Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Bagaimana bisa?


__ADS_3

"Jika papa membelaku sekali saja lalu kenapa kak? aku bahkan tidak pernah protes jika mama lebih memanjakan mu, aku tidak pernah protes jika mama memperlakukan ku secara berbeda dengan mu, aku bahkan juga memilih pergi dari rumah karena mama meminta ku untuk mengalah dengan mu dan menerima tuduhan bahwa akulah yang menyetir malam itu, dan kau masih saja menyalahkan ku? apa pemikiran mu sejak dulu selalu seperti ini pada ku kak?" teriak Fabian kemudian yang lantas membuat Ardan tidak lagi bisa berkata kata ketika mendengarnya.


Ardan yang mendengar isi hati Fabian baru saja lantas hanya bisa terdiam dan tidak lagi bisa berkata kata, Ardan benar benar tidak menyangka bahwa ternyata apa yang dirasakannya selama ini, juga dirasakan oleh Fabian namun dalam bentuk dan kapasitas orang yang berbeda.


"Kenapa kakak diam? kakak pikir hanya kakak yang memendam segalanya selama ini? aku juga merasakan hal yang sama kak, jadi ku mohon stop berlagak seakan akan hanya kakak yang menjadi korban di sini, kakak pikir aku tidak lelah apa? aku juga sama seperti kakak!" imbuh Fabian lagi ketika melihat Ardan hanya terdiam seakan terkejut ketika mendengar ucapannya barusan.


"Sebaiknya kita lanjutkan pencariannya, jika sampai pukul 12 dini hari Alia tidak juga di temukan kita cari jalan lain." ucap Ardan kemudian sambil melajukan mobilnya tanpa mau kembali membahas dan memperpanjang masalah yang baru saja keluar dari isi hati mereka masing masing selama bertahun tahun.


Fabian yang mendengarkan ucapan Ardan hanya diam dan tidak menanggapi ucapan kakaknya itu. Hingga pada akhirnya Ardan kembali melajukan mobilnya kembali menjelajahi ibu kota mencari keberadaan Alia, namun dalam suasana yang hening karena keduanya sedang sibuk menyelami pikiran mereka masing masing, tanpa ingin membuka pembicaraan atau hanya sekedar bergurau untuk mengisi keheningan di dalam mobil.


***


Kediaman Zayan


Di area ruang makan, Arsa menatap begitu banyak hidangan makanan dengan raut wajah yang sendu. Kegembiraan yang Arsa tunjukkan sedari pagi benar benar lenyap tak berbekas.


"Sudahlah ma, ayo kita naik ke atas... biar bibi yang membereskan semuanya." ucap Zayan mencoba untuk membujuk istrinya yang sedari tadi hanya duduk diam di meja makan menanti kedatangan putranya.


"Tunggu sebentar pa... mungkin mereka sedang terjebak macet, mama yakin mereka pasti akan datang." ucap Arsa tidak ingin putus harapan dan memilih tetap menanti anak anaknya.


"Jangan berlagak bodoh ma, ini bahkan sudah pukul 10 malam, semacet macetnya mereka tidak akan sampai semalam ini." ucap Zayan lagi.


"Papa jangan seperti itu... mama tetap percaya pada putra mama jadi papa jangan coba coba mengganggu mama!" ucap Arsa dengan nada yang kesal karena Zayan terus saja mengatakan bahwa Ardan dan juga Fabian tidak akan pernah datang untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Zayan yang tidak lagi tahu bagaimana cara untuk membujuk istrinya, lantas langsung melipir dan mengambil ponselnya mendial nomor Ardan di sana.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik..


Tidak ada jawaban apapun dari Ardan, hingga tepat ketika deringan kesekian kalinya barulah terdengar suara Ardan di seberang sana.


"Ke mana saja sebenarnya kalian hingga jam segini belum juga sampai di rumah?" ucap Zayan dengan nada yang kesal karena keduanya tidak kunjung sampai sedari tadi.


Ardan yang mendengar pekikan dari Zayan, bukannya menjawab malah terdengar suara ribut ribut di seberang sana, membuat Zayan semakin kesal ketika mendengarnya.


"Benar benar anak tidak tahu diri, bukannya berbakti malah sibuk dengan urusannya sendiri sendiri!" gerutu Zayan dengan nada yang kesal kemudian berlalu pergi untuk mengecek kembali keadaan istrinya yang hingga kini masih menunggu dan percaya bahwa putranya akan datang.


***


Sementara itu Ardan yang baru saja mendapat telpon dari Zayan, langsung terdiam seketika sambil melirik sekilas ke arah Fabian yang terlihat juga tengah termenung saat ini.


"Apa yang kakak lihat? sudah jalan sekarang... mama pasti sudah menunggu lama!" ucap Fabian pada akhirnya namun dengan pandangan tetap lurus ke depan tanpa melirik sedikitpun ke arah Ardan.


"Tapi Alia..." ucap Ardan namun tidak jadi karena ia sendiri kini bahkan juga merasa bersalah, semuanya bermula dari Ardan yang menjanjikan akan membawa pulang Fabian untuk makan malam, namun malah melupakannya karena sibuk mencari keberadaan Alia sedari tadi.

__ADS_1


"Aku sudah menyuruh Valdi untuk melacak keberadaan Alia, mungkin sebentar lagi Valdi akan memberikan kabar padaku, jadi sebelum kabar itu sampai kita bisa mampir terlebih dahulu ke rumah mama dan menghiburnya." ucap Fabian dengan nada yang datar, membuat Ardan lantas langsung menghela nafasnya dengan kasar.


"Baiklah kalau begitu." ucap Ardan pada akhirnya memilih mengikuti ucapan dari Fabia barusan dan melajukan mobilnya menuju ke mansion utama untuk pulang, walau sudah terlambat namun setidaknya masih bisa bukan?


***


Galeri Seni


Di sebuah ruangan seperti kamar pribadi, terlihat Alia mulai menggerakkan kelopak matanya dengan perlahan dan mulai tersadar dari pingsannya.


Alia bangkit secara perlahan dari tidurnya sambil memegang tengkuknya yang terasa berat akibat pukulan yang ia terima tadi pagi.


"Apa yang terjadi padaku? bukankah tadi aku hendak pergi dari Galeri seni Rendra kemudian Rendra menahan ku untuk pergi, namun kemudian... semuanya gelap dan aku malah berakhir di sini." ucap Alia lirih sambil mengingat ingat apa yang telah terjadi padanya sebelum berakhir di sini.


Alia mencoba merenggangkan lehernya secara perlahan karena merasa nyeri di sekitar area tengkuknya, kemudian perlahan lahan bangkit dari tempat tidur dan menatap setiap sudut ruangan kamar pribadi tersebut.


"Bagaimana aku bisa keluar dari sini?" ucap Alia dalam hati mencoba memutar otaknya mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini.


Hingga kemudian pandangan Alia terhenti pada sebuah meja kayu antik yang terlihat begitu indah dengan ukiran bunga di setiap sudutnya. Alia kemudian lantas mempercepat langkah kakinya menuju ke arah meja kayu tersebut dan langsung membuka satu persatu laci meja tersebut, untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk kabur atau mempertahankan diri dari kegilaan Rendra. Hingga kemudian ia tanpa sadar malah membuat buku yang terletak di sebelah kirinya jatuh dan langsung menumpahkan segala isinya.


Alia yang melihat hal tersebut, tentu saja terkejut bukan main dan langsung menunduk hendak memasukkan kembali beberapa kertas dan juga lembar foto yang berserakan di lantai.


"Ba... bagaimana bisa?" ucap Alia yang terkejut ketika melihat benda apa yang baru saja jatuh.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2