Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Akhir kisah seorang Alia


__ADS_3

"Kau... dasar pembunuh!" pekik Arsa sambil menatap tajam ke arah Alia, membuat semua orang yang ada di sana lantas terkejut seketika di saat mendengar ucapan Arsa barusan.


Beberapa orang yang melihat tamparan keras mendarat di pipi Alia, hanya terdiam sekaligus terkejut akan perbuatan Arsa barusan. Alia terdiam dan menunduk tanpa sama sekali memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Arsa.


Arsa menarik baju Alia berulang kali membuat Alia tergerak dan hampir jatuh, namun Alia berusaha untuk tetap berdiri tegak dan menopang tubuhnya, agar Arsa bisa meluapkan segala emosinya kepada dirinya. Alia diam dan tetap diam walau Arsa memukul beberapa kali area dadanya Alia tetap memilih untuk diam. Arsa menangis dengan tersedu sambil terus menarik baju Alia dan juga memukul dada Alia, hingga setelah beberapa kali melakukannya barulah Arsa merosot jatuh ke bawah dan langsung di tangkap oleh Alia.


"Kembalikan anak ku... huhuhu kembalikan Fabian... akhhh ahhhh kembalikan... Fabian..." ucap Arsa dengan tangis yang tersedu membuat Alia langsung memeluk dengan erat tubuh Arsa.


"Maafkan saya... maafkan saya..." ucap Alia secara terus menerus dengan nada yang terisak sambil memeluk tubuh Arsa dengan erat.


Pemandangan yang begitu menyesakkan hati, membuat beberapa orang pelayat yang ada di sana ikut terhanyut ke dalam tangisan keduanya. Ardan yang baru saja mengantar Allea ke dalam mobil tadinya hendak menghentikan aksi ibunya itu, namun ketika kemarahan ibunya berubah menjadi ungkapan rasa kehilangan yang mendalam di pelukan Alia, membuat Ardan mengurungkan niatnya dan memberikan keduanya ruang untuk saling berbagi cerita.


Zayan yang melihat istrinya seperti itu, lantas meminta para pelayat untuk pulang terlebih dahulu dan memberikan ruang pada keluarga inti untuk saling menumpahkan emosinya.


Baru setelah beberapa perawat pergi dari pemakaman, Zayan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arsa dan juga Alia kemudian mendekap tubuh istrinya itu dan bersiap untuk menggendongnya.


"Ar antarkan Alia pulang ke rumahnya dengan selamat, papa dan mama pulang dulu." ucap Zayan sambil menggendong tubuh istrinya yang kini sedang rapuh.


"Iya pa, papa hati hati." ucap Ardan yang lantas di balas Zayan dengan anggukan kepala kemudian berlalu pergi dari sana dengan membawa Arsa bersamanya.


Melihat kepergian Zayan dari sana, Ardan kemudian lantas membantu Alia bangkit dari posisinya dan mulai menuntunnya menuju ke arah mobil untuk pulang ke rumah.


****


Satu tahun kemudian

__ADS_1


Hari ini adalah tepat satu tahu kematian Fabian, Alia yang sedang melayani pelanggan nampak terlihat menatap ke arah bunga mawar putih dengan tatapan yang melamun membayangkan kenangannya bersama Fabian ketika Fabian masih hidup.


"Mbak saya mau bunga ini, bisa tolong rangkaikan?" ucap salah satu pembeli yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Alia berada.


Tidak ada tanggapan apapun dari Alia karena memang kini ia tengah melamun sambil menatap ke arah bunga mawar putih tersebut, yang membuat pembeli tersebut lantas mengerutkan keningnya dengan bingung karena Alia sedari tadi hanya terdiam tanpa menanggapi ucapannya.


"Mbak... mbak... halo..." ucap pembeli itu lagi yang lantas langsung membuyarkan lamunan Alia.


"Eh iya maaf... kenapa ya mbak?" ucap Alia kemudian.


"Saya mau bunga itu, bisa tolong rangkaikan?" ucap pembeli tersebut kembali mengulang permintaannya.


Mendengar permintaan pelanggan tersebut, Alia lantas langsung melangkahkan kakinya dan membuatkan pesanan itu. Hingga beberapa menit berkutat dengan bunga yang di minta oleh pembeli tersebut barulah kemudian Alia memberikan pesanan pembeli tersebut yang sudah selesai.


Setelah kepergian pembeli itu dari tokonya, Alia mendudukkan dirinya dengan lemas di kursi kasir. Kepergian Fabian benar benar menyisakan luka yang mendalam pada hati Alia, Alia tidak pernah melupakan kejadian di mana ledakan bom di Bandara kala itu merenggut nyawa seseorang yang ia cintai. Tidak ada kata move on ataupun berhasil bangkit dalam kamus Alia karena yang Alia lakukan selama satu tahun belakangan ini hanyalah untuk melanjutkan hidup dan tidak lebih dari itu.


Alia menghela nafasnya dengan panjang kemudian bangkit dari posisinya, di ambilnya satu tangkai bunga mawar putih dengan membawa tas kecil miliknya, hari ini Alia memilih untuk menutup tokonya lebih awal tepat di hari satu tahun kematian Fabian.


Alia melangkahkan kakinya secara perlahan di bahu jalan, entah mengapa hari ini Alia tidak ingin menaiki angkutan umum atau sejenisnya. Alia memilih untuk berjalan kaki dan melepas beban penatnya perlahan di sepanjang langkah kakinya yang menyusuri jalanan kala itu.


Suara notifikasi dari ponselnya mulai terdengar di telinga Alia, membuat Alia lantas langsung mengambil ponsel di tasnya dan melihat ke layar ponsel miliknya.


Al jangan lupa hari ini akan ada satu tahunan mengenang kematian Fabian, datanglah ke rumah Al...


Pesan singkat dari Ardan tertulis jelas di layar ponselnya, membuat Alia lantas menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat pesan singkat dari Ardan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku menginjakkan kaki ku di kediaman Zayan ketika aku lah yang menjadi penyebab kematian putra bungsunya, aku merasa seperti tidak pantas di perlakukan dengan baik oleh mereka, mereka terlalu baik padaku yang lebih pantas di sebut sebagai seorang pembunuh." ucap Alia dengan lirih sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri bahu jalan.


Alia menghentikan langkah kakinya ketika ia sampai di sebuah jembatan besar yang terbentang seluas mata memandang. Alia berdiri di tepi jembatan dan memandang ke arah sungai dengan tatapan yang kosong. Pikirannya melayang jauh membayangkan kenangan demi kenangan yang telah ia lalui bersama dengan Fabian. Walau sudah satu tahun berlalu, namun Alia sama sekali masih belum terbiasa akan kepergian Fabian yang meninggalkannya secara mendadak.


Alia menundukkan kepalanya dan menangis dengan terisak mengingat setiap kenangannya bersama dengan Fabian, Alia bahkan langsung mengusap air matanya dengan kasar ketika merasa air matanya terus terusan turun tanpa ia minta sedikitpun.


Senyuman Fabian yang terekam jelas di benaknya benar benar menyisakan luka yang mendalam untuk Alia.


Alia, apa kamu baik baik saja?


Kata kata Fabian terakhir kalinya waktu itu, terekam jelas di ingatannya ketika kenyataan bahwa mobil Fabian lah yang menabrak mobil kedua orang tuanya terungkap ke permukaan.


Alia kembali menangis dengan tersedu ketika kata kata tersebut kembali terlintas di benaknya tanpa ia minta sekalipun.


"Aku tidak baik baik saja Bi... apakah kamu tahu bahwa aku sangat tersiksa di sini... aku benar benar tidak sanggup jika hidup seperti ini...." ucap Alia sambil terisak dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.


Hingga kemudian sebuah pemikiran yang tidak pernah Alia pikirkan sebelumnya, lantas membulatkan tekadnya untuk melakukan hal tersebut. Perlahan tapi pasti Alia mulai naik ke pembatas jembatan sambil menutup matanya sebentar kemudian membukanya secara perlahan.


"Ma... aku sudah berhasil memberikan kak Allea kebahagian, sekarang... biarkan aku yang mendapatkan kebahagian ma..." ucap Alia untuk yang terakhir kalinya.


Byur......


Tubuh Alia terjun bebas meluncur ke bawah dan masuk ke dalam derasnya arus sungai saat itu, bagi Alia tanggung jawabnya kini sudah selesai, tugas yang di berikan kedua orang tuanya untuk mengantarkan Allea kepada kebahagian, kini sudah terwujud dan saatnya Alia yang menjemput kebahagiannya, walau jalan yang di lalui Alia salah, namun baginya ini adalah akhir yang bahagia daripada ia harus menanggung kesedihan yang tidak berkesudahan setelah kepergian Fabian dari hidupnya.


...The End...

__ADS_1


__ADS_2