
Taman kota
Terlihat Fabian tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang perlahan memasuki area taman kota dan mencari keberadaan Shila di sana.
Fabian menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat Shila sudah menanti kedatangannya dengan duduk pada salah satu bangku taman di area paling pojok taman tersebut. Fabian yang melihat Shila berada di sana, lantas melangkahkan kakinya dengan malas mendekat ke arah di mana Shila berada kemudian mengambil duduk di dekat Shila.
"Ada apa?" ucap Fabian dengan nada yang datar setelah mendudukkan dirinya tepat di sebelah Shila.
Shila yang mendengar pertanyaan datar dari Fabian barusan, lantas tersenyum sekilas ke arah Fabian kemudian kembali menatap lurus ke arah depan seakan tengah memikirkan sesuatu.
"Apa kau ingat tempat ini Bi? dulu sepulang kuliah kita sering sekali berada di sini dan menikmati suasana taman kota setiap harinya, begitu menyenangkan dan terasa hangat aku benar benar merindukan saat saat itu." ucap Shila dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Fabian.
Fabian yang mendengar ucapan dari Shila barusan, hanya melirik sekilas ke arah Shila kemudian menerawang jauh memutar kembali memori masa masa kuliahnya bersama dengan Shila dahulu. Apa yang di katakan Shila bukanlah sebuah kebohongan karena keduanya memang pernah dekat dan saling berbagi cerita namun hanya dalam sebatas pertemanan. Fabian yang kala itu menaruh hati pada Shila, harus di patahkan akan kenyataan bahwa Shila tidak menaruh hati padanya dan memilih meninggalkannya ke luar negeri tanpa kabar dan berita, membuat hati Fabian benar benar patah dan hancur kala itu.
Fabian yang kembali teringat akan kenangan itu, lantas langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mengusir jauh jauh rasa itu, karena sekarang hatinya sudah menjadi lebih baik semenjak kehadiran Alia di hidupnya.
"Itu sudah menjadi masa lalu, aku harap kamu bisa mengerti dan melanjutkan hidup mu." ucap Fabian memberikan nasihat, namun Shila yang mendengar ucapan Fabian barusan hanya tersenyum dengan sinis seakan tidak setuju akan perkataan Fabian barusan.
"Kamu salah Bi, sebentar lagi semua itu akan kembali pada tempatnya..." ucap Shila dengan tersenyum lebar.
Fabian yang mendengar ucapan dari Shila tentu saja terkejut bukan main, Fabian benar benar tidak mengerti akan maksud dari perkataan Shila barusan.
__ADS_1
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Fabian dengan raut wajah yang penasaran.
Shila yang mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Fabian, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian menatap Fabian dengan lekat, membuat Fabian yang melihat tingkah laku dari Shila semakin di buat bingung.
"Ucapkan selamat tinggal pada dia Bi, setelah hari ini aku yakin kamu akan kembali menjadi milik ku..." ucap Shila dengan senyum yang mengembang kemudian berlalu pergi meninggalkan Fabian dengan raut wajah yang nampak terlihat masih bingung dan tidak mengerti akan arah pembicaraan dari Shila.
Fabian yang masih bingung dan penasaran akan kata kata Shila, lantas langsung bangkit dan hendak mengejar langkah kaki Shila, namun suara deringan ponsel miliknya lantas langsung menghentikan langkah kaki Fabian yang hendak mengejar Shila barusan.
Fabian yang melihat nama Valdi tertera di layar ponselnya, lantas langsung mengusap ikon berwarna hijau di layarnya dan mulai menjawab panggilan telpon tersebut.
"Halo" ucap Fabian setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Saya sudah menemukan keberadaan Alia bos, jika menurut dari gps di sistem komputer saya Alia saat ini sedang menuju ke arah bandara SH." ucap Valdi memberikan laporan.
"Benar benar sialan!" ucap Fabian dengan nada yang lirih, membuat Valdi yang di seberang sana, lantas terkejut bukan main karena menganggap bahwa Fabian sedang memarahinya saat ini.
"Maaf bagaimana bos?" ucap Valdi kemudian dengan nada yang lirih.
"Kirimkan padaku posisinya sekarang dan minta bantuan kepada yang lainnya untuk mencari keberadaan Alia, kalau perlu hentikan semua penerbangan yang akan berangkat saat ini." ucap Fabian memberikan perintah kepada Valdi kemudian langsung menutup sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu dari Valdi.
Fabian yang tidak ingin membuang waktu lagi, lantas langsung berlarian menuju ke arah mobilnya hendak melajukan mobilnya sesuai dengan jalur yang tertera pada gps yang di kirimkan oleh Valdi barusan.
__ADS_1
"Tunggu aku sebentar lagi Al... aku janji akan menyelamatkan mu..." ucap Fabian dengan nada yang yakin pada diri sendiri, kemudian melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan yang tinggi menuju Bandara SH.
***
Sementara itu di sebuah mobil yang di kendarai oleh Rendra.
Alia nampak duduk dengan termenung tanpa mengucapkan sepatah kata apapun atau bahkan mencoba untuk melarikan diri dari Rendra. Air matanya bahkan terlihat turun berkali kali, namun Alia selalu mengusapnya dengan kasar tepat sebelum air mata itu benar benar jatuh dan membasahi pipinya.
Perasaan Alia benar benar tidak karuan saat ini, di liriknya sekilas Rendra yang saat ini tengah sibuk mengendarai mobilnya membelah jalanan ibu kota.
Alia menatap jalanan dengan pandangan yang kosong, pikirannya kini bahkan melayang jauh membayangkan kejadian sebelum dirinya dan juga Rendra pergi menuju ke arah Bandara.
Alia yang kala itu tengah memberontak dan berusaha untuk melarikan diri, lantas membuat Rendra tak hilang akal. Hingga kemudian Rendra yang entah sudah gila atau memang tidak pernah berpikir dalam bertindak, mendadak malah memasangkan jaket kulit berisi bom rakitan yang siap di ledakan kapan pun Rendra menginginkannya.
Bukan hanya pada Alia saja Rendra memasang bom tersebut namun juga pada tubuhnya, alasan Rendra memasangkan bom tersebut sangatlah simpel dan mungkin terdengar tidak masuk akal.
"Jika aku tidak bisa memiliki mu, maka tidak akan ada orang lain yang berhak untuk memiliki mu... jika aku mati kau pun harus mati bersama ku!"
Kata kata Rendra terngiang dengan jelas di ingatan Alia, membuat Alia tidak lagi bisa memberontak ataupun mencoba melarikan diri dari jeratan pria gila di sampingnya ini. Alia kini hanya bisa pasrah dan menyarahkan segalanya pada takdir, Alia tidak lagi serakah dan berharap Fabian akan menemukannya karena ia sama sekali merasa tidak pantas jika harus berada di samping Fabian, kehadirannya akan membahayakan semua orang jika sampai Rendra mengetahuinya.
"Bisakah aku terbebas dari pria gila ini?" ucap Alia dalam hati sambil kembali mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya tanpa ia minta sekalipun.
__ADS_1
Bersambung