
Mobil yang di tumpangi oleh Rendra dan juga Alia berhenti tepat di Bandara SH, pagi ini Rendra memilih penerbangan pagi menggunakan pesawat pribadi miliknya menuju suatu tempat yang tentu saja jauh dari Fabian maupun orang lain yang akan mencoba untuk memisahkannya dari Alia.
Rendra menggenggam tangan Alia dengan erat dan menariknya untuk terus berjalan mengikutinya tanpa banyak protes yang mungkin akan semakin mengundang tatapan orang banyak akan tingkah dari Alia. Alia tidak lagi bisa berkutik dan hanya melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Rendra yang terus menariknya tanpa henti seakan seperti tengah di kejar oleh waktu saat ini.
"Tersenyumlah sedikit, jika kamu terus memasang wajah seperti itu mereka akan mengira aku menculik mu nantinya." ucap Rendra sambil melirik sekilas ke arah Alia yang sedari tadi hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata apapun dengan ekspresi raut wajah yang suram.
Alia yang mendengar ucapan dari Rendra barusan, hanya memutar bola matanya dengan jengah karena apa yang di katakan oleh Rendra barusan adalah kenyataannya. Bagaimana bisa Rendra mengatakan hal tersebut dengan semudah itu? padahal jelas jelas ia memang telah menculik Alia saat ini.
Rendra melangkahkan kakinya dengan bergegas sambil terus menggandeng tangan Alia, hingga kemudian langkah kakinya lantas terhenti ketika melihat beberapa pria berjas hitam nampak celingukan ke sana ke mari seperti tengah mencari seseorang.
Rendra yang jelas tahu siapa mereka, lantas langsung menghentikan langkah kakinya kemudian menarik tangan Alia dan mengajaknya untuk berlari, membuat Alia yang tidak tahu apa apa lantas di buat terkejut akan tarikan tangan Rendra yang tiba tiba mengajaknya berlarian tanpa penjelasan sebelumnya.
Alia menatap bingung ke arah Rendra yang masih terus mengajaknya berlarian tanpa henti, pergelangan tangan Alia kini bahkan sudah terasa sakit akibat tarikan tangan Rendra yeng terus saja menarik Alia dan memaksanya untuk terus berlari tanpa henti.
Alia yang sudah tidak kuat lagi terus menerus berlarian tanpa arah tujuan yang jelas, lantas langsung menghentikan langkah kakinya, membuat Rendra yang sedari tadi fokus berlari sambil menarik tangan Alia, lantas langsung tertarik dan hampir jatuh karena ulah Alia yang berhenti dengan mendadak.
"Apa yang kau lakukan? ayo cepat pergi dari sini!" pekik Rendra dengan nada suara yang tertahan sambil hendak kembali menarik tangan Alia agar bergegas pergi.
"Tangan ku sakit Ren? tidak bisakah kau melakukannya dengan perlahan?" ucap Alia sambil mengusap area pergelangan tangannya yang terlihat memerah karena cengkraman tangan Rendra ketika menariknya.
__ADS_1
Rendra yang melihat kelakuannya menyakiti Alia, lantas langsung menjambak rambutnya dengan frustasi, Rendra jelas jelas tahu bahwa beberapa pria berjas hitam yang tersebar di Bandara adalah anak buah dari Fabian, namun Rendra juga tidak bisa jika terus terusan berlari menghindari mereka tanpa sebuah rencana yang jelas.
Rendra yang bingung harus melakukan apa di saat saat seperti ini, lantas mulai berusaha memutar otaknya hingga sebuah ide mendadak terlintas di benaknya ketika melihat sebuah pintu yang tertulis "Staff Only" tepat di hadapannya.
Rendra yang mendapatkan ide cemerlang, lantas langsung kembali menarik tangan Alia dan membawanya masuk ke dalam ruangan tersebut kemudian langsung menutupnya dengan rapat. Rendra membawa Alia masuk ke dalam dan menyuruhnya duduk di pojok ruangan tersebut, Rendra menyusuri area tempat tersebut dan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan agar Alia tidak kabur dari sana, hingga kemudian seulas senyum nampak terlihat dari wajahnya ketika Rendra menemukan sebuah tali tambang dan juga lakban di ruangan tersebut.
Rendra membawa kedua barang tersebut dan kembali menghampiri Alia, perasaan Alia kini bahkan sudah tidak enak ketika melihat Rendra kembali dengan membawa kedua barang tersebut di tangannya.
"Apa lagi yang akan dia lakukan padaku?" ucap Alia dalam hati yang hanya bisa membiarkan Rendra melakukan segalanya tanpa bisa memberontak ataupun kabur dari sana.
Dengan gerakan yang cepat Rendra lantas mulai memasang lakban di mulut Alia dan juga menali kedua tangan dan kaki Alia dengan erat, membuat Alia bahkan langsung meringis kesakitan ketika merasakan gesekan tali tambang yang di ikat dengan erat pada kedua tangan dan juga kakinya.
"Maafkan aku Al... aku terpaksa melakukan ini padamu, tunggulah aku di sini sebentar saja sampai keadaan menjadi kondusif setelah itu aku berjanji akan membawa mu pergi jauh dari sini." ucap Rendra sambil mengusap pelan pipi Alia dengan lembut seakan enggan untuk berpisah dengan Alia saat ini.
"Jangan coba coba kabur dari ku Al... kau ingat kan bom di dalam jaket mu dan jaket yang aku kenakan terhubung satu sama lain, jika kau berani kabur dari ku maka aku tidak akan segan segan meledakan kita berdua bersama dengan orang orang yang tidak bersalah di Bandara ini, apa kamu menginginkan hal itu terjadi?" ucap Rendra dengan nada yang serius.
Alia yang mendengar ucapan Rendra barusan tentu saja langsung menggeleng dengan keras karena ia tidak mau jika sampai Rendra benar benar meledakkan tempat ini bersama dengannya.
***
__ADS_1
Sementara itu Fabian yang baru saja sampai di parkiran Bandara, lantas langsung turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke dalam untuk mencari keberadaan Alia di sana.
Valdi yang melihat kedatangan Fabian, terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Fabian.
"Bagaimana situasinya?" ucap Fabian bertanya.
"Saya sudah mencoba untuk menunda beberapa pemberangkatan selama 20 menit ke depan, waktu kita hanya sampai 20 menit untuk mencari keberadaan Alia sebelum pesawat lepas landas boss." ucap Valdi mulai menjelaskan situasinya.
"Apa kau sudah mengecek daftar nama pemberangkatan penumpang?" tanya Fabian lagi.
"Sudah bos, tapi tidak ada satu pun nama Alia ataupun Rendra pada daftar penumpang di Bandara ini." ucap Valdi lagi, membuat Fabian lantas langsung terdiam seketika sambil mencoba untuk memutar otaknya.
"Apa kau sudah mengecek daftar pemberangkatan pesawat pribadi di Bandara ini?" ucap Fabian lagi.
"Belum boss, apa anda yakin mereka akan pergi menggunakan pesawat pribadi?" ucap Valdi kemudian.
"Kau itu bagaimana sih? tidak ada salahnya juga kan kalau kita mengeceknya? jika Rendra benar benar pergi menggunakan pesawat pribadi bagaimana? apa kau mau bertanggung jawab?" teriak Fabian dengan nada yang kesal karena Valdi bisa bisanya melewatkan sesuatu yang penting di saat saat seperti ini.
"Maafkan saya bos..." ucap Valdi kemudian merasa bersalah dengan kelalaiannya.
__ADS_1
"Sudah sana bergerak... jangan hanya meminta maaf saja!" bentak Fabian kemudian yang lantas membuat Valdi langsung berlalu pergi meninggalkan Fabian di sana.
Bersambung