Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Stalker


__ADS_3

Galeri seni


"Apa kau itu sudah gila ha? bagaimana bisa kau tiba tiba memukul Alia seperti itu? kau pikir kepalanya itu bola apa?" ucap Rendra dengan kesal karena perbuatan Shila yang tiba tiba saja memukul tengkuk Alia dengan keras tepat ketika Alia hendak melarikan diri tadi.


"Aku itu bertindak cepat, tidak seperti kau yang terlalu lama mengulur waktu, apa menurut mu dengan hanya bermain kata kata dia akan luluh? jangan berharap!" ucap Shila dengan nada yang enteng seakan tidak merasa bersalah sama sekali.


Sedangkan Rendra yang mendengar ucapan dari Shila barusan tentu saja terkejut bukan main, bagaimana bisa ada seorang wanita gila yang tak berperikemanusiaan sedikit pun terhadap sejenisnya.


"Kau benar benar tidak waras!" ucap Rendra yang tidak tahu lagi harus berkomentar apa tentang Shila.


"Bukankah kau jauh lebih gila daripada aku?" ucap Shila dengan tersenyum sinis menatap ke arah Rendra.


"Apa maksud dari ucapan mu itu? aku benar benar tidak mengerti." ucap Rendra dengan tatapan yang tajam seakan tidak suka akan cara bicara Shila yang menyangkut tentang dirinya.


"Ayolah... tidak ada laki laki di dunia ini yang lebih gila dari dirimu, aku mengetahui segalanya Ren... jangan kau pikir tindakan mu yang telah mengikuti Alia semenjak dua tahun yang lalu sama sekali tidak tercium oleh ku, jawabannya tentu saja kau salah besar. Coba kau bayangkan akan seterkejut apa Alia jika sampai mengetahui hal itu, boom.... bukan kah akan menyenangkan hahahaha" ucap Shila dengan di selingi tawa di akhir kalimatnya.


Rendra yang mendengar ucapan Shila barusan lagi lagi di buat terkejut akan kecerdikan otak Shila, namun detik berikutnya seulas senyum terlihat tergambar dengan jelas di wajah Rendra, membuat tawa Shila langsung terhenti seketika di saat melihat perubahan ekspresi tersebut.


"Jika kamu sudah mengetahuinya... tentu aku tidak perlu menutupinya lagi bukan? aku sungguh tidak menyangka bahwa level kegilaan mu sampai pada tahap ini." ucap Rendra kemudian dengan tersenyum senang membuat Shila langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar ucapan dari Rendra barusan.


"Ya ya ya terserah apa katamu, yang jelas Alia sudah kau dapat kan itu artinya tinggal Fabian yang harus aku dapatkan kembali, bukankah begitu?" ucap Shila dengan senyum yang mengembang.


"Tentu saja... aku sudah mempersiapkan segalanya, asal kau bisa membuat Fabian terkecoh, besok atau lusa aku akan membawa pergi Alia ke suatu tempat yang jauh." ucap Rendra dengan tersenyum menyeringai.


"Bagus" ucap Shila seakan setuju dengan pemikiran Rendra barusan.


***

__ADS_1


Sementara itu Alia yang melihat beberapa lembar foto berhamburan, tentu saja terkejut bukan main dan langsung menunduk hendak memasukkan kembali beberapa kertas dan juga lembar foto yang berserakan di lantai itu sebelum Rendra kembali masuk ke dalam.


"Ba... bagaimana bisa?" ucap Alia yang terkejut ketika melihat benda apa yang baru saja jatuh.


Alia menatap satu persatu lembar foto yang ternyata semuanya berisi tentang foto keseharian dirinya. Mulai dari berjalan di toko, membuang sampah, melayani pembeli, berjalan pulang, hingga masuk ke dalam angkutan umum semua tidak luput dari pandangan mata Alia.


Alia yang merasa ini sudah tidak beres, lantas melempar foto tersebut karena merasa takut akan pemikirannya sendiri.


"Ini sudah gila! dia benar benar penguntit yang gila!" ucap Alia berulang kali sambil mundur secara perlahan dari posisinya.


Bruk


Alia yang memang dalam posisi yang terkejut sampai tidak melihat area belakangnya dan menabrak sesuatu.


Deg


"Apanya yang gila Al?" ucap sebuah suara yang langsung membuat tubuh Alia membeku seketika.


Alia yang tahu betul suara siapa itu, lantas langsung berbalik badan dan menatap ke arah Rendra dengan tatapan yang ragu.


"Ah kamu sudah melihatnya rupanya..." ucap Rendra kemudian sambil berlalu melewati Alia menuju ke arah foto yang sudah berserakan di lantai.


Alia yang melihat Rendra berjongkok dan memunguti satu persatu foto dengan senyum yang mengembang, lantas mengerutkan keningnya dengan bingung.


"Kau tau Al? senyum mu itu sangat sangat manis... aku bahkan merasa sangat bersyukur karena bisa mengabadikan momen langka ini waktu itu, lihatlah... bukan kah ini sangat manis?" ucap Rendra kemudian sambil menunjukkan selembar foto kepada Alia.


"Apa yang kamu lakukan itu salah Ren, ini sudah masuk ke dalam tindakan penguntit, apakah kamu tidak menyadarinya?" ucap Alia dengan lembut mencoba untuk menyadarkan pria itu.

__ADS_1


Rendra yang mendengar ucapan dari Alia hanya tersenyum dengan simpul, namun detik berikutnya langsung terdiam seakan moodnya berubah dalam waktu yang hanya sepersekian detik saja, membuat Alia semakin merasa takut jika berada dekat dekat dengan Rendra.


"Aku mau pulang!" ucap Alia kemudian yang lantas langsung membuat Rendra menatap ke arahnya.


"Ini adalah rumah mu Al, jika kamu sudah pulang ke rumah lalu rumah mana lagi yang ingin kamu tuju?" ucap Rendra dengan nada yang lembut, namun mampu membuat Alia bergidik dengan ngeri ketika mendengar perkataan dari Rendra barusan.


"Tidak ini bukanlah rumah ku, baik sejak awal maupun hingga kini aku dan kamu hanya sekedar orang asing dan tidak lebih... jangan hentikan aku Ren... ku mohon!" ucap Alia kemudian berbalik badan dan melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah pintu hendak melarikan diri dari sana.


Alia yang sampai di depan pintu langsung berusaha membukanya secara berulang kali, namun pintu tersebut tidak kunjung terbuka juga.


"Mengapa tidak bisa? ayolah ku mohon..." ucap Alia dalam hati sambil terus berusaha membuka pintu tersebut dengan sekuat tenaganya.


"Apa kau mencari ini?" tanya Rendra yang kini sudah duduk dengan santai di atas ranjang sambil mengangkat tinggi tinggi kunci pintu kamar tersebut, membuat Alia lantas langsung terdiam seketika di saat mendengar ucapan dari Rendra barusan.


"Buka pintunya Ren... sekarang ku bilang! atau aku akan berteriak..." ucap Alia mencoba untuk menggertak Rendra agar menuruti ucapannya.


Rendra yang mendengar ucapan dari Alia barusan hanya tersenyum tanpa ingin menanggapinya lebih lanjut lagi.


"Kemarilah... ambil sendiri... aku menunggu mu..." ucap Rendra sambil menaruh kunci tersebut di atas nakas, sedangkan ia malah mengeluarkan ponsel miliknya dan memainkannya dengan santai.


"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Alia dalam hati bertanya tanya.


Alia sungguh tahu bahwa ini hanyalah sebuah jebakan saja, Rendra tentu saja tidak akan memberikannya semudah itu jika bukan tanpa ada sebuah alasan.


Beberapa menit berpikir dan menimang keputusan, pada akhirnya Alia memutuskan untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rendra untuk mengambil kunci tersebut.


"Aaaaaa"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2