan pikirannya.


Vera memilih tempat di pojokan, dia menjatuhkan kepalanya di meja dengan dua tangannya yang ditekuk sebagai alas.


Dari jauh nampak empat mata memperhatikannya,


yang tak lain adalah Ray dan Edward.


Tanpa di duga Edward adalah teman baik Ray, saat Vera masuk cafe, Ray dan Edward memperhatikannya namun Ray sedikit pangling karena kini Vera telah memakai hijab.


"Apa dia benar wanita itu?" gumam Ray


Begitu pula dengan Edward, dia juga memandangi Vera, memperhatikan dari jauh apakah itu benar istri keduanya atau bukan.


Edward tiba-tiba mendapat panggilan alam, lalu dia pun pamit ke toilet.


Ray yang tidak bisa menahan rasa penasarannya pun mendekati Vera.


"Halo, apa ini kamu?" tanya Ray yang membuat Vera mendongakkan kepala


"Ah jadi benar kamu wanita gila itu," sahut Ray


"Iya kenapa?" tanya Vera dengan lirih


Tanpa disuruh Vera, Ray duduk bergabung dengan Vera,


"Tumben kamu memakai hijab," tanya Ray lagi


"Aku menginginkannya Ray," jawab Vera


"Apa cuma untuk berkamuflase?" tanya Ray lagi dengan sedikit tersenyum kecut


Vera melemparkan tatapan tajamnya pada Ray, seraya bertanya lagi karena tidak begitu mengerti maksud dari Ra


"Apa maksudmu Ray?" tanya Rara


"Dengan berkamuflase jadi tidak ada yang bakalan tau kalau kamu adalah seorang wanita murahan," jawab Ray


Seketika mata cantik Vera membasah, dalam tangisnya dia tersenyum


Dia berkata," kamu memang benar Ray akan lebih mudah jika aku memakai hijab," sahut Vera

__ADS_1


Ray tertawa keras, sehingga sedikit menarik perhatian pengunjung lainnya.


"Sungguh ku akui ide mu cemerlang sekali," timpal Ray


Edward yang baru selesai dari toilet pun memutar bola matanya untuk mencari keberadaan Ray dan alangkah terkejutnya dia melihat Ray mengobrol dengan Vera.


"Apa kalian saling mengenal?" tanya Edward yang sudah berdiri di samping meja.


"Tidak hanya mengenal Edward," jawab Ray dengan heran pasalnya kok bisa Edward mengenal wanita seperti Vera


Edward pun menarik kursinya lalu ikut duduk,


"Melihat mata Vera yang basah membuat hati Edward tak tega, dengan lembut dia bertanya


"Kamu ngapain disini Vera?" tanya Edward


"Aku ingin keluar saja mas," jawab Vera


"Kamu mau makan?" tanya Edward lembut


Vera hanya menggeleng, dia memang tidak ingin memesan makanan karena sudah kenyang sedangkan Ray yang melihat Edward memperlakukan Vera dengan lembut pun protes


"Tunggu, ini ada apakah sih, Vera tu apanya kamu Edward?" tanya Ray dengan penuh penekanan


Lidah Edward merasa kaku, dia bingung harus menjawab apa karena baginya pertanyaan Ray sangat sulit dijawab. Ray mengira kalau Vera adalah simpanan Edward teman masa remajanya untuk itu Ray mencoba mengingatkan Edward dan bilang kalau Vera bukan wanita baik-baik.


"Meskipun simpanan kamu tetap harus mencari wanita baik-baik bukan wanita seperti Vera yang hanya menggunakan hijabnya untuk kamuflase," pesan Ray


Mendengar kata-kata yang menyakitkan dari Ray membuat Vera melepaskan air mata yang sedari tadi mengumpul di pelupuk matanya.


"Cukup, aku tau kau hina, aku najis, aku kotor tapi tolong jangan hina aku dengan menyangkut pautkan hijab yang ku pakai. Aku memakainya karena Tuhanku bukan untuk kamuflase." kata Vera dengan air mata yang berderai


Ntah kenapa kedua lelaki dewasa ini merasa iba melihat Vera menangis.


"Sudah Ray jangan hina dia terus menerus," pinta Edward


"Aku hanya mengingatkanmu Edward asal kamu tau kalau Vera ini adalah wanita brengsek," pesan Ray


Tujuan awalnya Vera keluar adalah untuk menenangkan pikirannya dari kata-kata Renata namun di cafe malah bertemu dengan Ray maupun Edward yang kata-katanya lebih menyakitkan daripada Renata.


"Terima kasih Ray atas perhatianmu namun urusan Vera biar aku yang urus," sahut Edward


Edward dengan lembut mengelus kepala Vera yang tertutup hijab, dia pun meminta Vera untuk pulang.


Ray yang melihat perlakuan Edward pun bingung, bagiamana bisa Edward memperlakukan Vera seperti itu bahkan seperti perlakuannya pada Renata.


"Apa kamu sangat mencintai Vera?" tanya Ray bingung


Edward hanya menggeleng-geleng kan kepala, Vera yang tidak ingin suasana menjadi keruh lagi dia pun pamit pulang.

__ADS_1


"Lantas?" tanya Ray yang sempat terpotong


"Dia adalah istriku sekarang," jawab Edward


__ADS_2