
Seorang pria berpawakan tinggi tegap dengan kulit hitam manis seperti idaman kebanyakan semua wanita, terlihat tengah mengendarai mobil pribadinya dengan kecepatan sedang menuju ke arah galeri seninya yang berada di pusat ibu kota.
Ckit..
Suara decitan rem yang di injak secara mendadak terdengar melengking di telinga. Laki laki tersebut benar benar terkejut ketika dengan tiba tiba melihat seorang wanita yang masih lengkap mengenakan baju pasien Rumah Sakit tiba tiba melintas di hadapan mobilnya.
"Ah sial! dasar perempuan gila... apa dia mau mati dengan berlarian ke jalan seperti itu?" ucap laki laki tersebut sambil langsung bergerak keluar dari mobilnya hendak memarahi wanita tersebut.
Hanya saja langkah kakinya lantas terhenti ketika ia malah melihat seseorang yang ia kenali tepat berdiri di hadapan mobilnya.
"Shila?" panggil pria tersebut dengan nada yang terdengar ragu ragu, sambil menatap ke arah wanita yang kini tengah berdiri tepat di depan mobilnya.
"Kau... Rendra kan?" ucap Shila sambil mencoba mengingat ingat sosok pria yang kini tengah berdiri di hadapannya.
***
Di dalam mobil Rendra
Keheningan langsung terjadi di antara Shila dan juga Rendra, setelah keduanya saling mengenali satu sama lain pada akhirnya Shila memutuskan untu ikut ke dalam mobil Rendra menuju ke suatu tempat, mungkin lebih tepatnya memaksa sih.
"Apa kau masih terus mengejar Fabian hingga detik ini?" tanya Rendra dengan tiba tiba yang lantas membuyarkan lamunan Shila.
"Jangan menggoda ku, aku sedang tidak mood saat ini." ucap Shila dengan nada yang ketus menanggapi pertanyaan dari Rendra barusan.
"Ya ya ya... biar aku tebak... pasti kau kali ini di tolak lagi bukan? lagian jadi perempuan sok jual mahal. Dulu aja pas Fabian yang menyukai mu malah berakhir kau sia siakan, sekarang baru kena batunya bukan?" ucap Rendra dengan nada yang mengejek Shila seakan ia sudah sangat paham akan tingkah wanita yang kini tengah duduk di sampingnya itu..
"Kau kalau tidak ikhlas menolong ku... turunkan saja aku di sini repot amat..." ucap Shila dengan nada yang datar sambil menatap ke arah luar melalui kaca jendela mobil.
Rendra yang mendengar ucapan dari Shila tersebut, tentu saja langsung menuruti ucapan dari Shila dan menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat Shila lantas langsung menatap dengan tatapan bingung ke arah Rendra.
"Bukankah kau tadi mengatakan untuk menurunkan mu di sini, lalu kau tunggu apa lagi? turun sekarang!" ucap Rendra dengan entengnya.
__ADS_1
Sejak jaman kuliah Rendra benar benar selalu muak dengan sifat judes serta semena mena milik Shila yang tidak pernah bisa hilang walau sudah beberapa tahun berlalu dan keduanya kembali di pertemukan dalam kejadian yang tak terduga..
"Aku hanya bercanda, mengapa kau malah benar benar melakukannya?" ucap Shila dengan tatapan yang tidak percaya ke arah Rendra.
"Ini nih yang aku tidak suka dari dirimu, jika kau benar benar ingin aku menolong mu setidaknya bersikaplah dengan sopan kepada ku, apakah kau tidak bisa melakukan hal itu?" ucap Rendra dengan tatapan yang serius ke arah Shila, membuat Shila lantas langsung cemberut ketika mendengar ucapan dari Rendra barusan.
"Baiklah baiklah.. aku minta maaf, apa kau puas?" ucap Shila pada akhirnya dengan nada yang seakan terpaksa mengatakan hal tersebut.
"Setidaknya itu lebih bagus." ucap Rendra setelah itu kembali melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju ke suatu tempat.
****
Ruangan Alia
Setelah beberapa menit menunggu pada akhirnya Fabian datang juga ke ruang perawatan Alia sambil membawa gado gado pesanan Alia.
"Kenapa lama sekali?" ucap Alia sambil mencebikkan mulutnya karena Fabian tidak kunjung kembali sedari tadi.
"Gado gado kan juga butuh proses Al, kau kira semua bisa langsung matang dalam sekejap." ucap Fabian sambil membuka bungkusan gado gado tersebut.
"Yang benar saja, memangnya kamu beli di mana gado gadonya?" tanya Alia dengan nada yang penasaran.
"Aku membelinya di kantin Rumah Sakit, kau tahu Al? kantin Rumah Sakit ini sangatlah lengkap hingga makanan dari Sabang sampai Merauke semua tersaji di sini." ucap Fabian dengan entengnya.
"Fabiannnnnn ku kira kau membelinya di mana, jika hanya di kantin Rumah Sakit ini... bukankah itu sangatlah berlebihan?" ucap Alia dengan kesal.
"Sudahlah... untuk apa kita memusingkan tentang hal itu, bukankah kamu sudah lapar?" ucap Fabian kemudian yang di balas Alia dengan anggukan kepala.
Fabian yang melihat jawaban dari Alia barusan lantas langsung menyendok gado gado di piring dan menyuapi Alia secara perlahan.
"Bagaimana?" tanya Fabian kemudian.
__ADS_1
"Enak" ucap Alia dengan singkat sambil melukis senyuman indah di wajahnya.
Fabian yang melihat senyuman Alia, lantas sedikit merasa lebih lega karena pada akhirnya Alia bisa kembali ceria seperti sedia kala walau segala hal berat terjadi padanya.
"Teruslah seperti ini Al... karena kamu tampak cantik jika tersenyum..." ucap Fabian dengan senyum yang tulus menatap ke arah Alia yang tengah sibuk mengunyah makanannya.
***
Kembali kepada Shila dan juga Rendra.
Mobil yang di tumpangi oleh keduanya sampai di sebuah galeri seni milik Rendra yang masih terletak di pusat ibu kota.
"Apakah galeri seni ini milik mu?" tanya Shila sambil melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Rendra masuk ke dalam.
"Yap, rencananya aku akan membukanya mulai minggu depan. Selama acara belum di mulai kamu bisa menggunakan studio ku untuk tempat tinggal sementara, asalkan jangan pernah menyentuh karya seni ku." ucap Rendra mengingatkan Shila tentang aturan yang akan berlaku selama Shila tinggal di sana.
"Tenang saja, aku tidak terlalu menyukai karya seni terutama lukisan." ucap Shila dengan santainya sambil mulai melirik ke arah beberapa lukisan yang terpajang di sana.
Sebuah deringan ponsel milik Rendra lantas langsung menghentikan langkah kaki keduanya yang tengah berjalan dan melihat lihat beberapa lukisan.
"Aku akan mengangkat telpon sebentar." ucap Rendra yang lantas di balas Shila dengan anggukan kepala.
Setelah kepergian Rendra dari sana, Shila lantas melangkahkan kakinya menyusuri satu persatu karya seni yang terpajang di sana.
Awalnya Shila tidak terlalu tertarik akan beberapa karya seni yang di pamerkan di galeri seni milik Rendra. Hingga kemudian sebuah lukisan potret diri lantas langsung menarik perhatiannya.
Ditatapnya lukisan tersebut secara teliti, setelah di pikir pikir bukankah gadis yang terdapat pada lukisan tersebut sama persis dengan Alia?
"Todak mungkin dunia sesempit itu bukan?" ucapnya dengan nada bicara yang seakan menyangkal fakta yang baru saja terlintas di benaknya.
"Jangan bilang Rendra menyukai Alia?" ucap Shila yang seakan terkejut akan kata kata yang baru saja keluar dari mulutnya sendiri.
__ADS_1
Bersambung