
Fabian yang juga mendapat undangan dari Ardan lantas datang ke Apartment Ardan lebih awal, Fabian hanya tidak mau jika sampai ia datang dan berpapasan dengan Alia nantinya, sehingga akan menyebabkan Alia nanti lebih memilih untuk pulang.
Fabian melangkahkan kakinya masuk ke dalam Apartment milik Ardan dan menaruh bingkisan yang ia bawa pada meja ruang tamu. Ketika Fabian sampai di sana Ardan terlihat sedang menata makanan di atas meja makan, sedangkan Allea Fabian tidak melihatnya di mana pun.
"Tumben datang lebih awal Bi?" tanya Ardan yang terlihat sedang menata piring di meja makan.
"Em tidak ada, aku hanya sedang senggang saja. Dimana kakak ipar?" ucap Fabian mencoba mencari alasan agar Ardan tidak curiga padanya.
"Allea tengah mandi mungkin sebentar lagi keluar, apa kamu sedang bertengkar dengan Alia Bi?" tanya Ardan kemudian yang lantas membuat Fabian terkejut ketika mendengar ucapan dari Ardan barusan.
"Bagaimana bisa kakak tahu?" batin Fabian dalam hati sambil diam termenung tak menanggapi ucapan dari Ardan barusan.
Ardan yang melihat Fabian diam termenung lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Fabian kemudian menepuk pundak Fabian pelan.
"Apa kau sungguh bertengkar dengan Alia? aku bahkan hanya menebak tadi, soalnya tumben kalian berdua tidak datang bersama." ucap Ardan dengan nada yang menggoda, namun Fabian yang di goda bukannya tersenyum malah berwajah masam.
"Jangan menggoda ku kak..." ucap Fabian dengan nada yang kesal namun terpotong karena suara bel pintu yang berbunyi.
Ting tong ting tong
"Sana pergi buka! sepertinya pizza nya sudah datang." ucap Ardan dengan nada yang memerintah kepada Fabian.
"Benar benar menyebalkan..." ucap Fabian sambil mendengus kesal akan tingkah Ardan yang semena mena padanya.
Dengan langkah yang malas Fabian lantas mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah depan untuk membuka pintu utama.
Cklek
Tepat setelah pintu terbuka dengan lebar Fabian yang tadinya melangkah dengan ogah ogahan lantas terdiam seketika, di saat ia melihat Alia berdiri tepat di pintu masuk unit Apartment milik Ardan.
__ADS_1
"Selamat ...." ucap Alia namun tergantung dengan senyuman yang terhenti di udara, tepat ketika ia melihat yang membuka pintu adalah seseorang yang Alia harap tidak bertemu dengannya disini.
Baik Alia maupun Fabian lantas terdiam seketika, manik mata keduanya saling terkunci satu sama lain tanpa adanya kata kata yang mengiringi setiap detiknya.
Ardan yang tak kunjung melihat Fabian kembali juga, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah depan untuk melihat apa yang tengah di lakukan oleh Fabian saat ini.
"Apa yang sebenarnya sedang kalian lakukan? bukannya masuk malah diam di situ..." ucap Ardan dengan nada sedikit meninggi membuat aksi saling tatap antara Fabian dan juga Alia terputus seketika.
***
Meja makan
Suasana di ruang makan waktu itu terasa sangat canggung dan aneh, Ardan menatap satu persatu orang yang duduk di meja makan. Entah mengapa Ardan merasa ada yang salah dengan tingkah ketiganya saat ini.
Fabian yang biasanya cerewet dan suka mencari topik pembahasan kini terlihat diam seribu bahasa, tidak hanya itu sikap Alia dan juga Allea kini nampak terlihat aneh. Ini antara Ardan yang kurang peka atau memang ketiganya yang sedang pms?
"Aku tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa kalian saat ini, hanya saja bukankah harusnya kita merayakan hari ini dengan bahagia? aku sungguh benar benar tidak bisa melihat wajah murung kalian." ucap Ardan dengan nada yang kesal.
Semua orang yang mendengar ucapan Ardan hanya bisa terdiam, Allea saat ini bahkan sudah menundukkan kepalanya hingga sebagian rambutnya menutupi area wajah Allea, sedangkan Alia dan juga Fabian hanya menghela nafasnya panjang tanpa berniat menjelaskannya sama sekali.
Ting...
Suara sendok dan garpu yang di letakkan di piring kosong terdengar dengan nyaring di area meja makan, membuat Ardan, Fabian dan juga Allea lantas dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.
"Maaf sepertinya aku tidak berbakat untuk berakting, aku permisi pulang terima kasih atas jamuan makannya." ucap Alia dengan nada yang datar kemudian bangkit berdiri, membuat semua orang yang ada di sana lantas menatap dengan bingung ke arah Alia.
Alia yang memang sudah tidak tahan lagi, lantas langsung melangkahkan kakinya pergi dari unit Apartment Ardan.
Sedangkan Allea yang memang mentalnya sedang down, lantas mulai memilin bajunya kecil kecil dengan perasaan yang tak karuan.
__ADS_1
"Semua akan baik baik saja... akan baik baik saja... akan baik baik saja..." ucap Allea dalam hati secara berulang sambil memilin bajunya.
"Kakak butuh penjelasan mu saat ini juga Bi!" ucap Ardan dengan nada yang dingin kemudian berlalu pergi menuju ruang keluarga.
Fabian yang mendengar perintah tersebut lantas hanya bisa menghela nafasnya panjang, Fabian saat ini bahkan tidak siap jika harus mulai bercerita tentang masalahnya, rasanya begitu rumit dan menyesakkan, setidaknya itu yang sedang Fabian rasakan saat ini.
Allea yang sedari tadi menunduk lantas melirik kepergian Ardan dan juga Fabian sekilas dari sudut matanya. Allea benar benar tidak bisa berpikir jernih sama sekali, membuatnya lantas terus terusan menyalahkan dirinya sendiri akan segala hal yang tengah terjadi saat ini.
"Bukan... semua pasti akan baik baik saja..." ucap Allea sambil memainkan kuku kuku jarinya dengan cepat.
**
Di ruang keluarga
Terlihat Ardan sudah duduk dengan bersendekap dada menanti kedatangan Fabian di sana. Beberapa menit menunggu Fabian nampak mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardan dan mengambil duduk di sebelah kakaknya.
"Ada apa lagi kali ini Bi?" tanya Ardan kemudian langsung to the point, padahal ucapannya yang tadi itu hanyalah gurauan saja. Namun siapa sangka ternyata kenyataannya Fabian dan juga Alia benar benar sedang bertengkar saat ini.
"Aku juga bingung harus menjelaskannya bagaimana kak, aku sendiri bahkan tidak terlalu paham letak kesalahan ku saat ini." ucap Fabian dengan lirih.
"Kamu tidak tahu atau tidak peka Bi? keduanya itu sangat tipis sehingga terkadang kita salah dalam menafsirkannya." ucap Ardan dengan nada yang lebih lirih dan tidak setegang tadi.
"Bukan begitu kak hanya saja aku..." ucap Fabian hendak menjelaskan, namun suara seperti benda jatuh dan pecah terdengar nyaring di pendengaran keduanya.
Fabian dan juga Ardan yang mendengar suara barusan lantas langsung saling tatap satu sama lain sambil berpikir benda apa yang jatuh barusan.
Allea!" pekik Ardan kemudian ketika baru teringat akan Allea yang kini tengah berada di meja makan.
Bersambung
__ADS_1