Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Menyatakan cinta


__ADS_3

Malam harinya


Alia yang baru saja selesai mandi lantas merebahkan dirinya pada ranjang kesayangan. Ditatapnya langit langit kamarnya dengan senyum yang mengembang kala Alia membayangkan wajah tersenyum milik Fabian pada langit langit kamarnya.


"Apakah ini rasanya jatuh cinta?" ucap Alia pada diri sendiri seakan bertanya tanya tentang perasaannya.


Deringan ponsel miliknya membuyarkan semua imajinasinya terhadap Fabian, Alia yang mendengar ponsel miliknya berdering lantas mulai meraba area nakas dan melihat siapa yang menelponnya malam malam begini.


"Fabian?" ucapnya kemudian sambil bangkit dari tidurnya secara tiba tiba.


Alia mencoba menetralkan suaranya dan juga denyut jantungnya yang terasa berdebar ketika mengetahui yang menelponnya saat ini adalah Fabian. Hingga setelah ia merasa sedikit lebih tenang barulah Alia menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo" ucap Alia setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.


"Hai" ucap Fabian diseberang sana dengan nada suara yang serak, membuat Alia lantas mengernyit dengan bingung ketika mendengar nada suara Fabian.


"Apa kamu sedang sakit Bi?" tanya Alia kemudian ketika mendengar suara serak milik Fabian.


"Tidak, hanya kurang enak badan saja." ucap Fabian dengan nada yang tertahan.


"Jangan menyepelekannya seperti itu, pergilah ke dapur dan buatlah minuman hangat yang bisa meredakan tenggorokan mu, campurkan jahe di dalamnya apa kamu mengerti?" ucap Alia dengan nada yang tegas.


"Heem..." ucap Fabian dengan nada yang aneh.


"Apa sesuatu tengah terjadi padamu Bi?" tanya Alia lagi dengan nada yang lebih rendah seakan masih belum tenang ketika hanya mendengar kata kata singkat dari Fabian.


"Tidak" ucap Fabian dengan singkat. "Apa besok kamu ada waktu luang?" tanya Fabian kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Karena besok weekend biasanya sih aku selalu di rumah bersama kak Lea." ucap Alia sambil mengingat ingat kegiatannya besok.


"Bagus, maukah kau pergi dengan ku? ada bazar makanan dan beberapa barang antik di area monas, sekalian ada satu hal yang ingin aku bicarakan dengan mu." ucap Fabian sedikit ragu ragu.


Alia yang mendengar ucapan Fabian barusan tentu saja langsung berbunga, bayangan Alia sudah di penuhi dengan hari esok di mana Fabian akan menyatakan cinta padanya. Bukankah bayangan Alia terlalu tinggi?

__ADS_1


"Lalu kak Lea bagaimana?" tanya Alia kemudian yang baru mengingat tentang Allea.


"Tak perlu khawatir karena aku akan meminta bantuan kepada kak Ardan untuk menjaga kak Allea, lagi pula sebentar lagi keduanya akan menikah bukan?" ucap Fabian lagi memberikan solusi.


"Kau benar, baiklah aku setuju kalau begitu." ucap Alia dengan tersenyum lebar yang tentu saja tidak akan di ketahui oleh Fabian saat ini.


"Sampai ketemu besok.." ucap Fabian kemudian.


"Oke" ucap Alia dengan singkat, setelah itu terdengar sambungan telpon terputus dari sana.


Alia benar benar histeris setelah mendapat telpon dari Fabian barusan. Ia bahkan sampai berguling guling beberapa kali di atas ranjangnya saking senangnya dengan berita yang baru saja ia dapat.


"Bagaimana kalau tiba tiba Fabian menembak ku?" ucap Alia sambil menghentikan gerakannya. "Aaaaaa kenapa jantung ku berdebar ketika membayangkan hal tersebut benar benar terjadi besok." ucap Alia kembali berguling guling di kasur dengan histeris.


***


Mansion keluarga Pramono


Shiren yang tengah bersantai di meja makan, lantas menatap bingung ke arah putrinya yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa secangkir coklat panas di tangannya.


Shila yang mendengar godaan tersebut lantas melangkahkan kakinya dan bergabung bersama Shiren di meja makan.


"Mama seperti tidak tahu saja, aku yakin mama pasti sudah bisa menebaknya bukan?" ucap Shila sambil menyeruput coklat panas miliknya.


"Apa ini tentang Fabian?" tanya Shiren mencoba menerka nerka.


"Yap" jawab Shila dengan tersenyum lebar.


Shiren yang melihat putrinya sangat bahagia lantas langsung menghela nafasnya.


"Ya mama sudah mendengarnya dari papa, apakah kamu yakin tentang hal itu?" tanya Shiren dengan nada yang ragu ragu seperti takut Shila akan marah jika Shiren mengungkit ungkit kenangan masa lalu.


"Tentu saja ma" ucap Shila masih dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


"Apa kamu sudah memberitahu Fabian tentang..." ucap Shiren namun terpotong.


Shila yang tahu arah pembicaraan ibunya langsung seketika berubah mood, dengan tatapan yang kesal Shila lantas menatap ke arah Shiren.


"Jangan mengungkit hal itu lagi ma karena aku tidak menyukainya." ucap Shila dengan nada yang datar.


"Tapi itu tidaklah baik nak, sebuah rumah tangga haruslah di mulai dengan kejujuran. Jika kamu terus menyimpannya seperti itu, mama takut itu akan menjadi boomerang untuk kamu nantinya ketika sudah berumah tangga." ucap Shila mencoba untuk menasehati putrinya.


Shila yang di nasehati bukannya mengerti malah mendorong cangkir di tangannya ke lantai dengan gerakan yang santai, membuat Shiren yang melihat kelakuan putrinya itu lantas terkejut ketika pecahan cangkir terlihat mulai berhamburan di lantai.


"Jangan pernah mama ikut campur dengan urusan ku!" ucap Shila dengan nada yang memperingati setelah itu berlalu pergi dari sana.


***


Sementara itu di ruang pribadi Fabian.


Dalam suasana yang redup tanpa cahaya penerangan, Fabian lantas terdiam dengan termenung setelah sambungan telponnya terputus barusan.


Fabian menatap kosong ke arah depan dengan tatapan yang sendu dan begitu menyakitkan. Fabian benar benar tidak menyangka bahwa ia akan terjatuh pada kubangan yang ia gali sendiri.


Niat hati mendekati Alia karena perasaan bersalah akibat kecelakaan lima tahun yang lalu, malah harus berakhir dengan dirinya yang menaruh rasa pada Alia.


Semua terjadi begitu cepat dan tanpa bisa Fabian hentikan walau beberapa kali ia mencoba untuk menjaga jarak.


Satu satunya kebodohan yang ia miliki adalah Fabian tidak pernah bisa mengambil langkah tegas akan perasaan di dalam hatinya. Fabian selalu saja lagi dan lagi berkorban untuk orang orang di sekitarnya agar mereka bisa berjalan dengan baik dan bahagia. Hanya saja, apakah jika Fabian terus melakukan hal itu dirinya akan benar benar bahagia? bukankah Fabian juga tidak bisa menjaminnya?


Fabian menjambak rambutnya dengan frustasi kemudian menendang sedikit meja di hadapannya dengan kesal.


"Kenapa hal ini selalu terjadi pada ku?" ucapnya dengan nada yang kesal.


Fabian benar benar tidak tahu lagi harus bagaimana di saat saat seperti ini. Fabian bahkan tidak yakin akan keputusan yang sudah ia ambil sendiri tanpa memikirkannya secara berulang kali.


Fabian menatap layar ponselnya di mana terlihat panggilan terakhirnya adalah Alia.

__ADS_1


"Setidaknya aku harus bersenang senang dengan Alia untuk yang terakhir kalinya bukan? akankah aku pantas untuk mendapatkan kata maaf setelah nantinya aku menyakiti hati wanita itu?" ucap Fabian pada dirinya sendiri yang tentu saja hanya di balas dengan keheningan malam itu.


Bersambung


__ADS_2