
Di dalam mobil milik Fabian
Fabian yang baru saja masuk ke dalam mobilnya, lantas langsung terdiam seketika di saat ucapan Setya kembali terngiang ngiang di kepalanya.
Fabian terdiam sambil mencoba menyusun satu per satu teka teki siapa dalang dari pengirim paket misterius tersebut. Hanya saja semakin dipikirkan lagi malah semakin membuat kepala Fabian terasa sangat berat sekali.
Fabian yakin bahwa tulisan di laptop waktu itu jelas jelas menyebut nama Shila, jika bukan Setya lalu siapa lagi yang kemungkinan menjadi dalang dari setiap masalah yang terjadi akhir akhir ini.
"Tidak mungkin om Pramono bukan? aku rasa itu tidaklah mungkin, jika bukan Setya dan juga bukan om Pramono... lalu siapa lagi?" ucap Fabian pada diri sendiri mencoba menerka nerka namun semakin di pikir malah semakin membuat kepala Fabian hampir meledak.
Sebuah deringan ponsel miliknya mendadak terdengar dan membuyarkan lamunannya, membuat Fabian lantas langsung menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya, ketika melihat nama Arga tertulis jelas pada layar ponselnya.
"Halo" ucap Fabian kemudian.
"Halo tuan, saya sudah menemukannya." ucap Arga dengan nada yang terdengar gembira karena bisa memecahkan masalah ini.
"Apa kamu sungguh sungguh sudah menemukannya?" tanya Fabian lagi mencoba memastikan kembali ucapan dari Arga barusan.
"Iya tuan, saya sudah mengirimkan detailnya ke email anda barusan." ucap Arga lagi.
"Baik aku akan memeriksanya dan langsung mengabari mu untuk tugas selanjutnya." ucap Fabian kemudian.
"Baik tuan" ucap Arga kemudian terdengar suara panggilan di tutup oleh Fabian.
Setelah panggilan tersebut terputus, Fabian langsung beralih dan membuka berkas yang di kirim oleh Arga barusan.
__ADS_1
Fabian yang menatap dengan serius, lantas langsung di buat tercengang ketika melihat ke layar ponselnya tentang siapa dalang di balik pengirim paket misterius tersebut.
"Om Pramono? bagaimana bisa?" ucap Fabian dengan spontan ketika melihat segala bukti bukti mengarah kepadanya.
Fabian yang tidak ingin membuang waktu lagi, lantas langsung menancap gasnya dan melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju ke kantor Pramono.
***
Ruangan Pramono
Bruk
Suara dorongan pintu yang cukup keras terdengar memenuhi ruangan tersebut, membuat Pramono yang sedang mempelajari beberapa dokumen lantas di buat terkejut akan suara barusan.
"Apakah kamu tidak punya sopan santun? datang ke kantor orang itu harusnya lebih sopan dasar anak muda jaman sekarang." ucap Pramono sambil menaruh dokumen yang ia baca sedari tadi pada meja kerjanya, begitu melihat Fabian tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja kerjanya.
Pramono yang mendengar ucapan Fabian barusan lantas tertawa seketika, perlahan lahan Pramono mulai bangkit dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Fabian saat ini.
"Kau sudah mengetahui semuanya ternyata, aku akui otak mu itu sangat cerdas dan cepat tanggap dalam hal hal seperti ini." ucap Pramono setelah mengakhiri tawanya sambil menatap lurus ke arah Fabian.
"Apa maksud om melakukan semua ini? saya bahkan tidak pernah menyinggung om sama sekali." ucap Fabian secara to the point.
"Kamu memang tidak pernah menyinggung saya tapi kamu melukai putri saya, sekarang kamu pikir? orang tua mana yang akan rela jika putrinya di sakiti oleh pria seperti dirimu. Jika putri ku tidak bahagia maka kau pun juga tidak berhak untuk bahagia!" ucap Pramono dengan nada yang ketus menatap tajam ke arah Fabian.
Fabian yang mendengar ucapan Pramono barusan tentu saja terkejut bukan main. Fabian hingga kini bahkan masih tidak percaya jika Pramono dalam di balik ini semua.
__ADS_1
"Saya tidak pernah merasa menyakiti Shila om, apa yang di terima Shila adalah sesuai dengan apa yang ia tanam. Jadi jika om melimpahkan semua rasa sakit putri om kepada saya, itu namanya tidak adil!" ucap Fabian tidak mau kalah.
"Adil dan tidak adilnya hanya Om sebagai orang tua yang menentukan, kau tahu apa tentang rasa sakit yang di rasakan oleh Shila selama ini?" ucap Pramono dengan bada yang meninggi dan tidak mau kalah.
"Apakah om sadar? apa yang om lakukan itu salah, jika seorang anak melakukan kesalahan sebagai orang tua om harusnya meluruskan dan menuntunnya ke jalan yang lebih baik lagi, bukan seperti ini." ucap Fabian lagi dan kini dengan nada yang lebih lembut kepada Pramono.
"Persetan dengan benar dan salah, yang jelas jika putri ku bahagia kenapa tidak?" ucap Pramono lagi dengan nada bicara yang dingin, membuat Fabian tidak bisa lagi berkata kata.
"Lalu mau om apa saat ini?" tanya Fabian pada akhirnya yang lantas membuat Pramono tersenyum dengan sinis ketika mendengarnya.
"Melihat kehancuran mu itulah keinginan ku." ucap Pramono sambil tersenyum sinis ke arah Fabian, namun Fabian yang mendengar ucapan Pramono barusan hanya tersenyum seakan menanggapinya dengan sepele.
"Sampai sekarang saya masih menahannya karena mengingat om adalah teman baik papa, namun sayangnya batas kesabaran saya juga ada batasnya om, mulai hari ini saya putuskan untuk menjadikan om sebagai orang asing bagi saya. Jika om ingin melihat kehancuran saya silahkan saja lakukan sesuka hati om, saya ingin lihat siapa yang akan bertahan hingga akhir." ucap Fabian dengan nada yang penuh penekanan di setiap ucapannya kemudian berlalu pergi dari sana.
Pramono yang mendengar ucapan dari Fabian tentu saja langsung naik pitam, hingga ketika langkah kaki Fabian tepat berada di ambang pintu suara Pramono mulai terdengar kembali.
"Jika memang itu yang kau inginkan maka aku tidak akan segan lagi, aku sudah menyiapkan mu hadiah khusus dan aku rasa mungkin kini sudah sampai di tangan yang tepat." ucap Pramono yang langsung membuat langkah kaki Fabian terhenti seketika begitu mendengarnya.
"Kurang ajar..." ucapnya dengan nada yang lirih sambil menatap tajam ke arah Pramono.
Tanpa menanggapi ucapan dari Pramono barusan, Fabian kemudian lantas langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas keluar dari tempat tersebut. Tanpa di jelaskan pun Fabian tahu apa yang di maksud oleh Pramono barusan, sehingga tanpa pikir panjang Fabian lantas berlarian keluar dari sana untuk menuju ke suatu tempat.
Hahahaha
Suara tawa Pramono benar benar terdengar nyaring mengiringi kepergian Fabian dari ruangannya dengan langkah kaki yang cepat. Hingga ketika punggung Fabian tidak lagi terlihat barulah Pramono menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Selamat bersenang senang Fabian!" ucap Pramono ketika melihat kepergian Fabian dari ruangannya dengan raut wajah yang sumringah, seakan puas dengan apa yang telah ia perbuat tanpa merasa bersalah sama sekali.
Bersambung