
Di dalam mobil yang di kendarai oleh Rendra
Terlihat Rendra dan juga Shila tengah menatap ke arah toko bunga milik Alia dari dalam mobil pribadinya.
"Sana turun dan lakukan sesuai rencana, kau tentu tidak sepengecut itu bukan?" ucap Shila dengan nada yang menyindir.
Rendra yang mendengar ucapan dari Shila barusan, tentu saja langsung kesal sambil memutar bola matanya dengan jengah.
"Jangan meremehkan ku, lagi pula aku hanya tinggal berpura pura membeli bunga dan membuka obralan, bukan? itu bahkan hal yang mudah bagiku." ucap Rendra dengan nada yang kesal.
"Kalau begitu lakukan sekarang, aku akan menunggumu di sini." ucap Shila lagi sambil mendorong tubuh Rendra agar segera keluar dan mulai bertindak.
"Iya iya sabar napa!" ucap Rendra lagi dengan berdecak kesal sambil mulai membuka pintu mobil dan melangkah turun dari mobilnya.
Rendra yang baru saja turun dari mobil, lantas mulai merapikan bajunya sebentar kemudian baru melangkahkan kakinya sambil mengatur nafasnya secara perlahan karena gugup.
"Aku bisa... aku bisa.. hanya datang dan membeli bunga.." ucap Rendra dalam hati sambil terus mengatur nafasnya secara perlahan.
Klinting klinting
Suara lonceng pintu masuk yang di pasang di toko Alia terdengar menggema, membuat Alia dengan spontan langsung menoleh ke arah pintu masuk dengan senyum yang mengembang. Sedangkan Rendra yang semula sudah merasa gugup, agak sedikit terkejut ketika mendengar suara lonceng yang berbunyi ketika pintu ia buka.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" ucap Alia dengan spontan ketika mendengar suara lonceng tersebut. "Kamu..." ucap Alia kemudian ketika menyadari seorang pemuda yang baru saja masuk ke tokonya adalah pemuda yang sama dengan yang ia temui ketika di Rumah Sakit.
"Oh hai..." sapa Rendra pura pura ikut terkejut ketika bertemu dengan Alia.
"Kamu Rendra kan temannya Fabian?" tanya Alia sambil mendekat ke arah di mana Rendra berada.
Rendra yang mendengar Alia menyebut namanya, lantas tersenyum dengan senang karena ternyata Alia tidak melupakannya.
"Iya, aku gak nyangka kamu masih ingat dengan ku." ucap Rendra yang lantas di balas Alia dengan senyuman.
"Oh ya... kamu mau mencari rangkaian bunga atau tanaman bunga?" tanya Alia kemudian.
__ADS_1
"Ya, aku sedang mencari buket bunga yang indah untuk acara teman ku?" ucap Rendra.
"Ah... buket ya? kalau boleh tahu untuk acara seperti apa? formal atau informal?" tanya Alia kemudian.
"Bukan formal kok, hanya sebagai hadiah saja antar sesama teman karena sudah naik jabatan." ucap Rendra mencari alasan.
"Oh kalau begitu aku akan merekomendasikan mu beberapa yang cocok, kamu boleh melihatnya terlebih dahulu sambil aku siapkan bunga mawar yang kamu minta." ucap Alia sambil memberikan buku sampel rangkaian bunga kepada Rendra setelah itu berlalu pergi.
Rendra yang menerima buku tersebut hanya membukanya saja tanpa menatap maupun benar benar memilih buket tersebut, yang dilakukan Rendra sedari tadi malah fokus menatap ke arah Alia yang tengah sibuk memilih beberapa bunga mawar segar untuk buketnya.
"Cantik" ucap Rendra yang seakan terpesona akan sosok dari Alia yang terlihat begitu bersinar di tengah banyaknya tanaman bunga yang berjajar di sekitarnya.
"Bagaimana? apa kamu sudah memutuskannya?" tanya Alia kemudian sambil melangkahkan kakinya mendekat kembali ke arah di mana Rendra berada.
Rendra yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas dengan spontan langsung mengangkat buku tersebut dan menunjuk di salah satu gambar tanpa melihatnya terlebih dahulu.
"Ha... apa kamu yakin?" tanya Alia lagi ketika melihat arah tunjuk Rendra yang malah memilih karangan bunga untuk orang yang meninggal.
Rendra yang melihat wajah terkejut Alia, tentu saja langsung menoleh ke arah yang ia tunjuk dan malah terkejut ketika ia malah menunjuk karangan bunga untuk orang meninggal.
"Baiklah baiklah santai saja..." ucap Alia yang di selingi dengan tawa kecil ketika melihat tingkah Rendra yang menurutnya lucu.
**
Beberapa menit kemudian
Alia yang baru saja menyelesaikan rangkaian bunganya, lantas mulai bangkit dan menghampiri Rendra di kursi tunggu.
"Ini bunganya, total semua jadi 100 ribu." ucap Alia sambil memberikan buket bunga tersebut kepada Rendra.
"Kenapa cepat sekali sih? aku kan masih pengen di sini." ucap Rendra dengan nada yang lirih.
"Maaf kenapa?" tanya Alia yang tidak terlalu jelas mendengar ucapan Rendra barusan.
__ADS_1
"Ah tidak ada, ini uangnya." ucap Rendra kemudian sambil memberikan pecahan seratus ribuan kepada Alia.
"Terima kasih." ucap Alia kemudian, setelah itu Rendra mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana. Namun baru beberapa kali langkah Rendra lantas kembali berbalik dan menghampiri Alia.
"Em.. aku tidak tahu apakah kamu berkenan atau tidak, minggu depan Galeri Seni milik ku resmi di buka, letaknya tidak jauh dari sini... kalau kamu bersedia kamu boleh mampir ke sana, aku memberikan mu undangan spesial karena kamu adalah teman dekat Fabian." ucap Rendra sambil merogoh saku celananya dan memberikan sebuah amplop kecil berisi undangan.
Alia menerima undangan tersebut dan melihatnya sekilas.
"Tentu, akan aku luangkan waktu untuk hadir ke sana dan mengajak Fabian." ucap Alia dengan tersenyum, membuat Rendra langsung bahagia seketika namun kembali berwajah masam ketika Alia malah menyebut nama Fabian barusan.
"Tentu, sampai jumpa minggu depan." ucap Rendra kemudian berlalu pergi dati sana.
"Mengapa harus Fabian di ajak juga sih?" ucap Rendra dengan raut wajah yang kesal sambil melangkahkan kakinya keluar dari toko bunga Alia.
****
Sementara itu di sebuah ruangan kerja, terdengar deringan nada ponsel seseorang terdengar menggema di ruangan tersebut, membuat seorang laki laki yang tengah duduk dengan posisi membelakangi meja kerjanya mulai menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo" ucapnya tepat setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Maaf pak, saya dari jasa pengiriman paket... saya ingin mengabarkan kepada anda bahwa beberapa hari ini ada seseorang yang terus menanyakan tentang asal dari paket yang kami kirim beberapa hari yang lalu atas nama Alia, apakah paket tersebut sedang dalam masalah pak?" tanya si penelpon di seberang sana.
Mendengar ucapan dari jasa pengiriman paket tersebut, pria itu lantas tersenyum dengan sinis sambil menggerak gerakan jari tangannya naik turun beberapa kali.
"Tidak ada, mungkin dia hanya penasaran akan alamat pengirim. Kalian tidak perlu khawatir asisten saya nanti akan mengurusnya dan membereskan segalanya." ucap pria tersebut dengan nada yang santai.
"Apa anda yakin pak?" tanya si penelpon lagi mencoba untuk memastikan.
"Tentu saja, yang harus kau lakukan hanya cukup merahasiakannya saja, apa kau mengerti?" ucap pria tersebut.
"Baik pak." ucap si penelpon kemudian terdengar panggilan telpon yang di putus begitu saja oleh pria tersebut.
"Fabian... Fabian... rupanya kau sudah mulai curiga ya? kita lihat saja apa kau akan berhasil menemukan ku atau aku yang akan membongkar rahasia mu." ucap pria tersebut dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
Bersambung