
Seminggu sudah berlalu, anak Vera masih bertahan meski belum mengalami kenaikan berat badan yang signifikan. Sore ini setelah Edward selesai bekerja dia mengunjungi anaknya lagi di rumah sakit.
"Sayangnya papa, bagaimana hari ini?" tanya Edward tentu yang tidak akan mendapat sahutan.
Ilham yang melihat Edward sedikit iba padanya, dia sangat menyayangi anaknya tersebut.
Puas mengunjungi bayi kecilnya, Edward meminta Ilham untuk mengantarnya ke pusara Vera.
Selama dalam perjalanan ke pusara Vera, Edward hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun begitu pula dengan Ilham dia tidak ingin mengganggu acara melamun Edward
Kini mobil sampai di depan area pemakaman dimana Vera dimakamkan.
"Halo Vera, bagaimana di sana?" tanya Edward
Tentu tak ada yang menjawab pertanyaannya
"Anak kita sangat sehat Vera, dia selamat. Perjuanganmu tidak sia-sia," kata Edward dengan berbohong
Lagi-lagi hanya hembusan angin yang menyahut kata-katanya
Kini Ilham dan Edward sama-sama mendoakan Vera, setelahnya mereka pamit untuk pulang.
"Aku pamit dulu ya Vera," pamit Edward lalu pergi dari pusara Vera.
Setelah di dalam mobil, Ilham membuka obrolan dengan Edward
"Pak, Minggu depan saya ijin cuti tiga hari," kata Ilham yang membuat Edward menatapnya
"Kamu mau kemana?" tanya Edward
"Saya akan menikah pak," jawan Ilham
"Ya sudah tapi tidak lebih dari tiga hari, nggak usah pake bulan madu segala, kamu kan sudah menikah tiga kali," sahut Edward yang membuat Ilham menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka melajukan mobil menuju rumah, saat memasuki halaman rumah nampak Renata duduk di teras menunggu kepulangan Edward.
Setalah turun dari mobil, Edward ikut bergabung dengan Renata. Edward mengecup istrinya begitu pula dengan Renata yang mencium punggung tangan Edward.
"Bagaimana keadaan anak kita hari ini mas?" tanya Renata
"Sudah lebih baik sayang," jawab Edward berbohong
Edward juga mengkode Ilham supaya ikut berbohong juga.
"Iya Bu Renata adik bayinya sudah mulai sehat," Ilham berbohong
"Alhamdulillah Vera, anak kita sudah sehat," oceh Renata
__ADS_1
Karena tidak ada tugas/pekerjaan yang harus diselesaikan, Ilham pamit untuk pulang. Karena dia harus ikut membantu orang taunya menyiapkan keperluan untuk persiapan pernikahannya meskipun hanya Ijab Qabul.
"Saya pamit dulu pak, Bu," kata Ilham dengan membungkuk
"Iya Ilham hati-hati ya," sahut Renata maupun Edward
Setelah mengantongi ijin pulang dari bosnya Ilham melajukan mobilnya ke rumah Arini.
Hari ini dia akan memberi surprise Arini dengan kedatangannya yang tidak bilang terlebih dahulu.
"Im coming Arini," gumam Ilham
Sebelum ke rumah Arini, Ilham berhenti dulu di sebuah minimarket yang menyediakan kopi di sana saat duduk untuk menikmati kopinya tak sengaja mata Ilham menangkap wajah seseorang yang di kenalnya.
Ya, dia adalah Arini namun kali ini Arini duduk bersama dengan seorang pria.
Ilham mengamati gerak gerik dua orang ini dari tempat dimana dia duduk,
"Arini kenapa kamu menikah, padahal kamu tahu kalau aku sangat mencintai kamu?" kata pria yang bersama Arini
"Pras mengertilah, kita tidak bisa bersama, apa kamu tidak ingat kalau setahun yang lalu aku dipermalukan oleh orang tua kamu di depan umum," sahut Arini
"Tapi aku masih sangat mencintai kamu Arini!" seru pria yang bernama Pras
"Derajat kita jauh berbeda Pras, kamu orang kaya sedangkan aku orang tak punya," kata Arini.
"Ok ok, tapi ijinkan aku untuk memelukmu untuk yang terakhir kalinya," pinta Pras
Pucuk di Cinta ulam pun tiba, dulu Ilham adalah lelaki yang sangat Arini kagumi selain memiliki paras yang tampan Ilham juga pintar namun Dewi Fortuna tidak berpihak padanya karena Ilham menikah dengan Rara.
"Baiklah Pras tapi ini untuk yang terakhir kalinya," ucap Arini
Arini pun berdiri dan seketika Pras membawa Arini dalam pelukannya.
Ilham yang tidak mendengar percakapan mereka mengepalkan tangannya.
Tiba-tiba ingatan akan pengkhianatan Vera kembali merasuk dalam pikirannya.
"Teganya kamu Arini, padahal kini aku telah mencintaimu," gumam Ilham lalu meninggalkan Arini yang masih berpelukan dengan Pras.
Ilham melajukan mobilnya ke Surabaya kembali, niat untuk memberi surprise akhirnya malah dia yang mendapat surprise.
Pikirannya kini sungguh kalut, dia merasa bahwa percintaannya tidak akan berjalan mulus.
Karena kesal berkali-kali dia memukul setir mobilnya,
Hingga tak terasa kini mobilnya sudah masuk dalam pekarangan rumahnya.
__ADS_1
Ilham langsung masuk,
Saat duduk di ruang tamunya, ada panggilan Video dari Arini yang memang setiap malam mereka lakukan.
Ilham menolak panggilan Arini, lalu Arini memanggil lagi, dan lagi-lagi Ilham menolaknya.
Arini juga mengirim pesan namun hanya dibaca tanpa dibalas tentu hal ini membuat Arini gundah gulana karena tak biasanya Ilham bersikap seperti ini.
Pikiran Arini sungguh kalut, dia bingung harus bagaimana.
Sepanjang malam Arini terus saja mengecek ponselnya namun tak ada pesan dari Ilham
"Mas Ilham kenapa ya," gumam Arini dengan cemas
Pagi pun datang menyapa, Arini yang baru bangun dari tidurnya langsung menyambar ponselnya dan melihat apakah pesannya dibalas atau tidak.
"Kamu kenapa sih mas, apa aku berbuat salah atau gimana ya" gumam Arini dengan air mata yang membasahi pipi
Karena panggilan alam Arini pun ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelahnya Arini mulai bersiap untuk berangkat kerja.
Saat di tempat kerjanya dia sungguh tidak fokus, bahkan beberapa kali dia di tegur oleh rekan kerjanya.
Hingga sore tiba Ilham masih tidak menjawab pesan atau menelponnya kembali.
Karena tidak ingin kalut lama-lama Arini memutusakan untuk datang ke rumah Ilham.
Di depan pagar rumah, Arini menunggu Ilham. Hingga malam hari Ilham belum juga kembali.
"Mas Ilham kok nggak pulang-pulang," gumam Arini
Satu jam kemudian nampak mobil yang hendak masuk rumah,
Arini langsung berdiri, dia melihat Ilham membuka pagar.
"Mas Ilham," panggil Arini
Ilham menoleh lalu masuk kembali ke dalam mobilnya untuk memasukkannya ke dalam rumah.
Arini masuk dan berlari kecil.
"Mas Ilham," panggilnya lagi
Arini langsung saja memeluk calon suaminya tersebut. Dia sungguh rindu pada Ilham terakhir bertemu hanya setengah jam karena Ilham dapat tugas dadakan dari Edward.
"Aku kangen mas," kata Arini dengan lirih
__ADS_1
"Bukannya kamu sudah memiliki kekasih, kenapa masih merindukan aku?" tanya Ilham yang membuat Arini melepas pelukannya
"Apa maksudmu mas,"..........