
Setelah mendapat telpon dari Ardan barusan, Fabian lantas melajukan mobilnya kembali menuju Rumah Makan tempat di mana ia meninggalkan Alia di sana tadi.
Fabian melajukan mobilnya dengan uring uringan, ia benar benar bodoh karena bisa bisanya melupakan Alia dan meninggalkannya begitu saja tanpa kata kata. Fabian tentu tidak akan sadar jika bukan karena Ardan yang menelponnya barusan.
"Bodoh kau Bi!" ucap berulang kali dengan nada yang kesal.
**
Beberapa menit berkendara mobil milik Fabian berhenti tepat di depan Rumah Makan, hanya saja ketika ia sampai di sana Rumah Makan tersebut sudah tutup dan tampak sepi tak ada seorang pun di sana.
Melihat hal itu pikiran Fabian semakin di buat kacau, Fabian mengusap rambutnya dengan kasar ke arah belakang kemudian memukul setirnya dengan keras beberapa kali.
"Sial!" ucapnya dengan nada yang berteriak karena saking kesalnya.
Fabian yang tak menemukan keberadaan Alia di sana, kemudian lantas melajukan mobilnya kembali menyusuri jalanan sekitar dengan laju yang pelan, Fabian berharap siapa tahu akan bertemu dengan Alia di jalanan sekitar.
"Ayo Al angkat telponnya..." ucap Fabian sambil terus mencoba untuk menghubungi ponsel Alia secara terus menerus.
Fabian yang tidak putus asa, terus menyusuri jalanan sekitaran dengan pelan karena Fabian tahu di daerah sini sangat sulit sekali mencari taksi atau kendaraan umum lainnya, kecuali orang tersebut memesan grab atau sejenisnya.
Hingga sekitaran jarak 20 kilometer dari Rumah Makan tersebut, samar samar Fabian seperti melihat sosok wanita tengah berjalan dengan pelan pada area bahu jalan sambil menenteng kedua hells miliknya di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang dompet.
Fabian yang yakin itu adalah Alia, lantas langsung menghentikan mobilnya dan berlarian menuju ke arah Alia.
"Al!" ucapnya sambil menarik tangan Alia hingga membuatnya langsung berbalik badan dan menatap tepat ke arah Fabian.
Tes...
Air mata Alia jatuh begitu saja di pipinya tepat ketika Fabian menarik tangannya, namun sebisa mungkin ia tahan agar Fabian tidak meremehkannya ketika melihat Alia menangis.
__ADS_1
"Al syukurlah aku menemukan mu di sini, aku benar benar minta maaf Al aku tadi mendapat telpon dari tante Shiren dan aku..." ucap Fabian namun terhenti ketika mendengar ucapan dari Alia.
"Dan kamu datang menemui Shila, ia kan?" ucap Alia dengan bibir yang bergetar.
"Bi... aku tidak melarang mu untuk menemui Shila, tapi... bisakah kau untuk mengatakannya padaku dengan baik baik? aku ini manusia Bi... bukan barang yang bisa kamu tinggalin di sembarang tempat. Tidakkah kamu berpikir sedikit saja tentang ku?" ucap Alia lagi sambil mengusap air matanya yang turun tanpa bisa ia cegah.
"Aku salah... aku salah dan aku akui itu.. tapi aku punya alasan Al, kamu dengerin aku dulu oke..." ucap Fabian berusaha menjelaskan segalanya.
"Alasan? ya kamu memang selalu punya alasan. Apa menurut mu aku semudah itu? hingga kamu tiba tiba datang dan melakukan segala hal di hidup ku kemudian kau pergi seakan tidak terjadi apa apa.. kemudian kembali lagi dan mengatakan bahwa kau di tipu... dan setelah aku mulai percaya kembali kamu meninggalkan ku, wah hebat sekali kamu Bi... benar benar luar biasa.." ucap Alia pada akhirnya meluapkan segala rasa kekecewaannya.
Fabian yang mendengar keluh kesah Alia tidak lagi bisa berkata kata, dari manik mata Alia saja Fabian sudah bisa merasakan bagaimana luka yang Alia tanggung karena dirinya. Fabian benar benar terdiam karena baru pertama kalinya melihat Alia serapuh ini.
"Sudah cukup Bi... aku sudah lelah, kamu jangan terus mempermainkan ku seperti ini. Aku sudah bosan Bi... benar benar bosan." ucap Alia sambil menunjuk ke arah dada bidang milik Fabian dengan jarinya.
"Tunggu Al.. kamu salah paham akan diriku... aku.." ucap Fabian sambil mencegah kepergian Alia dari sisinya.
"Lepaskan aku Bi dan jangan ikuti aku!" ucap Alia sambil menghempaskan tangan Fabian cukup keras.
"Ku bilang jangan mengikuti ku!" teriak Alia kemudian.
Fabian yang mendengar teriakan Alia barusan lantas langsung terdiam membeku di tempatnya. Sedangkan Alia terus melangkahkan kakinya ke arah depan tanpa memperdulikan kakinya yang sudah lecet karena terus berjalan tanpa alas kaki sedari tadi.
"Al.." panggil Fabian dengan lirih tanpa bisa mengejar Alia dan hanya bisa melihat kepergian Alia dari sana.
****
Keesokan paginya di bengkel Ardan
Allea yang tengah tertidur di kamar Ardan, lantas langsung terbangun ketika mencium bau masakan yang harum dan menusuk hidungnya.
__ADS_1
"Harum.." ucap Allea sambil tersenyum.
Allea yang memang perutnya sudah keroncongan, lantas langsung bangun dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah bau masakan tersebut.
"Pagi.." ucap Ardan dari arah pantry ketika melihat Allea mendekat ke arah meja makan setelah mencium bau harum masakannya.
Allea yang terkejut ketika mendengar panggilan dari Ardan, lantas dengan spontan merapikan rambutnya yang berantakan karena bangun tidur. Allea benar benar lupa jika ia sudah menikah dengan Ardan kemarin, sehingga ia turun begitu saja dari tempat tidurnya tanpa merapikan dirinya terlebih dahulu.
Ardan yang melihat tingkah Allea barusan, lantas tersenyum simpul sambil membawa dua piring nasi goreng hasil masakannya kemudian menaruhnya di meja makan.
"Maaf seadanya karena aku kemarin memang belum bersiap apapun, aku harap kamu menyukainya." ucap Ardan sambil tersenyum.
"Tak apa.. ini sudah lebih dari cukup kok." ucap Allea sambil memainkan kuku kuku jarinya.
"Kalau begitu makan yang banyak ya..." ucap Ardan sambil mengelus puncak kepala Allea, membuat wajah Allea seketika langsung memerah karena belum terbiasa ketika menerima perlakuan dari Ardan.
Allea yang salah tingkah, lantas langsung dengan spontan memakan nasi goreng di piringnya dengan lahap hingga membuatnya sampai tersedak.
Uhuk uhuk...
Ardan yang melihat Allea tersedak, lantas dengan spontan langsung menuang air di gelas kemudian memberikannya kepada Allea.
"Pelan pelan saja jangan terlalu terburu buru." ucap Ardan sambil mengusap punggung Allea seakan berusaha meredakan batuknya. "Apa kamu sudah baik baik saja?" tanya Ardan kemudian.
"Ada bawang putih..." ucap Allea dengan polosnya yang langsung membuat Ardan terdiam seribu bahasa.
Pikirannya melayang jauh memutar kembali masa masa di mana Rima masih hidup waktu itu. Rima benar benar tidak menyukai bawang putih dalam bentuk kasar, sehingga jika ia memasak Rima akan lebih memilih untuk menghaluskannya atau memakai bawang putih bubuk, dari pada harus memasukkan potongan bawang putih ke dalam masakannya.
"Rima" ucap Ardan dengan spontan yang lantas membuat Allea langsung mendongak menatap ke arah Ardan.
__ADS_1
"Apa?"
Bersambung