
Di dalam mobil yang di kendarai oleh Fabian.
Baik Fabian maupun Shila nampak terdiam menyelami pikiran mereka masing masing, terdengar helaan nafas dari Fabian berulang kali. Hingga pada akhirnya Fabian memilih untuk melipir dan menepi ke bahu jalan. Kali ini Fabian harus benar benar meluruskan segalanya pada Shila sebelum semuanya semakin melebar dan merembet ke mana mana.
"Kemarikan tangan mu yang terluka." ucap Fabian sambil melepas sabuk pengamannya, kemudian memiringkan sedikit tubuhnya menatap ke arah Shila mulai membuka pembicaraan di antara keduanya.
Shila yang mendengar ucapan Fabian barusan, bukannya memberikan tangannya malah memunggungi pria itu dan menatap ke arah luar jendela, seakan enggan untuk menatap ke arah Fabian yang kini tengah mengajaknya berbicara.
"Jangan sok perhatian, lagi pula ini hanyalah goresan kecil sungguh tak sebanding dengan goresan yang kau torehkan pada hati ku Bi..." ucap Shila tanpa menatap ke arah Fabian sama sekali dengan nada yang menyindir.
"Ayolah La, bukankah kita sudah sepakat untuk menjadi seorang sahabat sejak dulu? lalu apa ini? kenapa sekarang kamu malah meminta lebih dari itu?" ucap Fabian seakan tidak mengerti akan keputusan Shila yang terkesan berubah ubah.
"Itu dulu waktu kita masih sama sama muda, bukankah dulu kamu pernah mengatakan bahwa kamu mencintai ku? lalu mengapa kini berbeda? bukankah dulu dan sekarang harusnya sama saja?" ucap Shila sambil berbalik badan dan menatap manik mata Fabian secara dalam dalam, Shila bahkan kini tidak mengerti mengapa Fabian berubah tidak lagi sama seperti dulu.
"Itu sudah lama sekali sebelum kepergian mu waktu itu, bukankah kamu sendiri yang menolaknya? lalu apa ini? kamu mendadak berubah pikiran begitu saja, kau pikir aku ini apa? mainan mu?" ucap Fabian dengan nada yang kesal karena ia merasa di permainkan oleh Shila.
Shila yang mendengar hal itu lantas malah menggenggam dengan erat tangan Fabian dan menatapnya dengan wajah yang memelas.
"Aku minta maaf jika kamu tersinggung, kita mulai lagi semuanya dari awal hem? aku yakin kita bisa kembali seperti dulu." ucap Shila seakan mencoba membujuk Fabian, namun Fabian malah menepis tangan Shila perlahan seakan memberikan isyarat bahwa semuanya telah berakhir.
"Aku tidak bisa, maaf..." ucap Fabian dengan nada yang lirih.
Shila yang mendengar penolakan tersebut lantas terkejut, Shila benar benar tidak percaya bahwa Fabian akan menolaknya begitu saja padahal dulu Fabian selalu saja mengejarnya.
"Apa ini karena gadis penjual bunga itu?" ucap Shila dengan nada yang mengejek, membuat Fabian lantas menatap ke arah Shila dengan tatapan yang tidak suka akan panggilan yang di berikan kepada Alia.
__ADS_1
"Namanya Alia, jangan menyangkut pautkan apa yang terjadi pada kita dengan Alia, ini sama sekali bukan karena dirinya." ucap Fabian dengan nada yang tidak suka.
"Jangan bohong! aku bahkan bisa melihatnya hanya dari matamu... kau tidak bisa melakukan ini padaku Bi.. tidak bisa..." teriak Shila dengan histeris.
Sedangkan Fabian yang mendengar teriakan Shila barusan hanya bisa terdiam tanpa bisa menyangkalnya maupun mengiyakan ucapan Shila barusan.
"Jika aku tidak bisa memiliki mu maka lebih baik aku mati!" ucap Shila yang lantas membuat Fabian mendongak menatap ke arah Shila.
"Jangan main main dengan kematian itu tidaklah lucu!" ucap Fabian dengan tegas.
"Aku tidak pernah main main dengan ucapan ku Bi!" ucap Shila dengan tersenyum sinis kemudian langsung membuka pintu mobil dan berlari begitu saja.
Fabian yang melihat Shila keluar tentu saja langsung panik dan ikut keluar mengejar Shila.
Shila benar benar sudah dibutakan oleh cinta, hingga ia lebih memilih mati dari pada melihat Fabian bersama dengan yang lainnya. Shila terus berlari menuju ke arah tengah jalan, beberapa mobil yang terkejut akan kehadiran Shila lantas membunyikan klakson berkali kali dengan keras. Namun Shila yang sudah seakan menulikan telinganya lantas tetap melangkah ke arah tengah.
"Sial!" umpatnya dengan kesal karena tak berhasil mengejar Shila.
Tepat di tengah jalan Shila menghentikan langkah kakinya, sementara tak jauh dari posisinya berdiri sebuah truk gandeng tengah melaju dengan cepat ke arahnya.
Fabian yang melihat hal itu semakin mempercepat langkah kakinya dan tak memperdulikan lagi keselamatannya menerobos jalanan. Suara klakson mobil maupun sepeda motor terus terdengar bersautan.
Hingga ketika jarak antara truk dan juga Shila semakin dekat, Fabian yang berlarian menuju ke arah Shila berhasil menarik tangan Shila dan membuatnya melipir ke pinggir jalan.
Keduanya berguling cukup jauh ke arah bahu jalan hingga berakhir di tepi trotoar tepat setelah bahu Fabian membentur pinggiran trotoar.
__ADS_1
"Kau sudah gila ya!" teriak Fabian dengan kesal yang langsung bangkit walau merasakan nyeri di area bahunya.
"Ya aku gila... benar benar gila, jadi sekarang lepaskan wanita gila ini." teriak Shila sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Fabian yang melingkar di tangannya.
"Tidak akan!" ucap Fabian dengan tegas.
"Ku bilang lepaskan ya lepaskan Bi!" teriak Shila lagi dengan terus memberontak berusaha meloloskan diri dari cengkraman tangan Fabian.
Fabian yang melihat Shila semakin menjadi jadi, lantas merasa frustasi hingga tanpa sadar mengucapkan kata kata yang tak seharusnya ia ucapakan.
"Baiklah aku menyetujuinya, asalkan kamu tenang dan tidak melakukan hal gila ini lagi!" teriak Fabian kemudian yang lantas mengehentikan aksi Shila yang terus memberontak.
Shila yang mendengar ucapan Fabian barusan, lantas perlahan mendongak menatap manik mata Fabian mencoba mencari kebenaran ucapan yang keluar dari mulut Fabian barusan
"Benarkah Bi?" ucap Shila seakan kembali mempertanyakan jawaban Fabian barusan.
Fabian yang mendengar hal itu hanya bisa mengangguk dengan pasrah tanpa bisa berkata kata lagi. Jika boleh jujur saat ini hati dan ucapannya bahkan tidak berjalan dengan selaras sama sekali. Fabian benar benar tidak menginginkan perjodohan itu namun Fabian juga tidak bisa melihat Shila mati begitu saja di depan mata kepalanya sendiri.
Shila yang melihat anggukan kepala Fabian, lantas tersenyum dengan bahagia kemudian memeluk dengan erat tubuh Fabian dalam dalam. Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi dirinya, tidak sia sia Shila tadi melompat ke tengah jalan, hanya untuk mendapatkan kata "iya" dari Fabian. Kini Shila merasa seakan berbunga dan juga sangat sangat bahagia.
"Terima kasih banyak Bi... terima kasih..." ucap Shila dengan nada yang ceria di dalam pelukan Fabian.
Sedangkan Fabian yang mendengar ucapan terima kasih itu hanya bisa terdiam tanpa bisa menanggapinya.
"Maafkan aku Al..." ucap Fabian dalam hati dengan manik mata yang sendu menatap kosong ke arah jalanan sekitar.
__ADS_1
Bersambung