Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Pekerja paruh waktu?


__ADS_3

Keesokan paginya


Ardan yang kini tengah tertidur di lantai dengan posisi bersandar pada ranjang miliknya sejak semalam, lantas di kejutkan dengan suara ketukan pintu yang mulai terdengar di area depan.


Tok tok tok


"Jam berapa sekarang?" ucapnya dalam hati sambil melirik sekilas ke arah jam dinding yang masih terlihat pukul tujuh pagi di sana.


Adan yang baru saja melihat jam dinding, lantas langsung mengernyit itu tandanya yang mengetuk pintu area depan bukanlah para pekerja karena pekerja bengkelnya biasanya pasti akan datang pada pukul delapan pagi, lalu siapa yang kini tengah mengetuk pintunya?


Ardan yang penasaran lantas mulai melangkahkan kakinya keluar dari area kamarnya, di bukanya pintu pembatas antara kamar pribadi dengan ruangan pribadi miliknya kemudian terus melangkah ke arah depan.


Dengan perlahan tapi pasti Ardan mulai membuka satu persatu pintu rolling door yang menutupi sekitaran area bengkel miliknya. Ardan memang sengaja membukanya terlebih dahulu karena ia pikir beberapa pekerja mungkin akan mulai berdatangan sebentar lagi.


Ardan cukup terkejut ketika ia sudah berhasil membuka pintu rolling door bagian depan, Ardan melihat seorang pria yang sangat ia kenali tengah berdiri memunggunginya di depan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ardan yang lantas membuat pria itu dengan spontan langsung menoleh ke arahnya.


"Pak..." sapanya dengan tersenyum cerah.


**


Ruangan Ardan


Terlihat Ardan keluar dari area pantry dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya, kemudian memberikannya kepada Rafa.


"Terima kasih pak." ucap Rafa sambil menerima secangkir kopi yang di berikan oleh Ardan barusan.


Ardan mendudukkan dirinya tepat di hadapan Rafa, kemudian menyeruput kopinya perlahan sebelum memulai membuka pembicaraan di antara keduanya.

__ADS_1


"Ada apa? apakah papa yang menyuruh mu ke sini? kalau memang iya sebaiknya kau pulang saja karena aku tidak berminat dengan segala negosiasinya." tanya Ardan langsung to the point pada intinya.


"Bukan pak, saya kemari atas dasar keinginan saya sendiri. Saya bahkan sudah resign dari kantor pak dan resmi menganggur sekarang." ucap Rafa sambil menaruh secangkir kopi pemberian Ardan ke atas meja.


Ardan yang mendengar hal tersebut tentu saja terkejut bukan main, ia tidak menyangka bahwa Rafa akan benar benar resign dari pekerjaannya begitu saja.


"Apa kau sudah gila? aku tahu kau membutuhkan pekerjaan tersebut, lalu mengapa kau resign?." ucap Ardan sambil tersenyum tak habis pikir ke arah Rafa yang mengambil keputusan dengan tiba tiba tanpa perhitungan terlebih dahulu.


"Saya tidak gila pak, saya hanya ingin mengikuti anda." ucap Rafa dengan nada yang yakin, membuat Ardan lantas semakin di buat geleng geleng kepala ketika mendengar ucapan dari mantan asistennya itu.


"Jangan bercanda Raf, aku bahkan tidak bodoh... perbandingan gaji pokok di sini dan juga di kantor jelas jauh berbeda. Lalu apa kau sudah benar benar memikirkannya?" ucap Ardan lagi seakan masih tidak percaya dengan ucapan mantan asistennya itu.


"Saya sungguh sungguh tentang hal ini pak, jika soal gaji... bukankah kita masih bisa berunding pak?" ucap Rafa dengan senyum menyengir ala kuda, membuat Ardan lantas tertawa terpingkal pingkal ketika mendengar ucapan Rafa barusan.


"Tidak!" ucap Ardan kemudian tepat setelah menghentikan tawanya, membuat Rafa yang tadinya terlihat bahagia lantas cemberut ketika mendengar ucapan dari Ardan barusan.


"Yang bener dong pak, masak resign saya jadi sia sia begini hanya karena masalah gaji..." ucap Rafa dengan nada yang memelas.


Seulas senyum terbit dari wajah Ardan membuat Rafa yang sedari tadi menunggu jawaban dari Ardan lantas bingung ketika melihat ekspresi dari Ardan barusan.


"Oke" ucap Ardan dengan singkat, Rafa yang masih tidak faham dengan ucapan Ardan barusan, lantas terlihat ngelag beberapa menit kemudian baru sadar dan langsung memasang wajah tersenyum cerah ke arah Ardan.


"Beneran pak?" tanya Rafa dengan raut wajah bahagia.


Ardan yang mendapat pertanyaan itu hanya diam kemudian langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan pribadinya.


"Kerja yang bener biar aku gak sia sia gaji kamu dengan gede." ucap Ardan sambil terus melangkahkan kakinya keluar.


Rafa yang mendengar hal tersebut lantas langsung bangkit dari tempat duduknya. "Siap pak laksanakan" imbuhnya kemudian dengan nada yang semangat empat lima, setelah itu mengikuti langkah kaki Ardan yang keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


****


Sementara itu Alia dan juga Allea, terlihat tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah tokonya hendak mulai membuka toko bunga tersebut.


Hanya saja, sebuah suara yang tiba tiba terdengar dari arah belakang lantas mengejutkan keduanya yang tengah bersiap membuka pintu toko tersebut.


"Pagi...." ucap Fabian dengan semangat empat lima, membuat Alia yang melihat kehadiran Fabian di sana lantas mulai bertanya tanya.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Alia dengan bingung namun masih tetap melanjutkan gerakannya membuka pintu.


"Untuk membantu mu lah, kau kira untuk apa aku kemari pagi pagi." ucap Fabian sambil mengikuti langkah kaki Alia yang mulai masuk ke dalam ketika pintu tokonya terbuka.


Alia yang mendengar ucapan Fabian barusan lantas mengehentikan langkah kakinya kemudian menatap Fabian dengan lekat. " Bukankah kamu masih memiliki Resto dan juga karyawan yang harus kamu pantau segalanya?" sindir Alia yang lantas membuat Fabian menyengir kuda.


Sedangkan Allea yang mengetahui keduanya kembali berdebat lantas menarik lengan Alia secara berulang kali.


"Cukup Al... aku.. takut mendengar kalian berdua beradu pendapat seperti itu..." ucap Allea dengan nada yang lirih sambil terus menarik lengan Alia agar mendengarkannya.


"Tenanglah kak kami hanya bercanda." ucap Alia sambil tersenyum. "Sebaiknya kakak ke dalam saja biar aku berbicara dengan Fabian sebentar." imbuhnya lagi.


Allea yang mendengar hal itu hanya bisa mengangguk kemudian menurut akan ucapan Alia dan masuk ke dalam.


Setelah kepergian Allea dari sana Alia lantas mulai bersendekap dada dan kembali menatap ke arah Fabian.


"Ayolah Al... lagi pula aku kan bosnya, biar saja mereka yang bekerja di sana dan aku membantu mu di sini." ucap Fabian dengan santainya sambil menaik turunkan alisnya.


"Maaf kami tidak menerima pekerja paruh waktu, silahkan anda keluar." ucap Alia dengan nada yang formal membuat Fabian lantas melotot ketika mendengarnya.


"Tapi Al.." ucap Fabian hendak menolak namun kembali di dorong keluar oleh Alia hingga ke pintu.

__ADS_1


"Tidak!" ucap Alia dengan tegas kemudian menutup pintu toko begitu saja.


Bersambung


__ADS_2