Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Kau pembunuh!


__ADS_3

"Kuatkan hati mu Al, katakanlah kata kata indah untuk mengiringi kepergian Fabian, biarkan dia pergi dengan tenang...." ucap Ardan dengan nada yang lirih kemudian berlalu pergi meninggalkan Alia dan juga Fabian di ruangan tersebut untuk mulai berbicara berdua.


Setelah kepergian Ardan dari sana, Alia terlihat mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Fabian kemudian menggenggam tangan laki laki itu dengan erat. Di ciumnya punggung tangan Fabian selama berkali kali yang terasa sangat dingin kala itu. Membuat Alia lantas menggigit bibir bagian bawahnya berusaha untuk tidak menangis dan menunjukkan bahwa ia bisa tegar walau mungkin perasaan Alia tengah hancur saat ini.


Alia menghapus air mata yang mengalir di sudut matanya dengan cepat, kemudian mencoba untuk tersenyum dengan lebar dan menatap ke arah Fabian yang kini tengah memejamkan matanya semenjak kedatangannya ke ruangan ini.


"Kau tahu Bi... harusnya kamu mendengarkan ku ketika aku menyuruh mu untuk lari ketika di Bandara... bukankah ini tidak adil? kamu menyelamatkan ku tapi kamu juga yang menggantikan posisi ku, apakah di sana banyak bidadari yang lebih cantik dari ku Bi? hingga kau memilih terus menutup matamu seperti ini, apa..." ucap Alia namun tercekat karena air matanya kembali meluncur membasahi pipinya tanpa Alia minta sekalipun.


Alia terdiam sejenak mencoba mengendalikan dirinya agar tidak kelihatan lemah, namun ketika Alia menoleh dan menatap ke arah Fabian, perlahan lahan air mata Fabian ikut menetes jatuh dan membasahi sudut matanya, membuat Alia langsung dengan spontan mengusap air mata Fabian yang turun melalui sudut matanya dengan pelan kemudian mengusap dengan lembut pipi Fabian.


"Aku tidak menangis Bi... jangan menangis ku mohon... karena aku kini tengah bahagia, kau tahu Bi? aku merasa seperti menjadi wanita paling beruntung di dunia ini karena merasa mendapatkan seseorang seperti mu, seseorang yang mau melakukan apapun dan mau berkorban apapun untuk wanita yang ia cintai, aku bahagia memiliki mu Bi, aku... aku sungguh bahagia..." ucap Alia sambil menahan isak tangisnya agar tidak keluar.


Hening sesaat tidak ada suara apapun kecuali bunyi yang berasal dari alat Electrocardiogram yang berbunyi menggema di ruangan tersebut. Hingga ketika Alia sudah benar benar siap untuk melepas Fabian, barulah Alia menarik nafas dalam dalam dan mulai berbicara kembali.


"Aku sudah ikhlas Bi.... jangan menyiksa dirimu seperti ini dan berpura pura kuat... aku.. aku tidak akan menahan kepergian mu... aku... aku sudah mengikhlaskan mu." ucap Alia dengan lirih sambil menahan tangisnya agar tidak keluar.


Tepat setelah Alia mengatakan hal tersebut, bunyi nada panjang dari alat Electrocardiogram terdengar menggema memenuhi ruangan tersebut, yang menandakan bahwa Fabian telah pergi untuk selamanya, membuat tangis Alia lantas pecah ketika mendengarnya.

__ADS_1


Titttttttttt


Alia memeluk dengan erat tubuh Fabian seakan enggan untuk di tinggal pergi Fabian untuk selamanya. Beberapa dokter dan juga perawat nampak berlarian masuk ke dalam ruang ICU di ikuti dengan Arsa, Zayan, Ardan dan juga Allea yang ikut masuk ke dalam.


Beberapa perawat yang datang mulai meminta Alia untuk memberikan ruang bagi dokter untuk memeriksa keadaan Fabian untuk terakhir kalinya, sayangnya Alia sama sekali tidak menggubris ucapan mereka dan tetap memeluk tubuh Fabian dengan erat, membuat beberapa perawat kesusahan untuk mengambil tindakan.


Ardan yang melihat Alia seperti itu, lantas langsung mendekat ke arah Alia kemudian menggendong tubuhnya dan menariknya mundur ke belakang.


"Tenanglah Al... biarkan Fabian pergi dengan tenang, jangan seperti ini." ucap Ardan yang berusaha menopang tubuh Alia.


Mendengar ucapan Ardan barusan tubuh Alia merosot ke bawah dan jatuh dengan posisi terduduk, tangis Alia begitu pecah beriringan dengan tubuh Fabian yang mulai di tutup selimut oleh para dokter yang menandakan Fabian telah tiada.


Dengan berlinang air mata Alia menatap Fabian untuk yang terakhir kalinya, kini tidak akan ada lagi seseorang yang akan mengganggunya di kala Alia sedang badmood, tidak ada lagi seseorang yang datang meminta maaf ketika ia melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya, dan tidak ada lagi yang akan menggodanya sepanjang hari.


Alia benar benar hancur sehancur hancurnya, ia bahkan sampai memukul dadanya beberapa kali karena merasakan sesak yang tidak kunjung berkesudahan.


Allea yang juga ikut merasakan kesedihan adiknya, hanya bisa memeluk Alia dengan erat tanpa mengatakan sepatah kata apapun, seakan Allea mencoba untuk menenangkan Alia dengan cara yang berbeda. Bukan dengan kata kata penenang atau sejenisnya, namun dengan sebuah pelukan hangat dan tepukan bahu pelan Allea berusaha membuat adiknya untuk tenang.

__ADS_1


Ardan yang melihat kondisi semua orang yang sedang kalut, membuatnya langsung terduduk di lantai dengan tatapan yang sendu menatap ke arah jasad Fabian yang terbaring di ranjang pasien dengan berbalutkan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"Apa yang harus kakak lakukan Bi? katakan pada kakak... apa yang harus kakak lakukan saat ini?" ucap Ardan dalam hati sambil menatap ke arah ranjang pasien dengan manik mata yang berkaca kaca.


Ardan benar benar tidak tahu harus bersikap seperti apa di saat saat seperti ini. Melihat kepergian Fabian tentu saja membuatnya hancur, meski Ardan sangat membenci Fabian karena sikap Zayan yang selalu membanding bandingkannya, namun kepergian Fabian bukanlah sesuatu yang ia inginkan.


"Meski aku membencinya, aku tidak pernah sekalipun meminta Mu untuk mengambilnya, namun mengapa Engkau malah mengambilnya Tuhan? bagaimana aku sanggup melewati kehidupan ku selanjutnya jika rumah yang semula menjadi tempat kebahagian kini dalam sekejap berubah menjadi penuh duka." ucap Ardan lagi dalam hati dengan menghela nafasnya panjang sambil terduduk lemas di lantai.


****


Tempat Pemakaman Umum


Siang hari itu juga Fabian di makamkan di salah satu Tempat Pemakaman Umum yang terletak tidak jauh dari kompleks perumahan keluarga Zayan. Cuaca yang saat itu sedang mendung membuat suasana duka kian terlihat menyelimuti pemakaman Fabian.


Perlahan lahan jasad Fabian mulai di kebumikan bersatu dengan tanah, membuat semua orang terdekat Fabian tak kuasa menahan tangisnya melepas kepergian Fabian untuk yang terakhir kalinya.


Alia kembali berlinang air mata ketika melihat prosesi pemakaman Fabian di laksanakan, hingga sebuah tamparan yang keras mendarat di pipinya dengan tiba tiba, membuat Alia langsung menoleh dengan seketika ke arah depan. Beberapa orang yang menghadiri prosesi pemakaman tersebut bahkan sampai terkejut ketika melihat Arsa yang tiba tiba saja melayangkan tamparannya dengan keras ke pipi Alia barusan.

__ADS_1


"Kau... dasar pembunuh!" pekik Arsa sambil menatap tajam ke arah Alia, membuat semua orang yang ada di sana lantas terkejut seketika di saat mendengar ucapan Arsa barusan.


Bersambung


__ADS_2