
"Kak Setya..." ucap Fabian tepat setelah membuka pintu unit Apartment milik Ardan yang ternyata tamu itu adalah Setya.
"Bi... aku..." ucap Setya hendak mengatakan maksud dan tujuannya namun sudah terlebih dahulu di potong oleh Fabian.
"Sebaiknya kakak pergi dari sini, kedatangan mu sama sekali tidak di harapkan di sini!" ucap Fabian dengan nada bicara yang datar dan juga dingin, benar benar berbanding terbalik dengan Fabian yang dulu jauh sebelum segala hal buruk terjadi pada mereka.
"Bukankah kata katamu sungguh tidak sopan Bi? aku bahkan baru datang dan kamu malah langsung mengusir ku seperti ini." ucap Setya dengan nada yang mencoba untuk sebisa mungkin netral setelah mendengar perubahan nada bicara dari Fabian barusan.
"Apakah kak Setya tidak mendengar suara bising di dalam, kami sedang tidak dalam keadaan yang baik baik saja untuk menerima tamu tak di undang, jadi aku mohon pada kak Setya mengertilah sedikit saja kalau ini bukanlah waktu yang tepat untuk kak Setya datang kemari." ucap Fabian dengan nada yang memohon seakan meminta Setya untuk memahami posisinya saat ini.
Setya yang mendengar ucapan Fabian barusan lantas terdiam sebentar.
"Baiklah jika memang Ardan tidak bisa di ganggu, lalu bolehkah aku berbicara sesuatu dengan mu?" ucap Setya yang tak pantang menyerah walau ucapan Fabian barusan sudah sanga jelas mengusirnya dari sana.
Fabian yang mendengar hal tersebut lantas menghela nafasnya panjang, dengan perlahan Fabian kemudian lantas melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan dan membiarkan pintu unit Apartment tertutup begitu saja.
"Aku tidak punya waktu lama kak, jadi aku harap kak Setya tidak membicarakan hal yang tidak penting saat ini." ucap Fabian dengan nada yang datar seakan mengisyaratkan kepada Setya bahwa ia sana sekali tidak menginginkan pembicaraan ini berlangsung.
Setya yang mendengar hal tersebut tentu saja senang bukan main, Setya yang yakin Fabian pasti akan menuruti ucapannya mengingat dirinya sudah di anggap Fabian sebagai kakaknya sendiri sejak kecil hingga saat ini lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Fabian berdiri.
"Aku datang ke sini hanya ingin meminta maaf padamu dan juga Ardan, Shila sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Sifat manja dalam dirinya lah yang membuat pintu hatinya tertutup hingga melakukan hal yang keji itu. Kakak mohon maafkan Shila Bi, sambung lah kembali tali pertunangan yang sudah terputus beberapa waktu lalu, kamu mau kan?" ucap Setya dengan nada yang merendah seakan sedang berusaha untuk membujuk Fabian agar mau mengabulkan permohonannya.
Sedangkan Fabian yang mendengar hal tersebut tentu saja terkejut, bisa bisanya Setya mengatakan semua hal itu dengan begitu mudahnya tanpa memperdulikan perasaan keluarga yang di tinggalkan sama sekali.
__ADS_1
"Apa kakak kira kesalahan yang di perbuat Shila itu kesalahan kecil yang akan mudah di lupakan ketika kita bangun tidur? jawabannya tentu saja tidak kak, kak Ardan bahkan butuh waktu bertahun tahun untuk pulih ketika berpikir bahwa kematian kak Rima adalah akibat dari kelalaiannya sendiri, sedangkan Shila... bukannya meminta maaf dan mempertanggung jawabkan kesalahannya, yang di lakukan Shila malah melarikan diri ke luar negeri lalu datang beberapa tahun kemudian dan bersikap seakan semua baik baik saja dan tidak ada yang terjadi, apa menurut kak Setya itu adil bagi kak Ardan yang berjuang mati matian untuk bangkit dari rasa keterpurukannya?" ucap Fabian dengan nada yang kesal karena Setya terlihat begitu egois dan hanya memikirkan posisi Shila saja tanpa berpikir bahwa ada banyak orang yang tersakiti karena ulah dari Shila.
"Bukan begitu maksud ku, hanya saja aku..." ucap Setya hendak membela diri namun malah di potong oleh Fabian yang memang dari awal tidak menginginkan adanya pembicaraan ini.
"Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku bahkan sama sekali tidak berniat untuk menyambung tali pertunangan itu karena aku paling benci seorang pembohong seperti Shila! sebaiknya kakak pulang sekarang dan aku harap kak Setya tidak pernah datang kembali lagi ke sini dan melakukan gal yang tidak perlu." ucap Fabian sambil melangkahkan kakinya pergi hendak masuk ke dalam unit Apartment.
"Shila benar benar down Bi... dia bahkan beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya sendiri, apa kamu tidak kasihan padanya?" ucap Setya lagi yang lantas membuat langkah kaki Fabian terhenti seketika tepat setelah mendengar ucapan dari Setya barusan.
"Sepertinya itu tidak lagi menjadi urusan ku kak, maaf kakak salah orang jika datang ke sini hanya untuk memberikan kabar buruk itu." ucap Fabian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Setya, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam begitu saja tanpa memperdulikan Setya yang masih berada di luar.
Bruk
Suara pintu tertutup cukup keras membuat Setya lantas menatap dengan tatapan yang sendu ke arah pintu unit Apartment milik Ardan.
***
Malam harinya
Di sebuah ruang kerja dengan kondisi ruangan yang gelap gulita, terlihat Setya tengah menghisap batang rokok di mulutnya secara perlahan kemudian menghembuskannya pelan hingga asap rokoknya membumbung tinggi memenuhi ruangan tersebut.
Sebuah deringan ponsel milik Setya yang mulai terdengar di telinga, lantas membuyarkan segala lamunan Setya. Dengan gerakan yang perlahan Setya mulai mengambil ponselnya dan menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo" ucap Setya setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
__ADS_1
"Bos saya sudah mengirimkan detail yang anda minta ke alamat email anda." ucap sebuah suara di seberang sana melaporkan apa yang telah ia temukan.
"Bagus" ucap Setya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya kemudian mematikan sambungan telponnya begitu saja.
"Jika aku tidak bisa melakukannya dengan cara yang halus mungkin aku bisa melakukannya dengan cara yang lain." ucap Setya sambil tersenyum iblis di tengah gelapnya ruangan tersebut.
****
Keesokan paginya
Alia yang baru saja selesai beres beres dan bersiap untuk pergi ke toko bunga, dikagetkan dengan suara nyaring seorang laki laki di luar rumahnya, membuat Alia lantas melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah depan untuk melihat siapa yang datang.
"Permisi mbak saya mau mengirimkan paket atas nama Alia Shakeela Zanitha." ucap seorang kurir ketika melihat Alia membuka pintu rumahnya.
"Iya dengan saya sendiri." ucap Alia sambil menatap ke arah paket yang kini di pegang oleh Alia.
"Silahkan tanda tangan di sini mbak..." pinta kurir tersebut sambil menunjuk ke arah sebuah surat serah terima yang ada di tangannya.
"Saya permisi" ucap kurir tersebut lagi setelah Alia menandatangani surat tersebut.
"Paket apa ini? perasaan aku tidak membeli apapun..." ucap Alia sambil terus menatapi paket yang baru saja sampai itu.
Bersambung
__ADS_1