
Toko Alia
Setelah Fabian menyelesaikan urusannya dengan Setya, Fabian lantas kembali ke dalam toko untuk menepati janjinya pada Alia dan menjelaskan segalanya.
Klinting klinting...
Alia yang mendengar bel pintu masuk berbunyi lantas langsung dengan spontan menoleh ke arah pintu masuk. Dari arah luar terlihat Fabian sedang melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Alia berada.
"Aku akan menjelaskan segala hal yang ingin kamu ketahui Al..." ucap Fabian dengan nada yang lirih ketika berhenti tepat dihadapannya.
Alia yang melihat wajah sendu dari Fabian lantas langsung menghela nafasnya panjang. Jika sudah begini Alia yang tadinya kesal akan kelakuan Fabian mendadak menjadi luluh ketika melihat wajah lelah milik Fabian.
"Duduklah..." pinta Alia.
Setelah memastikan Fabian duduk, Alia kemudian berlalu pergi masuk ke dalam sebentar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, membuat Fabian yang melihat Alia pergi lantas menatap dengan kebingungan.
"Apa yang tengah gadis itu lakukan?" ucap Fabian dalam hati bertanya tanya sambil terus menatapi kepergian Alia.
Beberapa menit menunggu, dari arah dalam Alia terlihat keluar sambil membawa secangkir teh dan langsung meletakkannya di atas meja.
"Ada apa dengan penampilan mu itu Bi? tidak biasanya kau terlihat kusut seperti ini?" ucap Alia sambil menyodorkan secangkir teh tersebut, kemudian menatap ke arah Fabian dan agak sedikit heran karena penampilan Fabian tidak seperti biasanya.
Untuk ukuran Fabian yang selalu tampil perfeksionis, membuat Alia lantas sedikit bingung sekaligus bertanya tanya akan apa yang telah terjadi hingga penampilan Fabian benar benar berubah. Fabian terlihat seperti tak terurus dan tidak terlalu memikirkan penampilannya, apalagi di tambah dengan di mana di sekitaran area dagu dan pipinya di tumbuhi bulu bulu halus jambang sedangkan bajunya terlihat ala kadarnya saja, sungguh sangat jauh berbeda dengan Fabian yang biasanya.
"Apakah buruk? akhir akhir ini aku tidak terlalu memperhatikan penampilan ku..." ucap Fabian sambil meraba area dagunya dan memang baru ia sadari bahwa ternyata di area sana sudah tumbuh bulu bulu halus jambang.
"Em aku rasa tidak terlalu buruk, hanya saja ini seperti bukan dirimu..." ucap Alia kemudian dengan nada yang terdengar santai sambil menatap ke arah Fabian dari atas hingga bawah.
__ADS_1
Seulas senyum terbit dari wajah Fabian ketika ia melihat Alia sudah mulai bisa berbincang dengan nada yang lebih santai tidak seperti kemarin kemarin. Fabian yang mulai mendapatkan celah, lantas tidak ingin menyia-nyiakannya begitu saja kesempatan yang datang kali ini.
"Maafkan aku Al..." ucap Fabian kemudian, membuat Alia lantas menatap dengan lekat manik mata Fabian mencoba mencari kebenaran pada manik mata laki laki di hadapannya.
"Apa kali ini kau sungguh sungguh?" ucap Alia kemudian dengan manik mata yang menelisik menatap ke arah Fabian.
"Aku sungguh sungguh minta maaf Al, untuk kelakuan ku waktu di Bazar, sikap ku yang selalu egois, dan untuk aku yang meninggalkan mu di Rumah makan waktu itu. Aku menyesal Al benar benar menyesal... maukah kamu memaafkan ku?" ucap Fabian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Alia.
"Buktikanlah dengan tindakan Bi, jangan hanya ucapan semata." ucap Alia kemudian dengan nada bicara yang datar.
"Tentu Al... tentu saja..." ucap Fabian dengan raut wajah yang gembira ketika mendengar Alia bersedia memaafkannya.
"Jika aku meminta mu untuk bertemu dengan Shila... apakah kamu bersedia?" ucap Alia kemudian.
Ekspresi wajah Fabian yang tadinya bahagia, lantas langsung berubah menjadi datar ketika mendengar ucapan Alia yang menyuruhnya untuk menemui Shila.
"Lakukanlah sekali saja Bi, tidakkah kamu merasa kasihan pada Shila?" ucap Alia dengan nada yang memohon.
"Aku tidak menyukainya, Shila sudah terlanjur membuat ku kecewa dan kamu malah menyuruh ku untuk menemuinya, jangan gila Al..." ucap Fabian dengan nada yang sinis.
"Hanya sekali Bi... sekali saja..." ucap Alia kembali memohon kepada Fabian.
Sedangkan Fabian yang mendengar ucapan dari Alia lantas langsung bangkit bersiap untuk pergi.
"Sepertinya aku tidak bisa... aku minta maaf Al." ucap Fabian kemudian berbalik badan dan berlalu pergi.
"Alasan ku menyuruh mu untuk pergi karena aku tahu rasanya Bi, aku tahu rasanya bagaimana tidak di inginkan oleh seseorang hingga terlintas pemikiran untuk mengakhiri hidup ku sendiri... kau tahu? rasanya begitu sangat menyesakkan, hingga rasanya begitu penuh di dada namun kau tidak bisa melampiaskannya kepada siapapun!" teriak Alia yang lantas langsung menghentikan langkah kaki Fabian.
__ADS_1
Mendengar ucapan Alia barusan tentu saja membuatnya frustasi, di usapnya dengan kasar wajahnya kemudian berbalik badan dan menatap ke arah Alia.
"Baik.... aku akan pergi asal kamu juga ikut pergi bersama ku!" ucap Fabian kemudian pada akhirnya.
Fabian benar benar tidak bisa menulikan pendengarannya begitu saja ketika mendengar jeritan hati Alia yang menyuruhnya untuk menemui Shila. Hingga pada akhirnya Fabian malah memilih menuruti ucapan gadis itu dan menurunkan sedikit egonya.
Alia yang mendengar ucapan Fabian barusan tentu saja senang bukan main, hingga ia kemudian melangkah ke arah Fabian dengan langkah lebar dan memeluk Fabian dengan erat.
"Terima kasih banyak Bi... terima kasih..." ucap Alia sambil mendekap dengan erat tubuh Fabian.
Yang sebenarnya terjadi sebelum Fabian masuk...
Alia yang penasaran akan hubungan Setya dan juga Fabian, lantas langsung melangkahkan kakinya mengikuti Fabian dan juga Setya.
"Kau yang harusnya lebih sadar Bi, lihatlah Shila di sana menderita, dia bahkan terlihat seperti mayat hidup di Rumah sakit... tapi kau malah asyik berduaan dengan dia." ucap Setya dengan nada yang menyindir.
"Kak, aku dan Shila sudah tidak ada hubungan apapun... antara kami berdua sudah selesai tepat setelah semua rahasia itu terbongkar." ucap Fabian dengan nada yang kesal karena Setya sama sekali tidak mengerti walau Fabian sudah menjelaskannya secara berulang kali padanya.
"Shila sakit? tapi mengapa? apa jangan jangan karena gagalnya pertunangan keduanya yang membuat Shila menjadi frustasi?" ucap Alia bertanya tanya dalam hati sambil terus memperhatikan dan mencuri dengar pembicaraan keduanya.
"Aku tidak menyangka kalau kata keluarga ternyata sangat gampang bagi kakak, di saat kakak berjuang mati matian untuk Shila agar mendapat kebahagiaannya, lalu mengapa kakak malah menyuruh ku untuk meninggalkan keluarga ku? bukankah kakak egois?" ucap Fabian dengan tersenyum sinis kemudian pergi meninggalkan Setya begitu saja yang terdiam tanpa kata setelah mendengar ucapannya barusan.
Alia yang melihat Fabian hendak berlalu dari sana, lantas langsung melenggang pergi tepat sebelum Fabian berbalik badan dan meninggalkan Setya seorang diri di sana.
**
"Setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan untuk Shila, semoga dengan datangnya Fabian bisa menambah sedikit gairah hidup untuk Shila." ucap Alia dalam hati.
__ADS_1
Bersambung