Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Hanya milik ku!


__ADS_3

Toko Alia


Terlihat Ardan, Alia dan juga Allea kini tengah bergotong royong dalam membersihkan toko tersebut sekaligus merombak tata letak bagian dalamnya agar terlihat jauh lebih fresh dan juga baru. Sebenarnya itu hanya menjadi alasan, faktor utama perombakan itu karena beberapa tanaman hias terlihat layu dan sudah tidak segar lagi sehingga membutuhkan perombakan total.


Tawa kecil sesekali terdengar memenuhi ruangan tersebut, ketika melihat Ardan yang sedikit kesusahan dalam membereskan beberapa bunga yang terlihat berserakan dan juga layu di dalam pot. Kemeja warna biru laut milik Ardan bahkan sudah tidak lagi berbentuk karena banyaknya noda tanah yang terlihat menempel di sana. Membuat Alia dan juga Allea berkali kali tertawa karena melihat seorang tuan perfeksionis kini harus berpenampilan usang penuh dengan noda tanah seperti itu.


Ardan yang sadar Alia terus menertawakannya sedari tadi lantas melirik tajam ke arah Alia. "Hentikan tawa mu itu Al... aku melihatnya.." ucap Ardan yang tahu bahwa kini diam diam Alia tengah menertawakannya.


"Baiklah kak aku akan diam." ucap Alia sambil menahan tawanya agar tidak terdengar oleh Ardan. "Sepertinya aku akan membereskan bagian dalam dulu, kalian berdua lanjutkan sisanya... semangat!" ucap Alia kemudian bangkit berdiri seakan sengaja memberikan ruang untuk keduanya agar bisa lebih sering menghabiskan waktu berdua dan membangun kemistri sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi.


**


Setelah kepergian Alia dari sana, Ardan yang mulai gerah dan berkeringat lantas menyeka keringatnya begitu saja dengan tangan yang kotor, membuat keningnya seketika kotor terkena tanah basah.


Allea yang melihat hal itu lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardan kemudian memberikannya sapu tangan miliknya.


"Ini" ucap Allea tiba tiba yang lantas membuat Ardan yang ingin kembali membenarkan bunga langsung mendongak ketika mendengar suara Allea barusan.


"Tidak perlu" ucap Ardan sambil menolak secara halus sapu tangan kecil yang di sodorkan oleh Allea ke arahnya.

__ADS_1


"Kening mu kotor... gu.. gunakan ini untuk membersihkannya..." ucap Allea dengan nada yang malu malu.


Ardan yang mendengar ucapan Allea barusan, lantas dengan spontan langsung mengusap kembali keningnya dengan tangan yang kotor, membuat wajahnya semakin cemong karena terkena tanah yang basah dari tangannya.


"Ah sial..." ucap Ardan yang baru menyadari tangannya kotor.


Allea yang melihat hal tersebut tanpa bertanya kepada Ardan lantas dengan spontan mendekat dan mengusap kening Ardan secara perlahan, membuat Ardan seketika terdiam membeku ketika mendapat perhatian yang tiba tiba dari Allea barusan.


"Kenapa jantung ku berdetak dengan kencang? apakah aku benar benar jatuh cinta padanya?" ucap Ardan dalam hati bertanya tanya akan perasaannya sendiri.


Ardan yang merasa semakin tidak karuan kemudian berusaha untuk menghentikan gerakan tangan Allea yang masih mengelap keringatnya, rasanya jantungnya benar benar berdebar dengan kencang ketika posisi Allea dan dirinya sangatlah dekat hanya berjarak beberapa senti saja.


"Ehem biar aku melanjutkannya sendiri saja." ucap Ardan sambil mengambil sapu tangan di tangan Allea dan meneruskan membersihkan wajahnya yang kotor dengan asal karena salah tingkah.


**


Sementara ketiganya sibuk beres beres, Fabian yang sebenarnya sudah sampai sedari tadi hanya bisa menatap aktivitas ketiganya melalui mobil miliknya. Ada perasaan aneh dan juga takut ketika Fabian hendak melangkah masuk ke dalam dan menghampiri ketiganya. Ucapan Shila akan perjodohan di masa lalu terus berputar di kepalanya sejak tadi pagi, membuat Fabian serba salah dalam memutuskan tindakannya. Entah mengapa rasanya Fabian seperti ingin sekali menolak dan mengatakan tidak akan perjodohan tersebut, namun ia takut akan melukai Shila jika melakukannya.


"Kenapa aku malah terlihat seperti pencuri? aku bahkan tidak melakukan apapun." ucap Fabian mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua baik baik saja.

__ADS_1


Beberapa menit Fabian terlihat termenung beradu dengan pikirannya sendiri, pada akhirnya Fabian memilih untuk turun dan menghampiri ketiganya. Hanya saja langkah kakinya terhenti ketika deringan ponsel miliknya mulai terdengar nyaring di saku celananya.


Fabian mulai merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya untuk melihat si penelpon, namun langsung ia masukkan kembali ketika Fabian melihat nama Shila tertulis jelas pada layar ponsel miliknya. Ya ini adalah pertama kalinya bagi Fabian mengabaikan panggilan telpon dari Shila begitu saja, setelah bertahun tahun Shila selalu saja jadi prioritasnya selama ini.


Fabian terus melangkahkan kakinya ke arah toko, tanpa menggubris sama sekali panggilan telpon dari Shila. Membuat Shila yang berada tak jauh di mana mobil Fabian terparkir, lantas menatap ke arah kepergian Fabian dengan tatapan yang penuh amarah.


Sebenarnya sejak dari Resto Shila sudah membuntuti mobil milik Fabian, Shila yang berniat ingin memberitahu Fabian tentang kabar pertunangannya harus gagal karena Shila tanpa sengaja melihat Fabian melangkah dengan terburu buru menuju ke arah mobilnya.


Shila yang baru saja datang, tentu benar benar penasaran kemana perginya Fabian pagi pagi begini?


Dan ternyata dugaan Shila benar adanya. Fabian mendatangi Alia, gadis yang berhasil membuat perlakuan Fabian berubah kepadanya. Shila membenarkan rambutnya ke belakang dengan kasar, melihat Fabian berlarian menuju ke arah wanita lain membuat dirinya benar benar di bakar api cemburu dan perasaan yang kesal.


"Aaaaaaaaa... Bian hanya milik ku! milik ku...." ucap Shila dengan nada yang kesal sambil memukul mukul stir mobilnya karena saking kesalnya melihat Fabian malah pergi mendatangi wanita lain selain dirinya. "Aku tidak akan membiarkan Bian pergi dari sisiku... tidak akan..." ucap Shila lagi dengan menatap tajam ke arah punggung Fabian hingga menghilang dari pandangannya.


Shila yang terlanjur kesal akan apa yang telah terjadi barusan, lantas membanting setirnya ke arah kanan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota meninggalkan tempat tersebut.


Bagi Shila sendiri Fabian adalah seorang yang selalu ada untuknya baik di saat susah maupun senang, layaknya seorang anak pertama yang selalu mendapat kasih sayang serta apapun yang ia mau, di saat kehadiran anak yang kedua membuat segala kasih sayang orang tua yang semula tercurah padanya harus terputus dan berganti kepada adiknya.


Itulah yang kini di rasakan oleh Shila, setelah sekian lama kebersamaan dan juga kasih sayang yang dirasakan oleh Shila harus mendadak hilang dan berganti hanya karena seorang wanita yang mampu mengobrak abrik hati Fabian, walau keduanya belum lama kenal.

__ADS_1


Tidak ada yang menginginkan tersisih dari hati seseorang, namun Fabian juga tidak bisa berbuat apa apa karena cinta tidak akan bisa memilih kemana arah ia akan berlabuh dan singgah di hati seseorang.


Bersambung


__ADS_2