
"Boleh ku tanya sesuatu Al?" ucap Fabian kemudian yang lantas membuat Alia langsung menatap dengan tatapan penuh tanda tanya ke arah Fabian.
"Katakan ada apa Bi?" tanya Alia dengan raut wajah yang penasaran.
Hening sesaat...
Membuat suasana yang canggung kembali tercipta diantara keduanya, hingga kemudian Fabian mulai membuka suaranya.
"Di toko tadi aku tidak sengaja melihat foto nomor plat mobil di rak, kalau boleh aku tahu kamu dapat dari mana foto tersebut?" tanya Fabian dengan nada yang ragu ragu.
"Foto ya... ah foto itu, aku mendapatkannya dari paket misterius yang aku terima pagi ini." jawab Alia dengan nada yang enteng namun malah membuat Fabian lagi lagi kembali terkejut ketika mendengarnya.
"Paket misterius?" ulang Fabian lagi yang lantas di balas Alia dengan anggukan kepala.
"Iya, akhir akhir ini aku sering sekali mendapatkan paket misterius. Ini bahkan sudah kali ke dua, hanya saja semua paket yang datang padaku sangat aneh karena semuanya berkaitan dengan mobil yang aku sendiri tidak tahu apa maksud dari paket tersebut dan dari mana asalnya." ucap Alia sambil mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti.
"Bisa aku minta tanda terima paket tersebut atau nomor resinya?" tanya Fabian kemudian yang lantas membuat Alia menatap ke arah Fabian dengan tatapan yang bingung.
"Apa ada sesuatu yang salah Bi?" tanya Alia kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Tidak ada, aku hanya sedang berjaga jaga saja... kamu tahu kan akhir akhir ini banyak sekali kejahatan yang menargetkan seorang gadis sebagai sasaran utama mereka, mendengar mu mendapat paket misterius membuat ku menjadi khawatir." ucap Fabian mencoba mencari alasan yang masuk akal agar Alia percaya padanya.
"Oh... santai saja Bi, aku yakin itu hanyalah orang iseng saja, jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir oke." ucap Alia lagi mencoba menenangkan Fabian.
"Jangan menyepelekan sebuah masalah Al, tunjukan padaku resinya oke? biar aku cari tahu siapa pengirim paket misterius itu." ucap Fabian lagi dengan nada yang memohon.
"Baiklah tapi ada syaratnya." ucap Alia yang lantas membuat Fabian langsung menatap ke arahnya.
"Katakan apa?" tanya Fabian kemudian.
"Syaratnya yaitu kita makan sekarang karena aku sudah lapar." ucap Alia kemudian sambil berlalu pergi menuju ke arah meja makan, membuat Fabian lantas tersenyum ketika mendengar syarat yang di berikan oleh Alia barusan.
"Apa kau yakin hanya itu syaratnya Al?" tanya Fabian kemudian sambil mengejar langkah kaki Alia yang sudah lebih dulu pergi ke arah meja makan.
__ADS_1
"Ayo pergi saja atau aku akan meminta syarat yang lebih tidak masuk akal lagi." ucap Alia lagi yang lantas membuat Fabian langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah meja makan untuk bergabung bersama Alia saat ini.
***
Keesokan paginya di Apartment Ardan
Ardan yang tengah tertidur pulas, lantas harus terbangun dengan tiba tiba ketika mencium bau gosong dari arah dapur.
Ditatapnya area kamar begitu ia terbangun untuk mencari keberadaan Allea, namun Ardan tidak melihat Allea di manapun pagi itu.
"Bau gosong apa ini?" tanya Ardan pada diri sendiri sambil menatap ke arah sekitar.
Ardan yang takut ada arus pendek atau sesuatu yang terbakar, lantas langsung bangkit untuk mencari keberadaan Allea.
"Lea kamu di mana? Lea..." teriak Ardan sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Ardan yang melihat ada sedikit kepulan asap dari arah dapur, dengan spontan langsung berlarian mendekat ke arah sana untuk mengecek apa yang sedang terjadi di area dapur.
Allea yang terkejut akan kehadiran Ardan yang tiba tiba, lantas mundur secara perlahan sambil menatap ke arah Ardan dengan tatapan yang ketakutan.
"Aku... aku hanya be.. berusaha untuk membuatkan mu sarapan... aku aku tidak tahu mengapa bisa sampai seperti itu..." ucap Allea sambil memainkan kuku kuku jarinya takut akan di marahi Ardan akan perbuatannya kali ini.
Ardan yang mendengar penjelasan dari Allea, lantas langsung menghela nafasnya dengan panjang sambil menatap ke arah Allea yang terlihat seperti tengah ketakutan saat ini.
"Sudahlah tak apa.. kemarilah.. hem.." ucap Ardan kemudian.
Melihat wajah ketakutan Allea benar benar meluluhlantahkan hati Ardan, Ardan tidak akan pernah bisa marah kepada Allea.
Allea yang mendengar ucapan dari Ardan barusan, hanya menggeleng dengan keras seakan takut jika mendekat ke arah Ardan maka nanti Ardan akan menghukumnya.
"Kemarilah aku tidak akan marah.." ucap Ardan lagi yang lantas membuat Allea mulai melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah di mana Ardan berada.
Ardan yang melihat Allea mulai melangkahkan kakinya mendekat, lantas langsung mengusap pundak Allea seakan berusaha menenangkan Allea.
__ADS_1
"Tidak papa... aku tidak akan marah, lain kali aku akan mengajari mu memasak agar ayamnya tidak lagi berwarna hitam seperti itu hem.." ucap Ardan dengan nada yang lembut memberikan pengertian kepada Allea.
Berbicara dengan Allea haruslah dengan nada yang lembut dan secara perlahan, bukan karena ia spesial melainkan lebih ke arah perasaan Allea yang sensitif membuat Ardan harus lebih ekstra bersabar jika berbicara dengan Allea.
"Kamu tidak marah?" tanya Allea lagi dengan nada yang lirih.
"Lihat mataku sekarang! apa aku terlihat marah saat ini?" tanya Ardan sambil mengarahkan wajah Allea agar menatap ke arah matanya.
Allea yang melihat manik mata Ardan, lantas langsung menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Mau peluk" ucap Allea kemudian yang lantas membuat Ardan langsung tersenyum menatap ke arah Allea.
"Kemarilah..." ucap Ardan sambil membuka tangannya dengan lebar agar Allea bisa masuk ke dalam pelukannya.
***
Sementara itu ruangan pribadi Fabian yang terletak di Restonya.
Terlihat Fabian tengah melangkahkan kakinya memasuki ruangannya di mana di sana sudah ada Valdi yang tengah sibuk mengotak atik laptop di sofa ruangan Fabian.
"Bos" sapa Valdi ketika melihat Fabian yang baru saja masuk.
"Apa kau sudah menemukan sesuatu tentang resi yang ku kirimkan kepadamu semalam?" tanya Fabian kemudian sambil mendudukkan bokongnya tepat di sebelah Valdi.
"Saya sudah mencoba menghubungi perusahaan jasa pengantar paket tersebut dan mereka mengatakan bahwa paket itu masih berasal dari kota yang sama dengan alamat penerima paket itu." ucap Valdi mulai melaporkan.
"Lalu bagaimana dengan si pengirim paket tersebut?" tanya Fabian lagi.
"Saya sedang mencoba mencari si pengirim paket karena menurut perusahaan jasa pengantar paket tersebut, pengirim jarang sekali melakukan kontak langsung kepada mereka jika hendak mengirimkan paket untuk Alia." ucap Valdi lagi yang lantas membuat Fabian terdiam seketika.
"Sepertinya ada orang lain yang mengetahui tentang kejadian 5 tahun yang lalu." ucap Fabian dalam hati.
Bersambung
__ADS_1