Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Belajar untuk ikhlas


__ADS_3

Ruang perawatan Alia


Setelah puas mengatakan segalanya, baik Alia maupun Ardan lantas langsung berada dalam situasi yang hening. Di antara keduanya tidak lagi ada pembicaraan ataupun penyangkalan yang di lakukan Alia seperti tadi. Alia kali ini terlihat lebih banyak diam dan tidak lagi bertanya ataupun berusaha membujuk Ardan agar membatalkan keputusannya itu.


Satu persatu kenangan yang terjadi antara dirinya dan juga Fabian perlahan lahan mulai terlintas di benaknya, membuat air mata Alia tidak lagi bisa terbendung dan mengalir dengan derasnya membasahi pipi Alia saat ini, membuat Arda yang memang sejak tadi berada di sana, lantas langsung memeluk tubuhnya dengan erat dan mencoba untuk menenangkan Alia yang saat ini tengah dalam posisi yang terjatuh dan berduka.


Ditepuknya secara perlahan punggung Alia yang terlihat bergetar menahan tangisnya, berharap dengan hal tersebut Alia dapat menenangkan dirinya.


"Bi..." panggil Alia dengan nada yang lirih sambil menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak keluar dan terdengar oleh Ardan.


***


Sementara itu di ruang ICU, terlihat Arsa dan juga Zayan tengah menatap Fabian dari balik kaca pembatas di ruang ICU. Arsa menatap dengan tatapan yang sendu ke arah putranya yang tengah terbaring lemah tidak berdaya dengan berbagai macam peralatan yang tertempel di tubuhnya sebagai penunjang kehidupan Fabian.


Arsa merosot jatuh ke bawah mengambil posisi duduk dan bersandar pada dinding ruang ICU. Melihat istrinya yang seperti itu Zayan benar benar tidak tega, perlahan lahan Zayan ikut mengambil posisi berjongkok dan memeluk istrinya dengan erat kemudian mengecup puncak kepalanya berusaha memberikan ketenangan kepada Arsa saat ini.


"Apa... apa mama akan sanggup hidup tanpa Fabian pa?" ucap Arsa dengan nada yang lirih dan bergetar.


Zayan yang mendengar ucapan istrinya barusan, lantas diam diam mengusap air mata yang hampir merembes di sudut matanya. Zayan ikut hancur melihat putranya terbaring lemah seperti itu, namun sebagai kepala keluarga Zayan harus bisa tegar untuk menguatkan keluarganya terutama Arsa yang terlihat sangat rapuh apalagi ketika mendengar kabar bahwa Arsa harus melepas Fabian dengan ikhlas.


Tidak ada satu pun orang tua yang mampu melihat kepergian anak anaknya, namun Arsa dan Zayan juga berada di antara pilihan yang sulit mengingat kondisi Fabian yang sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan hidupnya.

__ADS_1


Zayan memeluk tubuh istrinya yang kembali bergetar dengan dekapan yang erat, tangis Arsa kembali pecah seakan tidak rela melepaskan kepergian putranya seperti ini. Terselip perasaan menyesal dalam diri Arsa ketika sejak kecil ia selalu membanding bandingkan Fabian dan juga Ardan, Arsa kira Ardan lah yang paling rapuh di antara kedua putranya, namun nyatanya Arsa salah Fabian juga membutuhkan kasih sayang dari dirinya, kesalahan terbesarnya adalah ia tidak bisa membagi perhatian dan kasih sayangnya kepada kedua putranya dengan adil, yang membuat Arsa semakin terpuruk ke dalam jurang penyesalan ketika melihat satu putranya sedang berada di ambang kematian saat ini.


"Maafkan mama Bi..." ucap Arsa dalam hati sambil menangis tersedu sedu.


***


Sementara itu di Galeri seni, Shila terlihat tengah bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit melihat keadaan Fabian. Sejak berita pengeboman di Bandara SH sudah menyebar, Shila menjadi sangat khawatir akan keadaan Fabian saat ini. Shila benar benar tahu ini adalah ulah dari Rendra, hingga membuat Shila sangat marah dan hendak memberi perhitungan kepada Rendra.


Namun ketika Shila mendengar berita tenta Rendra yang tewas ketika pengeboman tersebut terjadi, membuat dirinya lantas tersenyum dengan senang karena tanpa mengotori tangannya Rendra sudah pergi ke nirwana dengan sendirinya.


Shila melangkahkan kakinya keluar dari Galeri seni secara perlahan tapi pasti. Hanya saja ketika Shila baru saja menutup pintu Galeri seni, sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya lantas menghentikan gerakannya dan membuat Shila langsung berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara.


"Apa kamu senang bermain petak umpet bersama mama dan kakak, Shila?" ucap sebuah suara yang ternyata adalah Satria kakaknya sendiri.


"Bagaimana kakak bisa tahu aku ada di sini?" tanya Shila dengan nada bicara yang rendah namun masih bisa di dengar oleh Satria.


"Yah... memang membutuhkan waktu bagi kakak untuk melacak keberadaan mu namun itu sepadan karena pada akhirnya kakak menemukan mu." ucap Satri dengan nada yang santai sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Shila.


Shila yang melihat kakaknya mendekat, lantas langsung celingukan ke samping kanan dan kiri mencoba mencari cara untuk kabur dari Satri saat ini, hingga ketika Shila melihat ada celah di sebelah kanan barulah ia langsung mengambil langkah seribu berusaha untuk kabur dari Satria.


Hanya saya sayangnya, Shila tidak tahu bahwa Satria sudah mempersiapkan segalanya jika Shila berusaha kabur darinya. Tepat ketika Shila mulai berlari dari hadapan Satria, dua orang pria bertubuh tinggi tegap dengan stelan jas berwarna hitam formal, terlihat langsung menghentikan langkah kaki Shila dan memegang tangannya dengan erat agar tidak lagi bisa kabur.

__ADS_1


"Tidak ada lagi kabur kaburan kamu harus ikut kakak pulang dan berobat, tidak ada sanggahan apapun!" ucap Satria dengan tegas seakan tidak ingin di bantah lagi, kemudian mengkode kedua anak buahnya itu untuk membawa Shila masuk ke dalam mobil dengan cara apapun juga.


"Lepaskan aku... lepaskan aku..." teriak Shila meronta ronta berusaha untuk melepas cengkraman tangan kedua anak buah Satria.


***


Rumah Sakit


Ardan terlihat mendorong kursi roda Alia dengan perlahan menuju ke dalam ruang ICU, saat ini adalah waktu yang di sepakati oleh pihak keluarga untuk melepas alat bantu pada tubuh Fabian dan membiarkannya pergi dengan ikhlas.


Satu persatu pihak keluarga sudah berbicara dengan Fabian untuk yang terakhir, dan kini tinggal Alia yang di minta oleh Ardan untuk berpamitan dengan Fabian untuk yang terakhir kalinya.


Bau obat obat dan juga suara Electrocardiogram mulai terdengar menggema di ruangan itu, membuat detak jantung Alia kian berdebar dan tidak tega ketika melihat keadaan Fabian yang sangat mengkhawatirkan seperti itu.


Alia menggigit bibir bagian bawahnya berusaha untuk menahan tangisnya agar tidak keluar dan terdengar oleh Ardan dan juga Fabian yang sejak kehadirannya masih senantiasa menutup matanya.


Ardan kemudian menghentikan laju kursi roda tersebut ketika keduanya sampai tepat di sebelah ranjang Fabian.


"Kuatkan hati mu Al, katakanlah kata kata indah untuk mengiringi Fabian, biarkan dia pergi dengan tenang." ucap Ardan dengan nada yang lirih kemudian berlalu pergi meninggalkan Alia dan juga Fabian di ruangan tersebut untuk mulai berbicara berdua.


"Aku sudah ikhlas Bi.... jangan menyiksa dirimu seperti ini dan pura pura kuat... aku.. aku tidak akan menahan kepergian mu... aku... aku sudah mengikhlaskan mu." ucap Alia dengan lirih tepat setelah itu bunyi nada panjang dari alat Electrocardiogram terdengar menggema memenuhi ruangan tersebut membuat tangis Alia lantas pecah ketika mendengarnya.

__ADS_1


Titttttttttt


Bersambung


__ADS_2