Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Neraka yang lain


__ADS_3

Beberapa menit berpikir dan menimang keputusan apa yang akan ia ambil, pada akhirnya Alia memutuskan untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rendra untuk mengambil kunci tersebut.


Sedangkan Rendra yang melihat Alia melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya, lantas langsung tersenyum seketika. Rendra yang tidak ingin menyianyiakan kesempatan, tanpa berpikir panjang lagi ketika melihat umpan sudah mulai masuk ke dalam perangkap, Rendra langsung menangkap tubuh Alia dan melemparnya ke kasur dengan spontan sambil memegangi kedua tangan Alia dengan erat.


"Aaaaaa... apa yang kamu lakukan! lepaskan aku..." pekik Alia sambil memberontak meminta untuk di lepaskan.


"Aku tidak akan melepaskan mu Al karena sebentar lagi kita akan menikah, bukankah itu sebuah rencana yang bagus Al?" ucap Rendra dengan tersenyum lebar menatap tepat ke wajah Alia.


"Kau benar benar gila Ren!" ucap Alia dengan menatap tajam ke arah Rendra.


"Iya aku memang gila, tergila gila dengan mu... bukankah itu bagus?" ucap Rendra dengan tawa yang menggema seperti orang gila.


"Lepaskan aku... lepaskan aku!" ucap Alia sambil terus meronta, namun Rendra yang mendengar teriakan itu malah langsung mengikat kedua tangan Alia dengan erat agar Alia tidak lagi bisa kabur dari dirinya.


"Baik baiklah di sini Al... karena dua hari lagi kita akan menikah dan aku ingin kamu bersiap sebelum hari pernikahan kita nantinya!" ucap Rendra sambil mengusap lembut wajah Alia, membuat Alia langsung menatapnya dengan tajam karena merasa tidak suka akan segala hal yang di lakukan oleh Rendra padanya.


"Cuih... aku tidak akan pernah sudi menikah dengan mu Ren... sampai kapan pun, aku yakin Fabian akan menemukan ku sejauh apapun kau membawa ku pergi bersama mu!" ucap Alia sambil meludah seakan jijik akan tingkah dari Rendra.


Sedangkan Rendra yang menerima perlakuan dari Alia, hanya tersenyum sambil mengusap ludah di wajahnya secara perlahan. Seulas senyuman terbit dari wajah Rendra, membuat Alia semakin muak akan tingkah dari Rendra.


"Semakin kamu memberontak semakin membuat ku menyukai mu Al... aku benar benar menyukai mu..." ucap Rendra sambil tertawa dengan puas seakan akan tengah merasakan sebuah kebahagian.


Baru setelah itu Rendra terlihat melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kamar tersebut dan kembali menguncinya, membiarkan Alia sendirian di kamar itu tanpa bisa ke mana mana.


Alia menatap ke arah kedua tangannya yang di ikat dengan rapat di kedua ujungnya. Alia bahkan hingga kini masih benar benar tidak menyangka bahwa Rendra tega melakukan ini padanya. Bayangan demi bayangan bagaimana pertemuannya pertama kali dengan Rendra kembali terlintas di benaknya, membuat Alia semakin merasa frustasi karena dirinya tidak menyadari apapun sebelumnya.

__ADS_1


Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, membuat Alia semakin merasakan frustasi akan keadaan dirinya saat ini. Keputusannya meninggalkan Fabian dan juga pergi dari yang lainnya malah mengantarkan Alia pada gerbang neraka yang baru baginya. Niat hati terlepas dan bebas dari rasa keterpurukan akan masa lalu, malah membuatnya terjebak dalam masalah baru yang sebelumnya sama sekali tidak pernah Alia bayangkan sebelumnya terjadi pada dirinya.


"Jika sudah begini... akankah ada orang yang dengan sudi membantu ku keluar dari sini? aku benar benar tidak bisa menikah dengannya, tapi aku juga tidak bisa kabur darinya, apa yang harus aku lakukan?" ucap Alia pada diri sendiri sambil menggigit bibir bagian bawahnya menahan isak nya agar tidak sampai keluar dan terdengar oleh Rendra di luar sana.


***


Mansion Zayan


Setelah ada drama antar keluarga semalam, pada akhirnya Ardan memboyong Allea ke mansion utama atas permintaan kedua orang tuanya. Awalnya Ardan sama sekali tidak setuju akan hal itu, mengingat bagaimana perlakuan kedua orang tuanya kepada Allea, membuat Ardan semakin ragu untuk membiarkan Allea tinggal seatap bersama orang tuanya.


Namun karena Arsa yang terus memaksanya dan mengatakan kepada Ardan bahwa Zayan telah berubah, membuat Ardan pada akhirnya luluh juga dan mau untuk membawa Allea ke mansion utama.


**


Ardan yang baru saja bangun pagi itu, lantas langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ketika tidak mendapati keberadaan Allea di manapun juga.


"Lea... kamu di mana Lea..." panggil Ardan dengan nada setengah berteriak sambil berlarian menuruni anak tangga mencari keberadaan Allea.


Arsa yang mendengar teriakan putranya hingga ke dapur, lantas langsung berkacak pinggang dan menatap tajam ke arah putranya yang kini sudah sampai tepat di pintu di dapur dan menatap ibunya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ketika melihat Allea kini tengah bersama Arsa di dapur sedang memasak sesuatu.


"Maaf... ku kira tadi Allea..." ucap Ardan namun langsung di potong oleh Arsa yang tahu pasti apa yang akan di katakan oleh putranya itu.


"Kau kira mama akan menyuruhnya yang tidak tidak seperti mertua di tv tv itu, iya kan?" ucap Arsa dengan kesal.


Sementara Ardan yang mendengarkan hal tersebut, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arsa dan juga Allea dengan malu malu.

__ADS_1


"Bukan begitu ma... mama ini terlalu sering menonton sinetron mangkanya pikirannya ke sana mulu." ucap Ardan dengan nada yang bercanda membuat Arsa langsung hendak memukul putranya tersebut namun urung.


"Sudah sudah, jangan mengganggu mama dan menantu mama sekarang, duduk sana biarkan mama dan Allea masak dahulu." ucap Arsa yang di balas anggukan kepala oleh Allea.


"Baiklah... semangat isteri ku..." ucap Ardan sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan dapur.


"Dasar pengantin baru" ucap Arsa dalam hati sambil melirik sekilas ke arah Ardan yang sudah berlalu pergi meninggalkan dapur.


***


Sementara itu di ruangan Fabian


Terlihat Fabian dan juga Valdi tengah sibuk mengobrak abrik gadget milik mereka masing masing untuk mencari keberadaan Alia yang sampai saat ini belum di temukan juga keberadaannya di mana.


Fabian yang mulai terlihat frustasi, lantas memijat pelipisnya dengan pelan berulang kali karena kepalanya berdenyut memikirkan Alia yang tidak kunjung ketemu juga.


"Kamu di mana Al?" ucap Fabian dalam hati sambil terus menatap ke layar iPad yang sedang memutar rekaman kamera pengawas jalanan sekitar.


Hingga kemudian sebuah deringan notifikasi pesan pada ponsel Fabian lantas terdengar membuyarkan lamunannya, membuat Fabian langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa pengirim pesan tersebut.


Fabian yang melihat nama Shila tertera dengan jelas di layar ponselnya, lantas langsung mengerutkan keningnya dengan bingung.


Bi... bisakah kita bertemu sebentar?


"Shila? ada urusan apa dia tiba tiba mengajak untuk bertemu? jangan jangan..." ucap Fabian dengan bingung.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2