Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Kembali berkorban


__ADS_3

Kediaman Alia


Setelah dari Bazaar tadi Alia memutuskan untuk kembali ke rumahnya, bagi Alia mungkin rumah adalah tempat yang cocok untuk menumpahkan segala sakit hati yang dialaminya ketika mengetahui sebuah fakta bahwa Fabian akan melamar Shila, sedangkan perasaannya selama ini hanyalah bertepuk sebelah tangan saja dan tidak terbalas oleh Fabian.


Alia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang gontai dan perasaan patah hati yang mendalam, suasana siang itu terlihat sunyi sepi karena sang kakak sedang berada di bengkel milik Ardan. Yah mungkin ini menjadi salah satu alasan mengapa Alia memilih untuk pulang dan mengurung diri di rumah, setidaknya untuk beberapa jam ke depan Allea tidak akan mengetahui bahwa dirinya tengah bersedih saat ini.


Alia melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar, ditutupnya pintu kamar dengan perlahan lalu bersandar sebentar di sana sambil memejamkan matanya cukup lama seakan menahan gejolak perasaan yang ada di hatinya.


Setetes air mata kembali jatuh membasahi pipinya, dengan perlahan tubuhnya luruh ke lantai begitu saja dengan air mata yang berlinang.


Alia menutup mulutnya dengan rapat walau air matanya terus turun dengan begitu derasnya membasahi pipinya.


"Kau bodoh Al... hiks hiks... kau bodoh... karena menganggap kebaikan Fabian selama ini sebagai cinta.. kau bodoh..." ucap Alia sambil sesenggukan meratapi kebodohannya. "Fabian itu hanya kasihan padamu tidak lebih, mengapa kamu masih saja berharap?" ucap Alia lagi dengan sesenggukan menahan tangisnya.


Perasaan Alia begitu hancur hingga membuat air matanya terus mengalir tanpa ia minta sekalipun.


Di saat rasa hancur menyerang hatinya dengan begitu dalam, samar samar Alia seperti melihat sosok ibunya tengah berdiri di hadapannya sambil tertawa dengan senang seakan menertawakan keadaan Alia yang tengah hancur saat ini.


Sudah ku bilang jangan bermimpi untuk melebihi kakak mu! aku melahirkan mu hanya untuk sebagai penjaga kakak mu, bukan untuk menyamainya....


Seseorang seperti mu tidak lah pantas untuk mendapat sesuatu yang berharga melebihi Allea!


Hahaha


Ejekan demi ejekan yang keluar dari mulut Tiara semakin menambah perasaan kalut dalam diri Alia membumbung tinggi layaknya minyak tanah yang di tambahkan pada kobaran api kecil, membuat hati Alia semakin terluka dan sakit.


Alia yang melihat bayangan Tiara semakin menjadi jadi lantas di buat sakit hati, hingga tanpa sadar Alia bangkit dan mengambil vas bunga di atas nakas kemudian melemparnya ke arah Tiara dengan cukup kuat.

__ADS_1


Prang....


Vas yang di lempar oleh Alia pecah dan berhamburan memenuhi lantai kamarnya. Alia yang melihat vas tersebut pecah lantas baru menyadari jika sosok ibunya hanyalah sebuah halusinasinya semata.


Alia yang mengetahui hal tersebut, lantas langsung berjongkok dan menutup telinganya dengan erat sambil memejamkan matanya.


"Aku berhak untuk bahagia... aku berhak.... untuk bahagia... hiks hiks" ucapnya dengan nada yang histeris dan berulang ulang.


**


Sementara itu setelah pulang dari Bazar selayaknya Alia yang langsung pulang ke rumah, Fabian lantas melajukan mobilnya menuju ke arah mansion utama.


Sesampainya di sana Fabian lantas memarkirkan mobilnya dengan asal kemudian langsung masuk ke dalam mencari keberadaan Arsa.


"Ma..." panggil Fabian sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan Arsa.


Di peluknya wanita paruh baya itu dari belakang sambil membenamkan wajahnya pada pundak sang ibu. Arsa yang tidak tahu apa apa tentu saja terkejut dan hampir berteriak jika ia tidak mencium aroma parfum milik Fabian yang terpatri pada indra penciumannya.


"Tumben kamu pulang Bi?" tanya Arsa sambil mengusap perlahan rambut Fabian yang kini tengah bersandar pada pundaknya.


"Bolehkah aku untuk egois ma?" tanya Fabian dengan nada yang serak, membuat Arsa lantas menghentikan gerakan tangannya kemudian mencoba melepas pelukan erat putranya tersebut namun di tahan oleh Fabian.


"Jangan menatap ku ma, biarkan saja seperti ini sebentar saja..." ucap Fabian tanpa ingin Arsa berpindah posisi.


Arsa yang mendapat permintaan tersebut lantas menghela nafasnya panjang.


"Walau kenyataannya kita tidak di perbolehkan untuk egois. Namun selagi kamu bahagia mama sarankan agar kamu bertindak egois, hem?" ucap Arsa mencoba mencari titik tengah permasalahan Fabian walau sebenarnya ia sama sekali tidak mengetahui tentang permasalahan yang tengah di hadapi putranya.

__ADS_1


Fabian menghela nafasnya panjang, jujur saja perkataan Arsa barusan membuat hati kecil Fabian sedikit merasa lega. Hanya saja, mungkinkah ego itu masih bisa di perjuangkan saat ini?


Fabian melepas pelukannya dengan perlahan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, membuat Arsa lantas mengernyit bingung akan reaksi yang di tunjukkan oleh Fabian, bukankah harusnya Fabian senang?


"Sepertinya sudah terlambat ma..." ucap Fabian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Arsa.


"Maksud mu apa?" tanya Arsa dengan bingung.


Fabian yang mendengar hal tersebut lantas tersenyum kemudian menggeleng dengan pelan.


"Terima kasih banyak telah sedikit mengangkat beban Fabian ma... aku pergi dulu ya ma..." ucap Fabian kemudian hendak melangkah pergi namun terhenti karena ucapan Arsa barusan.


"Apa ini ada hubungannya dengan Shila?" ucap Arsa menerka nerka yang lantas membuat langkah Fabian terhenti. "Jika kamu tidak menginginkan pertunangan tersebut lepaskan saja Bi, mama yakin papa akan mengerti." ucap Arsa kembali seakan mengerti kegundahan hati Fabian.


"Itu tidak mungkin ma, papa mungkin akan mengerti... namun Shila? Shila akan mati jika tidak bersama dengan Fabian." ucap Fabian dengan nada yang sendu namun mampu membuat Arsa terkejut ketika mendengarnya.


"Apa maksud mu Bi?" tanya Arsa lagi.


"Aku yakin mama sudah tahu bagaimana sifat Shila, Shila tidak akan bisa hidup jika itu bukan dengan aku. Terima kasih atas sarannya ma tapi aku rasa mungkin ini adalah jalan terbaik yang harus aku tempuh walau mungkin akan terasa sangat berat nantinya." ucap Fabian kemudian berlalu pergi meninggalkan Arsa dengan berjuta tanda tanya di kepalanya.


"Tapi Bi... tunggu sebentar nak..." teriak Arsa mencoba memanggil putranya namun Fabian tetap meneruskan langkahnya.


Bagi Fabian cukup sudah Arsa mengetahui sampai di sini, Fabian tidak ingin kembali menambah beban pikiran wanita paruh baya itu. Dengan mendengar suara lembut milik Arsa saja sudah mampu membuat hati Fabian sedikit lebih tenang.


Pada akhirnya Fabian melangkah pergi dan meninggalkan Arsa yang masih senantiasa menatap punggung putranya hingga menghilang dari pandangannya.


"Mengapa kamu harus kembali berkorban nak? ini sungguh tidak adil untuk mu..." ucap Arsa dengan manik mata yang sendu menatap kepergian Fabian dari sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2