Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Apa aku sudah keterlaluan?


__ADS_3

Apartment Ardan


Allea dan juga Ardan terlihat melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam Apartemennya, setelah tadi keduanya selesai dari Rumah Sakit untuk mengurus kepulangan Alia dari Rumah Sakit.


"Mengapa kita tidak mengajak Alia pulang bersama dengan kita?" tanya Allea dengan ragu ragu sambil melirik ke arah kanan dan ke kiri seakan takut ketika mengatakan hal tersebut.


Ardan yang sedari tadi sedang sibuk melepas sepatunya, lantas langsung dengan spontan mendongak ke arah Allea ketika mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Allea.


"Alia aman bersama dengan Fabian... kamu tidak perlu khawatir..." ucap Ardan sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Allea kini berada.


"Kalau... kalau terjadi sesuatu pada Alia ba.. bagaimana?" tanya Allea lagi dengan raut wajah yang khawatir, membuat Ardan lantas langsung menghela nafasnya panjang ketika mendengar hal tersebut.


Ardan yang mendengar ucapan Allea barusan, langsung merangkul bahu Allea dengan lembut dan mengarahkannya untuk masuk ke dalam kamar mereka. Ardan tahu berbicara dengan Allea haruslah dengan nada yang lembut dan mudah di pahami agar emosi Allea tidak lagi meluap luap dan lebih stabil.


"Bukankah kamu tadi lihat sendiri Alia sedang tertidur dengan pulas di mobil Fabian, jika aku harus membawa Alia kemari itu artinya aku harus membangunkannya bukan? bukankah lebih baik Alia ikut bersama Fabian? baru besok kita suruh Alia ke sini." ucap Ardan mencoba mencari alasan agar Alia mengerti.


"Apakah itu benar?" tanya Allea sekali lagi mencoba memastikan jawaban dari Ardan.


"Tentu saja, karena sekarang sudah malam... bukankah sebaiknya kita istirahat? aku sangat lelah Lea..." ucap Ardan kemudian mencoba mengalihkan perhatian Allea.


"Capek? biar aku pijat kamu nanti sebelum tidur..." ucap Allea dengan nada yang semangat sambil bertepuk tangan.


"Benarkah?" tanya Ardan dengan nada yang menggoda.


Allea yang mendengar hal tersebut tentu saja dengan spontan langsung mengangguk sambil tersenyum, kemudian menarik tangan Ardan agar mempercepat langkah kakinya menuju ke arah kamar mereka.

__ADS_1


"Ayo ayo..." ucap Allea dengan tersenyum.


"Baiklah baiklah... jangan lari Lea... jangan lari.. pelan pelan saja..." ucap Ardan namun sambil mengikuti langkah kaki Allea yang cepat ketika menarik tangannya ke arah kamar mereka.


"Ayo.. ayo cepat.. Ar... aku suka pijat... aku suka pijat.." teriak Allea dengan nada yang begitu semangat sambil terus menarik tangan Ardan agar mengikuti langkah kakinya masuk ke dalam kamar, membuat Ardan hanya bisa tersenyum sambil geleng geleng kepala akan kelakuan istrinya tersebut.


"Ternyata mudah sekali merubah mood Allea, semoga saja aku selalu punya ide agar tetap bisa menjaga moodnya dalam keadaan baik." ucap Ardan dalam hati sambil masih tersenyum menatap ke arah Allea.


****


Keesokan paginya


Sinar mentari pagi itu terlihat menembus pada celah celah jendela kaca yang sedikit terbuka tepat di kamar Fabian.


Alia terlihat mengerjapkan matanya perlahan secara berulang kali karena sinar mentari yang menembus retinanya pagi itu.


Alia mengacak acak rambutnya dengan kasar ketika ucapan Fabian kembali terdengar menggema di telinganya. Suara decakan terus terdengar keluar dari mulutnya lagi dan lagi, hingga Alia kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap dengan spontan.


"Ah... aku bisa gila kalau terus terusan seperti ini... bagaimana bisa aku melakukan hal seperti itu semalam? argh..." gerutu Alia sambil terus mengacak acak rambutnya dengan kasar secara berulang kali. Hingga sebuah suara ketukan pintu dari arah luar kamar terdengar dan mengejutkan Alia.


Tok tok tok


"Apa kau sudah bangun Al... ayo kita sarapan bersama, makanannya sudah siap." teriak Fabian dari arah luar kamar, membuat Alia yang dalam posisi tengkurap langsung mendongak menatap ke arah pintu dengan tatapan yang kesal.


Tok tok tok

__ADS_1


"Al..." teriak Fabian lagi karena tidak mendengar jawaban apapun dari Alia, membuatnya terus mengetuk pintu karena berpikir bahwa Alia belum bangun dari tidurnya.


Alia yang kembali mendengar teriakan Fabian lagi dan lagi yang disertai dengan ketukan pintu yang berulang, lantas langsung bangkit dengan gerakan yang kesal sambil menghentakkan kakinya ke arah ranjang milik Fabian.


"Iya iya aku akan keluar sebentar lagi... tidak perlu berteriak teriak seperti itu aku juga mendengarnya." gerutu Alia dengan nada yang kesal dengan suara yang setengah berteriak, membuat Fabian yang mendengar jawaban tersebut dari Alia langsung menghentikan gerakan tangannya yang terus mengetuk pintu secara berulang sedari tadi.


Fabian yang mendengar teriakan dari Alia hanya bisa tersenyum simpul tanpa Alia ketahui. Fabian tahu Alia pasti akan sangat kesal kepadanya terutama karena kejadian semalam, walau sebenarnya Fabian juga tidak sengaja mengatakan hal tersebut kepada Alia, semuanya murni begitu saja mengalir dari mulutnya tanpa bisa Fabian cegah untuk tidak keluar malam itu.


"Dia pasti masih marah padaku karena perkataan ku semalam... apa aku kemarin sudah keterlaluan?" batin Fabian dalam hati ketika mendengar suara nyaring dari Alia barusan menggema dari arah dalam kamar.


"Baiklah aku akan menunggumu di meja makan, jangan terlalu lama dan membuat ku menunggu... kau dengar itu kan Al..." ucap Fabian lagi dengan nada yang setengah berteriak kemudian berlalu pergi dari sana dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya.


Sedangkan Alia yang mendengar teriakan dari Fabian barusan hanya bisa menghela nafasnya panjang, kemudian bangkit berdiri dan menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum turun menuju meja makan.


"Benar benar mengesalkan saja, mengapa semua selalu saja harus sesuai dengan kehendaknya sih? ini antara aku yang bodoh atau aku yang sudah terikat dengan Fabian sih? salah apa aku di kehidupan yang lalu sampai harus terikat dengan laki laki seperti Fabian itu!" gerutu Alia dengan nada yang kesal sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi.


****


Toko bunga Alia


Alia yang baru membuka tokonya siang itu karena harus terlebih dahulu bertengkar dengan Fabian, lantas sedikit di kejutkan dengan datangnya sebuah paket secara tiba tiba yang di tujukan untuk dirinya.


Alia menatap paket itu dengan tatapan yang menelisik sambil mencoba menerka apa isi dari paket tersebut, hingga ingatannya kembali berputar ketika ia menerima paket yang sama namun di dalamnya malah berisi miniatur sebuah mobil yang Alia sendiri tidak tahu maksud dari paket tersebut.


Alia kemudian membuka secara perlahan paket itu dan gerakan tangannya terhenti ketika ia melihat sesuatu yang tidak asing pada paket tersebut.

__ADS_1


"Bukankah ini..."


Bersambung


__ADS_2