
Halaman depan Resto
Terlihat Ardan tengah duduk terdiam sambil menatap ke arah Allea yang sedari tadi sibuk hilir mudik ke kanan dan ke kiri mengejar kupu kupu. Ada perasaan bahagia tersendiri bagi Ardan ketika melihat Allea tertawa seperti itu.
"Ternyata melihatnya seperti itu sudah cukup untuk mendamaikan hati ku." ucap Ardan dengan lirih pada dirinya sendiri.
Awalnya Ardan mengira hatinya akan semakin suntuk atau bahkan moodnya lebih buruk ketika bertemu dengan Allea, tapi nyatanya sungguh di luar dugaan. Bertemu dengan Allea membuat hatinya kembali damai dan juga tenang seakan dapat memberikan obat tersendiri bagi Ardan untuk menghibur pelipur laranya walau Allea tak melakukan apapun.
Allea nampak antusias pada kupu kupu yang sedang terbang ke sana ke mari dengan indahnya, hingga kemudian ia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardan lalu tersenyum dengan manisnya.
"Apa kau tahu... tentang... siklus hidup mereka?" tanya Allea kemudian sambil tersenyum senang ke arah Ardan.
Ardan yang mendengar hal itu lantas dengan spontan langsung menggeleng sambil menutup kedua telinganya. "Hentikan! aku tidak mau lagi mendengar cerita kupu kupu, kau sudah mengulangnya berkali kali aku tidak mau dengar lagi." ucap Ardan kemudian yang seakan tahu Allea akan kembali membahas tentang kupu kupu padanya.
"Kenapa begitu... me..reka sangat indah?" ucap Allea kemudian sambil berusaha membuka kedua tangan Ardan yang menutupi telinganya dengan senyum yang menyertainya.
"Tidak mau!" ucap Ardan setengah berteriak, membuat Allea lantas semakin tertawa melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Ardan.
****
Toko Furniture
Terlihat Alia dan juga Fabian tengah sibuk memilih beberapa furniture untuk Resto miliknya. Fabian ingin mengganti nuansa baru untuk Restonya sehingga tidak tampak monoton dan itu itu saja.
"Bukankah furniture di Resto mu masih bagus? mengapa ingin menggantinya?" tanya Alia yang penasaran sedari tadi.
"Aku hanya ingin mengganti suasana saja." ucapnya dengan singkat sambil terus menatapi satu persatu furniture yang terpajang di sana.
"Lalu mau kau apakan barang barang lama di Resto mu?" tanyanya lagi.
"Membuangnya" ucap Fabian yang lantas mendapat tatapan tidak percaya dari Alia ketika mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Ha?" ucap Alia terkejut.
"Aku hanya bercanda, biasanya aku akan menaruhnya di cabang Resto ku yang baru, jika memang tidak bisa aku menyumbangkannya kepada orang yang membutuhkan." ucap Fabian kemudian.
"Oh begitu..." jawab Alia singkat.
Ketika keduanya sedang asyik berbincang dari arah belakang seorang karyawati nampak mendekat ke arah keduanya.
"Permisi" ucap karyawati dengan nametag Lina di dadanya.
Baik Alia dan juga Fabian yang mendengar panggilan tersebut lantas langsung menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang memanggil mereka berdua.
"Mohon maaf sebelumnya bisa minta waktunya sebentar?" tanya Lina dengan sopan yang di balas Alia dengan anggukan.
Melihat hal itu Lina nampak tersenyum kemudian memberinya selembar brosur membuat Alia dan Fabian menatap brosur tersebut dengan bingung.
"Kami sedang mengadakan diskon besar besar pada furniture rumah tangga untuk pasangan yang baru menikah atau akan melangsungkan pernikahan, jika kalian berdua sudah lama menikah kalian juga bisa mendapatkan diskon, hanya saja mungkin akan dapat 5 persen saja, apa kalian berdua berminat?" tanya Lina mempromosikan furniture untuk perabotan rumah tangga.
"Sudah biarkan saja Al, lumayan kan diskonnya besar jarang jarang loh." ucap Fabian dengan nada setengah berbisik di telinga Alia, membuat Alia langsung terdiam seketika. "Baiklah mbak kita akan melihatnya." ucap Fabian kemudian sambil tersenyum ke arah Lina.
"Tentu saja, mari..." ucap Lina dengan ramah sambil menunjuk ke arah depan agar Fabian dan juga Alia mengikuti langkahnya.
Pada akhirnya karena di iming imingi diskon besar keduanya lantas mengikuti langkah Lina ke arah perabot rumah tangga. Seulas senyum terbit dari wajah Fabian ketika Lina menghentikan langkah kakinya pada sebuah ranjang dengan ukuran king size.
"Ini adalah salah satu produk yang kami tawarkan untuk anda para pengantin baru, bukankah ukurannya sangat luas? tentu sangat cocok di gunakan untuk anda yang masih merasa saling memiliki dan tidak ingin menyudahi olahraga panas kalian..." ucap Lina terus menjelaskan dengan fasih.
Sedangkan Alia yang mendengar penjelasan Lina lantas melongo dengan kedua pipinya yang sudah memerah karena malu akan penjelasan yang sangat intim itu. Sementara Fabian yang melihat ekspresi Alia lantas tidak bisa menahan tawanya, benar benar mirip dengan kepiting rebus.
"Boleh kita mencobanya mbak?" tanya Fabian kemudian yang lantas membuat Alia menatap tajam ke arah Fabian.
"Tentu saja anda bisa mencoba mengetes tingkat keempukan serta kenyamanan ranjang ini pak." ucap Lina dengan ramah.
__ADS_1
"Bi..." panggil Alia sengaja memanjang agar menghentikan aksi Fabian.
"Sudah ikuti saja" ucap Fabian sambil mengedipkan matanya ke arah Alia.
Fabian kemudian lantas menarik tangan Alia dan mengajaknya untuk duduk di ranjang tersebut, Lina yang menatap interaksi keduanya lantas tersenyum ketika melihat ekspresi wajah Alia yang malu malu namun tetap saja menuruti langkah Fabian.
"Sepertinya mereka pengantin baru." ucap Lina dalam hati sambil memperhatikan keduanya sedari tadi.
"Bukankah ini sangat empuk Al?" tanya Fabian kemudian sambil memposisikan dirinya naik turun di kasur seakan mencoba seberapa empuk kasur tersebut.
"Bian hentikan kamu membuat ku malu!" ucap Alia memperingati Fabian dengan nada yang lirih namun penuh penekanan di setiap kata katanya, sedangkan Fabian malah tertawa bahagia melihat ekspresi wajah Alia barusan.
"Baiklah saya akan mengambil yang ini." ucap Fabian kemudian dengan nada yang entengnya membuat Alia yang mendengar hal itu lantas langsung menarik baju Fabian.
"Bi... gak lucu ah..." ucap Alia kemudian dengan nada setengah berbisik.
"Aku memang ingin membelinya untuk ruangan pribadi ku, berhubung ini bagus dan aku suka jadi aku mengambilnya, apakah itu salah?" ucap Fabian dengan santainya membuat Alia tidak bisa lagi berkata kata untuk sekedar menyanggah ucapan Fabian barusan.
"Baiklah pak kalau begitu ijinkan saya mengambil foto kalian berdua untuk kami pajang di area depan khusus perabot rumah tangga." ucap Lina kemudian.
"Kenapa harus foto? bukankah tadi kamu tidak mengatakan apa apa?" tanya Alia kemudian.
"Ini hanya formalitas bu, tapi kalau ibu keberatan kami tidak akan memaksanya." ucap Lina dengan sopan.
Alia yang mendengar hal itu lantas langsung menatap ke arah Fabian seakan bertanya tentang pendapat Fabian akan hal ini.
"Baiklah mari kita lakukan." ucap Fabian kemudian.
"Apa kamu yakin Bi?" tanya Alia kembali meyakinkan.
"Tentu saja."
__ADS_1
Bersambung