
"Bu... bukan begitu maksud ku kak, aku hanya...." ucap Fabian namun terhenti ketika mendengar suara benda jatuh dan pecah tak jauh dari posisi keduanya.
Cetar....
"Al... Alia hilang...?" ucap sebuah suara yang langsung membuat Fabian dan juga Ardan menoleh seketika ke arah sumber suara.
Fabian dan juga Ardan yang melihat kedatangan Allea lantas langsung saling pandang satu sama lain, hingga kemudian tanpa berpikir panjang Ardan langsung datang dan mendekat ke arah di mana Allea berada ketika melihat Allea sudah mulai bereaksi dan tidak stabil.
"Alia hilang... Alia hilang... aaaaa.... hilang... hilang... hilang...." ucap Allea secara berulang kali sambil mulai membuka tutup telinganya dengan tatapan yang bingung, menatap ke arah ke sana ke mari.
"Bukan seperti itu Lea... kamu salah paham... dengarkan dulu penjelasan ku..." ucap Ardan mencoba untuk menenangkan Allea saat ini.
"Kamu bohong... kamu bohong... aku tidak mau mendengarnya... aku tidak mau mendengarnya..." ucap Allea dengan nada yang setengah berteriak tak percaya begitu saja akan ucapan dari Ardan barusan.
Beberapa karyawan yang mendengar teriakan dari Allea, lantas terlihat berhamburan datang dan berkumpul tak jauh dari posisi Allea dan Ardan.
"Dengarkan aku baik baik Lea! lihat aku..." ucap Ardan sambil memegangi kedua tangan Allea dan membuat Allea menatap tepat pada manik matanya.
Allea yang di perlakukan seperti itu tentu saja langsung diam seketika dan menatap ke arah Ardan.
"Yang hilang bukan Alia tapi ponsel Alia... Fabian datang ke sini untuk bertanya apakah ponsel Alia terbawa oleh kita atau tidak, iya kan Bi?" ucap Ardan dengan nada yang penuh penekanan membuat Fabian langsung dengan spontan mengangguk, seakan mengiyakan pertanyaan dari Ardan barusan.
"Iya kak benar... kak Allea salah paham akan hal ini..." ucap Fabian kemudian bingung akan bereaksi apa di saat saat seperti ini.
Allea yang mendengar ucapan dari keduanya, lantas langsung terdiam berpikir dan mencoba untuk mencerna ucapan keduanya.
"Apa... apa itu benar?" tanya Allea beberapa detik kemudian sambil menatap ke arah Fabian dan juga Ardan secara bergantian.
__ADS_1
"Iya" ucap Ardan dan juga Fabian hampir secara bersamaan.
"Baiklah..." ucap Allea kemudian sedikit merasa lebih tenang ketika mendengar ucapan dari keduanya.
"Maka dari itu aku berencana untuk membantu Fabian mencari ponsel Alia, apakah kamu bisa menunggu ku di sini bersama dengan Rafa?" tanya Ardan dengan nada yang lembut, sambil mengkode Rafa yang berada tidak jauh dari posisinya.
Rafa yang paham akan instruksi tersebut, lantas langsung dengan spontan mengangguk tanda mengerti. Begitu pula Allea yang mendengar permintaan dari Ardan barusan kemudian langsung dengan spontan mengangguk tanda setuju.
"Terima kasih banyak, aku janji tidak akan lama... jangan pulang dulu jika aku belum menjemput mu, kamu mengerti?" ucap Ardan kemudian memperingati agar Allea tidak pergi ke mana mana, yang lantas di balas Allea dengan anggukan kepala.
"Aku pergi dulu ya..." ucap Ardan kemudian sambil mencium kening Allea sekilas, kemudian berlalu pergi dari sana bersama dengan Fabian menuju ke arah mobil Fabian yang terparkir tidak jauh dari posisi keduanya berdiri saat ini.
***
Galeri seni
Mobil yang di kendarai Rendra pada akhirnya sampai juga di Galeri seni miliknya. Secara perlahan Alia dan juga Rendra terlihat mulai melangkahkan kakinya turun dari mobil dan mendekat hendak masuk ke dalam.
Rendra membuka pintu Galeri dan mulai mempersilahkan Alia masuk ke dalamnya. Ditatapnya satu persatu lukisan yang terpajang di sana dengan rapi oleh Alia, Alia benar benar kagum akan lukisan yang begitu cantik dan juga mempunyai karekteristik masing masing yang mampu menariknya untuk masuk semakin dalam pada tiap tiap lukisan yang terdapat di Galeri Seni tersebut.
"Masuk lah dan duduk di mana saja sesuka mu, aku akan mengambil minuman dulu untuk mu..." ucap Rendra mencari sebuah alasan sekaligus hendak mengecek apakah Shila ada di sini atau sedang pergi.
"Tidak perlu repot repot Ren, santai saja...." ucap Alia kemudian.
"Apa yang kamu katakan sih, aku bahkan tidak pernah merasa direpotkan sama sekali, mengapa kamu selalu saja terus mengatakan hal tersebut secara berulang kali?" ucap Rendra yang lantas membuat Alia tersenyum ketika mendengarnya.
"Terima kasih banyak" ucap Alia kemudian yang di balas Rendra dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Kamu santai aja dulu anggap ini adalah tempat mu sendiri." ucap Rendra sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.
**
Rendra melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah ruangannya dan langsung masuk menutup pintu dengan rapat.
"Di mana dia? mengapa aku tidak melihatnya di manapun?" ucap Rendra dengan nada yang lirih sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Hingga sebuah suara mendadak terdengar dan menyahuti ucapannya ketika Rendra tengah sibuk mencari keberadaan Shila di ruangannya.
"Kamu mencari ku?" ucap sebuah suara yang tentu saja adalah Shila.
Rendra yang mendengar suara tersebut tentu saja langsung berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara. Ketika Rendra berbalik terlihat Shila tengah bersandar dengan raut wajah yang santai di pintu sambil memakan apel secara perlahan.
"Kau! aku bahkan mencari mu sedari tadi, dari mana kau?" ucap Rendra sambil mendekat ke arah Shila dan langsung menariknya menjauh dari pintu takut Alia akan mendengarnya.
"Tenanglah... aku tidak akan keluar, kau pikir aku bodoh apa?" ucap Shila sambil menghempaskan tangan Rendra secara perlahan.
Rendra yang mendengar ucapan dari Rendra langsung tersenyum dengan lega.
"Bagus deh kalau kau tahu diri, aku harap kau tidak melakukan hal hal yang aneh dan jangan memunculkan wajah mu di hadapan Alia atau semuanya akan berantakan." ucap Rendra memberi peringatan kemudian hendak berlalu pergi dari sana.
"Yang harusnya kau takutkan itu lukisan mu bukan kemunculan ku, tidakkah kau berpikir bahwa Alia akan menganggap mu sebagai pria yang terobsesi dengannya jika ia melihat mayoritas lukisan mu adalah tentangnya, cobalah berpikir Ren?" ucap Shila sambil tersenyum sinis melihat punggung Rendra yang hendak pergi itu.
Rendra yang mendengar ucapan dari Shila barusan langsung berbalik badan dan menatap dengan sinis ke arah Shila.
"Jika dia sudah mengetahuinya, bukankah itu lebih baik dari pada harus terus bersembunyi? bukankah kau mengatakan hal itu?" ucap Rendra dengan senyum menyeringai kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Shila yang masih menatapnya dengan tatapan yang melongo ketika mendengar jawaban dari Rendra barusan.
__ADS_1
"Dasar gila!" ucap Shila sambil bergidik ngeri membayangkan apa yang akan di lakukan oleh Rendra kepada Alia.
Bersambung