
Setelah memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya hingga benar benar rampung, Alia dan juga Allea pada akhirnya bekerja lembur hingga malam hari. Keduanya menyelesaikan pekerjaannya tepat sekitar pukul 21.00, Alia menatap dengan puas hasil dari dekorasinya dan juga Allea kemudian di peluknya Allea saking bahagianya.
"Bukankah ini indah kak?" ucap Alia tepat ketika memeluk sang kakak dari belakang sambil menatap ke arah setiap sudut yang sudah keduanya dekorasi bersama.
"Hem.. indah.. benar benar indah." ucap Allea sambil mengangguk dan tersenyum puas seakan mengiyakan pertanyaan dari Alia barusan.
"Apa kakak sudah siap untuk pulang?" tanya Alia kemudian yang langsung membuat Allea melepas pelukan adiknya itu dan menatap ke arah Alia.
"Apa... apa kita akan pulang malam ini juga?" tanya Allea dengan tatapan yang bingung ke arah Alia.
"Tentu saja, apa kakak tidak merindukan rumah dan toko kita? ini sudah cukup kak saatnya kita kembali, aku tidak ingin menjadi orang yang serakah." ucapnya lagi sambil menatap ke arah Allea, entah mengapa bagi Allea ucapan Alia barusan terdengar sangat sedih seakan hati dan juga ucapannya tidak selaras.
Allea yang mendengar hal itu hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Allea tidak tahu, haruskah ia senang atau malah sedih? karena ketika melihat wajah Alia yang sedih di saat mengucapkan kata "pulang" membuat Allea bingung harus bersikap bagaimana. Walau Allea adalah pengidap autisme tapi ia sudah mempelajari dan menghafal berbagai ekspresi manusia, ia sangat yakin jika Alia tengah sedih saat ini.
Setelah pembicaraan singkat itu, keduanya lantas melanjutkan kegiatan mereka dengan bersih bersih dan membereskan beberapa peralatan dari sana, mengepasnya dengan rapi agar bisa lebih mudah di bawa ketika keduanya pergi sebentar lagi.
Setelah memastikan semuanya beres Allea masuk ke dalam untuk bebersih, sedangkan Alia masih berdiri di sana menatap hasil karyanya dan juga Allea.
"Aku pasti akan merindukannya." ucap Alia dengan lirih kemudian berbalik badan hendak pergi dari sana dan menyusul kakaknya di dalam.
Hanya saja langkah kakinya terhenti ketika melihat Fabian tengah berdiri di hadapannya dengan tatapan yang tidak bisa terbaca menatap ke arah Alia, membuat Alia yang melihat hal tersebut sedikit bingung akan maksud dari tatapan Fabian saat ini.
"Ada apa Bi?" tanya Alia ketika melihat tatapan aneh dari Fabian saat ini.
__ADS_1
Sedangkan Fabian yang mendapat pertanyaan itu hanya terdiam dan menghela nafasnya panjang, Fabian sendiri juga bingung akan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Alia yang tak kunjung mendapat jawaban lantas tidak lagi bertanya dan langsung berjalan begitu saja, dalam pikirannya mungkin Fabian tengah menginterpretasikan hasil karyanya sehingga Alia memilih meninggalkannya tanpa banyak pertanyaan lagi, mencoba memberikan Fabian waktu untuk menikmatinya.
Hanya saja ketika Alia sudah berada di dekat Fabian dan hendak melewatinya, tangan Fabian mendadak menggenggam erat tangan Alia dan menghentikan langkah kaki Alia yang hendak pergi.
"Ada apa sebenarnya Bi?" tanyanya lagi yang kali ini dengan raut wajah penasaran karena baginya sikap Fabian benar benar sangat aneh kali ini.
Fabian menoleh perlahan ke arah Alia kemudian menatapnya dengan tatapan yang sendu.
"Tidak bisakah kamu tetap tinggal di sini bersama ku? ku mohon Al..." ucap Fabian yang lantas membuat Alia menatapnya dengan tatapan yang bingung.
Alia yang hendak menolak ucapan Fabian barusan mendadak mengernyit ketika bau alkohol terasa sangat menyengat pada indra penciumannya.
"Kamu mabuk Bi?" tanya Alia kemudian sambil sedikit mundur dan menjaga jarak dari Fabian.
"Resto mu bahkan belum tutup, bagaimana kalau pelanggan mu melihatnya?" ucap Alia lagi sambil menatap ke arah sekeliling. "Ayo aku akan mengantar mu lewat pintu belakang." ajak Alia kemudian sambil menarik tangan Fabian begitu saja, sedangkan Fabian hanya bisa pasrah dan mengikuti kemanapun langkah kaki Alia yang membawanya dengan pasrah.
**
Ruangan pribadi Fabian
Terlihat Alia keluar dari arah pantry dengan membawa segelas minuman hangat dan berjalan menuju ke arah Fabian sambil terus mengaduknya secara perlahan. Sementara Fabian hanya diam dan menatap setiap gerak gerik wanita itu tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
Alia menaruh gelas tersebut di depan Fabian. "Minumlah, aku dengar madu dapat meredakan mabuk, walau aku tidak yakin karena aku belum pernah mengalaminya." ucap Alia sambil menyodorkan gelasnya ke arah Fabian.
__ADS_1
Fabian menerima gelas itu dan langsung meminumnya tanpa banyak protes. Alia menghela nafasnya panjang ketika melihat Fabian yang seperti ini, bagi Alia ini adalah pertama kalinya melihat Fabian dalam kondisi mabuk seperti ini. Tunggu mungkin ini juga yang pertama kalinya bagi Alia berkontak fisik dengan laki laki karena ia tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali Allea.
"Aku akan mengambilkan mu baju ganti, aku yakin kamu tidak akan nyaman tidur mengenakan baju seperti itu." ucap Alia hendak bangkit berdiri namun gagal karena Fabian menarik tangannya dan menghentikan langkah kakinya.
Ditatapnya Fabian dengan lekat, Alia benar benar bingung akan sikap Fabian malam ini. Alia yang semula hendak mengambil pakaian ganti untuk Fabian lantas kemudian mengurungkan niatnya dan berpindah duduk di sebelah Fabian.
"Ada..." ucap Alia hendak bertanya namun tiba tiba tepat setelah ia duduk di sebelahnya, Fabian lantas langsung memeluknya dengan erat membuat Alia diam seribu bahasa.
"Jangan pergi Al..." ucap Fabian lagi dengan lirih.
Alia terdiam tak menanggapi ataupun menyanggahnya, Fabian kemudian lantas melepas perlahan pelukannya. Alia yang masih bingung akan tingkah Fabian malah semakin di buat terkejut karena tiba tiba Fabian malah mengecup bibirnya hingga membuat Alia melotot karena saking terkejutnya.
Alia yang mendapat serangan mendadak tentu saja kaget dan langsung mendorong tubuh Fabian dengan keras, hingga Fabian terhuyung dan jatuh terlentang di sofa. Tidak ada gerakan apapun yang di lakukan Fabian setelah ia terjatuh di sofa, membuat Alia yang semula hendak marah lantas mengurungkan niatnya ketika melihat Fabian malah memejamkan matanya tepat setelah terjatuh tadi.
"Dia tertidur? sepertinya tadi dia hanya mabuk.. ya hanya mabuk." ucap Alia lirih sambil mencoba mengatur ritme jantungnya yang berdebar dengan kencang karena kecupan yang tiba tiba barusan.
Ditatapnya wajah Fabian cukup lama, melihat wajah damai Fabian ketika tertidur membuat seulas senyum terlihat jelas di wajah cantiknya. Apakah itu yang namanya jatuh cinta? mungkinkah Alia benar benar sudah jatuh dan terjerat pada sosok pria di hadapannya saat ini?
Alia menggeleng dengan keras ketika ia tersadar akan pikirannya yang tiba tiba melayang membayangkan sesuatu yang tidak tidak.
"Apa yang sedang aku pikirkan?" ucapnya sambil menggeleng kepalanya dengan kencang.
Bersambung
__ADS_1