Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Putriku tidak gila!


__ADS_3

Ruangan Dokter Lita


"Kondisi mental dari Shila benar benar tengah terguncang saat ini bu.. pak, saya takut jika ini terus berlanjut mungkin akan mengarah pada depresi berat atau bahkan gangguan jiwa. Sebagai dokter yang menanganinya saya menyarankan anda untuk merujuk Shila ke dokter spesialis kejiwaan atau psikiater." ucap Lita dengan nada yang halus karena mengacu pada pengalamannya, beberapa orang tua pasti tidak akan terima begitu saja jika Lita mengatakan hal yang demikian tentang kondisi putri mereka.


Brak...


Suara meja yang di gebrak dengan keras secara tiba tiba oleh Pramono, membuat Lita lantas terkejut bukan main ketika mendengarnya.


"Kamu jangan sembarangan dalam berkata! anak saya tidak gila... kau pasti salah bukan? kalau kau tidak bisa merawatnya biar aku carikan dokter yang lebih hebat darimu!" ucap Pramono dengan nada yang berteriak seakan tidak terima akan ucapan dari Lita barusan.


"Ini belum di pastikan pak, jika bapak segera membawa Shila berobat saya bisa menjamin bahwa Shila akan sembuh." ucap Lita dengan nada yang mecoba untuk stabil ketika menghadapi keluarga pasien seperti Pramono.


"Ku bilang putri ku tidak gila ya tidak gila..." teriak Pramono lagi yang lantas membuat Shiren yang tak kuasa menahan tangisnya sedari tadi, lantas langsung bangkit berdiri dan menarik tangan Pramono dengan kasar.


"Cukup pa, dengan papa seperti ini itu sama sekali tidak mengubah keadaan putri kita, yang harus kita lakukan saat ini itu berusaha pa.. bukan malah mengamuk dan menumpahkan segalanya seperti ini! papa pikir mama gak hancur ketika mendengarnya? mama juga hancur pa... jadi mama mohon hentikan sikap arogan papa saat ini!" ucap Shiren dengan nada setengah berteriak dan bibir yang bergetar menahan tangisnya yang hendak pecah sedari tadi.


"Kami mohon maaf atas keributan ini dok, saya permisi dulu..." ucap Shiren kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Pramono dan juga Lita di ruangan tersebut.


"Tunggu ma..." panggil Pramono kemudian ikut bangkit dan mengejar istrinya keluar dari sana.


"Huft selalu saja begini..." ucap Lita setelah kepergian Shiren dan juga Pramono dari ruangannya.


***


Apartment Ardan


Setelah kepergian Alia dari Apartment, tak lama Ardan dan Fabian pun ikut pergi ke dalam ruangan meninggalkan Allea sendirian di meja makan.

__ADS_1


Allea yang sedari awal memang sudah tidak tenang, lantas semakin di buat gelisah ketika melihat kepergian satu persatu orang dari meja makan.


"Aku tidak di butuhkan... aku tidak di butuhkan...." ucap Allea berulang kali sambil memainkan tangannya ke atas dan mengarahkannya perlahan ke arah kepala secara berulang kali.


Manik mata Allea berputar ke kanan dan ke kiri, membuat Allea benar benar tidak tenang. Allea yang sudah merasa down dan frustasi, lantas bangkit dengan kasar hingga kursi yang ia duduki terjatuh begitu saja.


Aaaaaaaaaa


Prang..... tang.....


Teriakan Allea tak lagi bisa ia tahan, dengan perasaan yang gelisah Allea lantas mulai memainkan tangannya dan menyapu area meja makan, setelah itu memukul mukulkan tangannya pada kepalanya berulang kali seperti kesetanan dengan tangisan yang keras menyertainya.


Fabian dan juga Ardan yang dalam posisi di dalam ruang keluarga, lantas langsung berlarian kembali ke arah makan untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Lea..." pekik Ardan ketika melihat Allea bergerak ke sana kemari sambil mengayunkan tangannya ke atas dan mengarahkannya ke area kepalanya berulang kali.


Ardan yang melihat tindakan Allea, lantas langsung berlari dan menghampiri Allea yang berada di tengah tengah serpihan piring dan juga makanan yang berhamburan hampir memenuhi lantai ruang makan tersebut.


"Lepaskan! aku tidak berguna... aku tidak berguna... pergi pergi..." teriak Allea sambil meronta ronta minta untuk di lepaskan.


Ardan yang melihat Allea terus memberontak, lantas tidak lengah dan terus berusaha memeluk Allea berharap Allea bisa tenang dengan perlakuannya ini.


"Kau istimewa Lea... siapa yang bilang kau tidak berguna? katakan padaku? jangan seperti ini..." ucap Ardan dengan lembut di tengah tengah rasa frustasinya ketika melihat Allea yang seperti ini.


"Aku tidak berguna! kau bahkan tidak menganggap ku ada... kau tidak memperbolehkan ku melakukan apapun!" teriak Allea yang lantas membuat Ardan terdiam seketika.


Ardan benar benar tidak menyangka bahwa Allea salah mengartikan perlakuannya padanya. Ardan bahkan tidak pernah berpikir seperti itu, tapi nyatanya Allea merasakan hal yang sebaliknya karena perlakuan darinya.

__ADS_1


Ardan yang mendengar ucapan Allea, lantas langsung memeluk Allea dengan erat sambil membenamkan kepalanya pada pundak Allea.


"Aku melakukan itu karena aku sayang padamu dan tidak ingin kau bekerja dengan keras atau pun terluka, apa aku sudah menyakiti mu dengan perlakuan ku? maaf..." ucap Ardan dengan lirih yang lantas membuat gerakan Allea mulai mengendur dan perlahan berhenti kemudian luruh ke bawah begitu saja.


Keduanya lantas terduduk di lantai dengan posisi Ardan yang masih memeluk Allea dari belakang, membuat Fabian yang menyaksikan semua itu lantas terdiam tidak bisa berkata kata lagi. Ini adalah pertama kalinya Fabian melihat Ardan berusaha semampu dirinya untuk menenangkan seseorang dengan kebutuhan khusus seperti Allea.


Fabian tau posisi kakaknya di sini juga berat, namun Ardan tak punya pilihan lain selain terus maju dan melanjutkan hidupnya.


"Akankah kak Ardan sanggup melewati setiap detik, menit dan hari bersama dengan Allea? apakah keputusan kak Ardan menikah dengan Allea adalah keputusan yang tepat?" ucap Fabian bertanya tanya pada dirinya sendiri ketika menyaksikan interaksi Allea dan juga Ardan sedari tadi.


***


Sementara itu di luar unit Apartment Ardan


Ting


Dentingan suara pintu lift yang terbuka lantas terdengar di pendengaran Setya, membuatnya kemudian lantas melangkahkan kakinya keluar dari lift menuju ke unit Apartment Ardan.


Sebenarnya Setya sama sekali tidak undang di acara pindahan rumah baru Ardan, hanya saja Setya berinisiatif datang untuk meminta maaf kepada Ardan sekaligus meminta tolong agar Ardan bersedia membujuk Fabian agar mau kembali meneruskan pertunangan dengan adiknya Shila.


Ting tong ting tong


Di pencetnya bel beberapa kali oleh Setya hanya saja pintu unit Apartment Ardan tidak kunjung terbuka juga.


Ting tong ting tong


Hingga kemudian tak beberapa lama perlahan lahan pintu unit Apartment Ardan lantas mulai terlihat terbuka dan memunculkan Fabian di sana, membuat Setya lantas terkejut akan kehadiran Fabian yang kini membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Kak Setya?" ucap Fabian yang terkejut akan kehadiran Setya di Apartment kakaknya saat ini.


Bersambung


__ADS_2