
"Te... terima kasih banyak Bi..." ucap Alia sambil masih memeluk pinggang Fabian dengan erat, hingga sebuah suara pintu ruang perawatan yang mulai terbuka secara mengejutkan, membuat Fabian dan juga Alia, lantas langsung menoleh ke arah sumber suara namun masih tetap dalam posisi berpelukan.
Cklek...
"Wah sepertinya aku salah timing ya? hahahaha maaf maaf silahkan kalian lanjutkan." ucap Ardan yang terkejut akan posisi Alia dan juga Fabian yang terlihat agak ambigu itu.
"Bu... bukan begitu kak..." ucap Alia dengan nada yang tergagap karena bingung akan memberikan alasan apa kepada Ardan saat ini.
"Sudah lah tidak perlu sungkan kakak pergi dulu..." ucap Ardan kemudian kembali menutup pintu ruang perawatan Alia tanpa menunggu penjelasan dari keduanya.
Alia yang sudah terlanjur malu, lantas dengan spontan langsung melepas pelukan tangannya sambil langsung menunduk.
"Sudah tidak perlu di pikirkan... lagi pula itu hanya kak Ardan bukan?" ucap Fabian yang mengerti Alia tengah malu saat ini.
"Diam... aku sedang tidak meminta pendapat mu saat ini." ucap Alia dengan nada yang mendumel dengan kesal.
**
Sedangkan di area luar ruang perawatan Alia, Allea yang baru saja selesai dari kamar mandi lantas di buat sedikit bingung karena Ardan tidak masuk ke dalam malah hanya berdiri di luar ruangan tersebut.
"Ap... apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Allea dengan tatapan yang penasaran menunggu jawaban dari Ardan.
Ardan yang mendengar suara istrinya, lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Allea.
"Sebaiknya kita ke kantin saja dulu dari pada mengganggu mereka..." ucap Ardan sambil merangkul bahu Allea dan mengarahkannya menuju ke kantin.
"Kita kan tidak mengganggu... yang ki..ta lakukan di sini malah ingin... membantu mereka ber... berkemas..." ucap Allea dengan bingung sambil memainkan kuku kuku jarinya.
"Bukan itu maksud ku... emmm anu... mereka itu sekarang sedang sibuk nanti jika mereka sudah longgar kita kembali lagi ke sini oke..." ucap Ardan berusaha untuk membujuk Allea agar mengerti.
Allea yang mendengar ucapan dari Ardan bukannya mengerti malah di buat semakin bingung. Allea yang kesal akan jawaban dari Ardan barusan, lantas kemudian menghentikan langkah kakinya dan menepis tangan Ardan yang sedari tadi merangkulnya.
"Tidak mau! aku kan mau membantu mereka... bukan malah mengganggu mereka!" teriak Allea dengan kesal sambil menghentakkan kakinya, membuat beberapa orang yang kebetulan lewat sana lantas terkejut akan teriakan dari Allea barusan.
"Astaga... kenapa jadi gini sih..." ucap Ardan dalam hati sambil sedikit menunduk menatap ke arah orang orang di sekitaran yang kini tengah memandangi keduanya, seakan akan sebagai tanda meminta maaf atas keributan yang di timbulkan oleh Allea.
Ardan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Allea yang kini terlihat sedang kesal itu.
__ADS_1
"Kita beli es krim yuk... bukannya kamu ingin menunjukkan es krim rasa mangga kemarin yang kamu cicipi di kantin Rumah Sakit kepada Alia?" ucap Ardan kemudian mencoba memutar otaknya untuk membujuk Allea.
"Es krim? mangga?" ucap Allea dengan nada yang lirih sambil mengingat ingat tentang ucapan Ardan barusan.
"Iya... apa kamu lupa?" ucap Ardan lagi mencoba meyakinkan Allea yang sepertinya kini mulai percaya.
"Oh iya... es krim... Alia suka es krim..." ucap Allea kemudian dengan senyum mengembang di wajahnya, membuat Ardan kini bisa bernafas dengan lega karena mood Allea kini telah kembali.
"Ayo kita ke kantin..." ajak Ardan kemudian.
"Oke..." ucap Allea dengan senyum yang lebar.
Setelah sepakat keduanya kemudian lantas melangkahkan kaki mereka menuju ke arah kantin untuk membeli es krim seperti ucapan Ardan.
"Semoga saja di kantin benar benar ada es krim rasa mangga, jika tidak mati aku..." ucap Ardan dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah kantin.
***
Sore harinya
Sesuai janjinya, Shila benar benar memanggil petugas kebersihan online untuk membereskan segala kekacauan yang sudah ia perbuat di galeri seni Rendra.
Shila yang bangga akan kerja kerasnya lantas langsung melangkahkan kakinya ke arah ruangan kerja Rendra untuk memberitahunya. (em permisi sepertinya kata yang tepat adalah kerja keras petugas kebersihan online kali ya, Shila kan hanya menonton doang tanpa melakukan apapunš¤)
Tok tok tok
"Rendra pasti senang tempatnya kembali bersih." ucap Shila pada diri sendiri sambil tersenyum dengan manis.
Tok tok tok
Ketuk Shila lagi karena Rendra tidak kunjung membuka pintunya.
Cklek
"Ada apa sih?" ucap Rendra dengan nada yang kesal tepat setelah pintu di buka lebar olehnya.
"Biasa aja kali gak usah ngegas!" ucap Shila dengan cemberut ketika mendengar nada bicara Rendra yang tidak enak di dengar.
__ADS_1
"Kalau kau tidak ada hal yang penting aku tutup nih pintunya!" ucap Rendra kemudian yang lantas membuat Shila langsung melotot seketika.
"Ih gak sabaran banget sih..." gerutu Shila dengan nada yang kesal.
"Kok jadi kamu yang marah?" ucap Rendra dengan bingung ketika mendengar nada bicara Shila mulai meninggi.
"Ya lagian kau menyebalkan!" jawab Shila lagi.
"Ini jadi ngomong atau enggak?" ucap Rendra kemudian.
"Ya jadilah... aku datang ke sini itu untuk memberitahu kamu bahwa seluruh ruangan di galeri seni mu sudah di bersihkan dan kembali kinclong seperti semula." ucap Shila kemudian dengan tersenyum lebar.
Rendra yang mendengar ucapan Shila barusan, lantas langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk memastikan apakah ucapan dari Shila barusan adalah benar.
"Oh.. lumayan..." ucap Rendra dengan singkat kemudian menutup pintunya begitu saja tanpa memperdulikan Shila sama sekali.
Bruk
"Apa apaan dia?" ucap Shila dengan kesal, jangankan ucapan terima kasih yang di dapatkan oleh Shila, setelah segala usahanya untuk membersihkan tempat ini yang ia dapat hanyalah sebuah pintu yang di tutup dengan keras oleh Rendra.
"Sialan lo!" gerutu Shila dengan nada yang kesal.
***
Sementara itu malam harinya
Setelah di perbolehkan untuk pulang dan beristirahat di rumah, Fabian langsung mengajak Alia pulang ke rumah.
Di saat Alia tengah terlelap dalam tidurnya, secara diam diam Fabian malah membawa Alia pulang ke Apartment miliknya tanpa sepengetahuan Alia.
"Untung saja dia tidurnya pulas, jadi tidak akan ada pemberontakan ketika aku bawa kemari." ucap Fabian sambil menaruh tubuh Alia secara perlahan pada ranjang empuk Apartemennya.
Ketika Fabian hampir menyelesaikan tugasnya, tepat di saat Fabian hanya tinggal membuka sandal Alia saja, Alia tiba tiba saja terbangun dan langsung membuat Fabian terkejut seketika.
"Aku dimana Bi?" tanya Alia dengan nada suara yang serak khas bangun tidur.
Fabian yang mendengar ucapan Alia barusan lantas langsung menoleh secara perlahan dan tersenyum.
__ADS_1
"Ada di Apartment ku... hehehe"
Bersambung