Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Ijinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya


__ADS_3

Dengan hati kesal Vera menatap punggung Leo yang semakin menjauh. Dia memesan minuman dan makanan, setelah itu dia pun berjalan-jalan menyusuri setiap sudut mall. Karena merasa bosan Vera memutuskan untuk pulang.


Di sisi lain Ilham termenung di ruangannya, Ilham yang merasa rumah tangganya dengan Vera sangat hambar jadi bingung antara lanjut atau mengakhirinya.


Sepulang dari kantor, Ilham yang pikirannya tak fokus melajukan mobilnya di cafe Rara. Pikiran yang trouble membuatnya tak sadar jika dia berada di cafe Rara. Dia memesan makanan dan minuman untuk mengisi perutnya yang lapar karena dari tadi siang dia tidak makan.


Leo yang harus ke luar kota tidak bisa menjemput Rara sehingga Rara stay di cafe sampai tutup.


Rara mengawasi pegawainya yang bersih-bersih sebelum tutup, mata Rara menangkap seorang pria masih saja stay di tempatnya padahal sebentar lagi cafe tutup.


Dengan langkah pelan Rara menghampiri pelanggannya tersebut.


"Selamat malam, mohon maaf cafe akan segera tutup," kata Rara dengan sopan


Ilham yang tak lain adalah lelaki yang masih stay di cafe Rara menoleh, betapa kagetnya Rara ternyata itu adalah Ilham.


"Ra," panggilnya


"Mas Ilham," panggil balik Rara


"Cafe segera tutup mas, kamu nggak pulang?," tanya Rara


"Sudah mau tutup ya?" tanya balik Ilham dengan tersenyum


"Iya mas, sudah jam sembilan. Aturan PPKM," jawab Rara


Ilham beranjak dari tempat duduknya, dia melangkahkan kaki hendak keluar namun entah mengapa Ilham memutar balik badannya dan memanggil Rara.


"Ra, Maukah kamu mengobrol denganku?" tanya Ilham


Rara yang bingung akhirnya menerima tawaran Ilham lalu mereka duduk di bangku depan cafe.


Rara yang duduk samping Ilham merasa gugup, untuk meredam kegugupannya Rara berbasa basi


"Bagaimana kabar Vera mas?" tanya Rara yang menguraikan keheningan diantara mereka


"Baik Ra," jawab Ilham


"Pasti sudah melahirkan ya mas, cewek atau cowok?" tanya Rara lagi, meski dia sudah menjenguk waktu itu namun entah mengapa Rara bertanya kembali seolah dia tidak tau.

__ADS_1


"Bukankah kamu sudah jenguk saat itu Ra, anakku cewek, kini dia sudah bersama Tuhan di atas sana," jawab Ilham dengan mata yang nanar


Rara sedikit malu dan juga kaget, dia tidak menyangka kalau anak Vera meninggal.


"Astagfirullah mas, aku turut berduka cita ya. Kapan kok aku nggak kamu kabari," sahut Rara


"Terima kasih Ra, maafkan aku yang nggak ngasih kabar. Aku pikir Leo ngasih tau kamu," timpal Ilham


"Mas Leo nggak bilang apa-apa mas," ucap Rara sambil menatap Ilham


"Mungkin Leo punya alasan sendiri," kata Ilham dengan tersenyum


Mereka sama-sama terdiam, hingga pertanyaan Ilham membuat Rara kaget


"Apakah rasa cinta itu telah hilang?" tanya Ilham


"Kamu ingin jawaban bohong apa jujur mas?" tanya Rara balik


"Kedua-duanya," jawab Ilham


"Jujur mas, rasa itu masih ada walaupun prosentasenya terus menurun karena cintamu perlahan tergantikan oleh cinta mas Leo yang sangat besar padaku, kalau bohongnya aku udah melupakanmu," jawab Rara sambil terkekeh


"Kamu Ra, bisa saja," sahut Ilham dengan tersenyum


Walaupun Ilham telah menyakitinya namun rasa itu tentu masih ada dalam hati Rara, Ilham adalah orang yang dicintainya selama lima tahun tentu tidak mudah menghilangkannya, tetap butuh waktu untuk menghilangkan rasa itu.


"Aku sangat menyesal karena telah menyakitimu, kini aku sadari kamulah yang terbaik," imbuh Ilham


"Jangan buat hidupmu terbelenggu dengan rasa sesal mas, karena semua itu sia-sia. Mending sekarang perbaiki dirimu jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama," pesan Rara


Ilham tersenyum, kata-kata Rara sedikit membuka hatinya.


"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya Ra?" pinta Ilham dengan menatap Rara


lagi-lagi Rara di buat bingung oleh Ilham, namun akhirnya kepalanya memilih mengangguk daripada menggeleng.


Dengan erat Ilham memeluk Rara, bahkan air matanya tumpah saat memeluk mantan istrinya tersebut.


"Aku sangat mencintaimu Ra, maafkan aku. Semenjak kamu pergi aku seperti orang yang hilang haluan. Bayang-bayangmu selalu menghantui aku." bisik Ilham dengan terisak

__ADS_1


Rara yang mendengar isakkan Ilham pun ikut meneteskan air matanya,


"Kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh mas, mungkin dengan begini kita bisa belajar lagi karena pengalaman adalah guru terbaik," sahut Rara yang masih dalam pelukan Ilham


Ilham menghirup wangi tubuh Rara, sungguh tidak ada yang berubah, wangi tubuh serta parfum tetap sama seperti yang dulu.


Setelah puas memeluk Rara, Ilham melepas pelukannya.


Dia mengusap air mata yang membasahi matanya, lalu dia tersenyum


"Aku harap silaturahmi kita nggak putus ya Ra dan terima kasih telah mengijinkan aku untuk memelukmu," ucap Ilham


"Sama-sama, aku juga harap seperti itu karena memutus silaturahmi itu mengurangi rejeki," sahut Rara


Karena sudah malam, Ilham memutuskan untuk pulang begitu pula dengan Rara yang juga akan pulang ke apartemen Leo.


Setelah di rumah, Ilham terkejut dengan Vera yang sedang menunggunya di ruang tamu.


"Bagus ya jam segini baru pulang, dari mana saja?" tanya Vera dengan nada tinggi


"Dari cari makan memangnya kamu menyiapkan makan untuk aku?" tanya Ilham balik dengan tangan yang melepas sepatu pantofel nya


"Tapi bukan bearti kamu pulang malam mas!" seru Vera


Ilham yang kesal meletakkan sepatunya dengan kasar


"Suami pulang bukannya disambut dengan manis malah di sambut dengan nada tinggi! seru Ilham dengan mata yang melebar menatap Vera


"Kamu tu keterlaluan mas, aku sendiri di rumah sedangkan kamu malah keluyuran!" bentak Vera dengan mata yang menatap Ilham juga


"Kalau kamu ingin segera pulang dan betah di rumah seharusnya kamu juga merubah sikapmu, tiap aku pulang kamu selalu bermalas- malasan di kamar tidur, rumah seperti kapal pecah, makanan nggak ada dan tiap aku komplain kamu marah-marah lalu bilang aku bukan pembantu. Jujur aku bingung Vera, mau dibawa kemana rumah tangga kita," jelas Ilham yang membuat Vera terdiam


"Kalau kamu terus seperti ini lebih baik kita pisah, jadi kamu bisa bebas dan siapa tau kamu mendapat yang lebih dari aku," imbuh Ilham


Vera menggeleng-gelengkan kepala, "aku nggak mau mas pisah dari kamu, setelah anak kita meninggal terus kamu mau meninggalkan aku?" kata Vera dengan menangis


Melihat Vera menangis membuat Ilham tidak tega lalu dia tergerak untuk memeluk Vera dan menenangkannya,


"Maafkan aku Vera, kalau kamu bersikap begini siapapun yang hidup denganmu pasti nggak betah. Ayolah kita saling berbenah dan membuka lembaran baru dari awal," kata Ilham dengan tangan yang semakin erat memeluk Vera

__ADS_1


Mendengar kata-kata Ilham membuat Vera berfikir, hatinya membenarkan kata-kata Ilham.


Setelah puas berpelukan mereka menuju kamar tidur, ntah apa yang mereka lakukan di dalam hanya mereka yang tau.


__ADS_2