Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Alia, apa kamu baik baik saja?


__ADS_3

Setelah mengunci pintu dan mematikan lampu tokonya, Alia lantas langsung melangkahkan kakinya masuk ke ruang istirahat. Disandarkannya tubuh Alia di pintu ruangan tersebut sambil menatap lurus ke arah depan dengan tatapan yang kosong entah melayang ke mana.


pandangannya benar benar kosong dan juga melayang, membayangkan kejadian beberapa tahun lalu tepat sebelum Tiara dan David mengalami kecelakaan tragis yang merenggut nyawa keduanya.


Tubuh Alia melorot begitu saja ketika siksaan demi siksaan dari Tiara kembali terlintas di benaknya. Air matanya kini bahkan tidak lagi bisa terbendung, dengan perasaan yang sesak dan trauma Alia mengusap air matanya dengan kasar.


"Haruskah aku berterima kasih kepada Fabian karena telah mengambil nyawa kedua orang tua ku? hahahaha harusnya aku berterima kasih bukan? mengapa aku malah marah? hiks hiks..." ucap Alia sambil tertawa dengan kencang namun sepersekian detik berikutnya tangisnya kembali pecah dengan tersedu sedu.


Diusapnya rambut Alia dengan kasar, berada di tengah tengah antara perasaan senang dan juga sedih membuat Alia tampak seperti orang gila, yang sedikit sedikit tertawa sedikit sedikit menangis dengan terisak menatapi nasibnya sendiri, namun detik berikutnya melamun dengan tatapan yang kosong.


Pandangan Alia kemudian lantas terhenti tepat ketika ia melihat foto keluarga yang terletak di atas meja rias kecil di ruang istirahat tersebut. Alia bangkit secara perlahan lahan dari posisinya, kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah di mana foto keluarga itu berada.


Kebahagian jelas terlihat dari raut wajah Tiara dan juga David yang menatap serta memeluk Allea dengan penuh kasih sayang, sedangkan Alia kecil berada tepat di belakang mereka, seperti layaknya sebuah bayangan yang tidak pernah di anggap, Alia hanya bisa menyaksikan kebahagian ketiganya tanpa dapat masuk dan berada di tengah tengah mereka barang sedetikpun.


"Aku membencinya" ucap Alia kemudian sambil melempar foto tersebut hingga membentur dinding dan pecah menjadi beberapa serpihan memenuhi lantai ruangan tersebut.


***


Sementara itu di luar toko


"Ayolah kak ku mohon...." ucap Fabian dengan lirih sambil menatap ke arah dalam toko dengan tatapan yang cemas dan juga khawatir akan keadaan Alia di dalam sana.


Cetar....


Suara benda yang jatuh mendadak terdengar dengan nyaring dari arah dalam toko, membuat Fabian lantas langsung terkejut seketika di saat mendengar suara tersebut.

__ADS_1


"Alia" pekik Fabian begitu mendengar suara benda pecah dari dalam toko.


Fabian yang sudah khawatir akan keadaan Alia, lantas langsung mengantongi ponselnya begitu saja kemudian berusaha membuka pintu toko berkali kali namun selalu saja gagal karena Alia sudah mengunci pintu tersebut sebelumnya.


"Ah sial mengapa Alia mengunci pintunya sih?" ucap Fabian dengan nada yang kesal.


Fabian yang tak hilang akal, lantas langsung melangkahkan kakinya memutari toko mencari pintu belakang dari toko tersebut.


"Semoga saja tidak di kunci." ucap Fabian dalam hati sambil berusaha untuk membuka pintu bagian belakang.


Cklek...


Suara pintu yang mulai terbuka, lantas langsung membuat perasaan Fabian menjadi lega. Fabian yang melihat pintu belakang tidak di kunci langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam mencari keberadaan Alia di sana.


**


Alia yang merasa terpanggil langsung menoleh ke arah sumber suara dan memasang wajah yang datar menatap ke arah Fabian.


"Dari mana kamu bisa masuk ke dalam sini?" tanya Alia dengan nada yang ketus.


"Aku lewat pintu belakang, apa kamu baik baik saja Al? aku tadi mendengar suara benda pecah dan..." ucap Fabian namun langsung di potong oleh Alia.


"Aku ingin pulang, aku sudah lelah akan semua hal yang terjadi padaku tanpa henti... aku harap kamu mau mengerti akan hal itu Bi." ucap Alia dengan pandangan yang kosong, membuat Fabian langsung terdiam seketika.


Melihat Alia yang biasanya akan menangis dengan tersedu sedu mungkin itu akan lebih baik, daripada melihat Alia dengan tatapan yang kosong dan hanya berbicara seperlunya, membuat Fabian lebih merasa takut akan mental Alia yang mungkin akan terganggu.

__ADS_1


Setelah mengatakan kata pulang, Alia melangkahkan kakinya melewati Fabian begitu saja hendak pulang ke rumahnya.


"Alia, apa kamu baik baik saja?" tanya Fabian kemudian yang lantas membuat Alia menghentikan langkah kakinya.


"Aku lebih dari kata baik Bi, aku bahkan ingin berterima kasih padamu karena berkat mu aku bisa terbebas dari penderitaan yang sejak kecil aku rasakan." ucap Alia dengan senyum yang di paksakan dan malah nampak seperti senyum joker di tengah gelapnya ruangan tersebut.


Fabian yang mendengar ucapan Alia barusan benar benar terkejut bukan main, tidakkah pikiran Alia cepat sekali berubah? bukankah tadi Alia jelas jelas mengatakan bahwa bagaimanapun perlakuan kedua orang tuanya mereka tetaplah orang tuanya, namun hanya berselang beberapa menit saja pemikiran Alia benar benar berubah seutuhnya, membuat Fabian yakin bahwa saat ini Alia benar benar sedang tidak baik baik saja.


Alia kemudian melanjutkan langkah kakinya dan berlalu pergi meninggalkan Fabian dengan pandangan yang kosong, Fabian yang melihat Alia pergi lantas langsung mengejar Alia dan tanpa aba aba mulai menarik tangan Alia dan membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya.


"Apa yang kau lakukan Bi? lepaskan aku!" teriak Alia sambil meronta ronta meminta untuk di lepaskan.


"Menangis lah Al tumpahkan segalanya, aku lebih senang mendengar mu menyalahkan ku daripada melihat mu seperti ini.. jangan memendamnya seperti ini Al, kamu punya aku sekarang tempat untuk mencurahkan segala keluh kesah mu." ucap Fabian dengan nada yang lembut.


Alia yang semula terus berontak dan memukul mukul punggung Fabian, mendengar ucapan Fabian barusan dinding pertahanannya runtuh juga. Tubuh Alia melemas dan langsung melesot di lantai bersamaan dengan Fabian yang masih terus memeluknya walau Alia langsung terduduk di bawah.


"Huaaaaa aku bahkan sudah mencoba menahan semuanya.... tapi kau! kau malah menyuruh ku untuk mengadu... apa mau mu sebenarnya Bi! hua... hiks hiks hiks..." ucap Alia dengan menangis sejadi jadinya di pelukan Fabian.


Sedangkan Fabian yang mendengarkan segala keluh kesah Alia hanya bisa diam dan mendekap Alia dengan erat, berusaha untuk menenangkan Alia sebisa mungkin.


"Aku minta maaf Al... aku minta maaf..." ucap Fabian dengan nada yang lirih sambil terus mendekap tubuh Alia yang menangis dan juga menjerit sejadi jadinya.


Hingga ketika suara Alia sudah terdengar serak dan tidak lagi mampu meraung, tubuh Alia limbung dan pingsan di dekapan Fabian, membuat Fabian yang tidak lagi mendengar raungan Alia lagi langsung menatap ke arah Alia.


"Al... Alia..." panggil Fabian berulang kali.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2