
Keesokan harinya
Suara deringan ponsel milik Fabian terdengar begitu nyaring memenuhi ruangan pribadinya, Fabian yang terbangun ketika mendengar suara tersebut lantas mulai meraba meja di sebelahnya untuk mengambil ponsel miliknya.
"Mama?" ucap Fabian sambil menyipitkan matanya yang masih terasa berat.
Dengan perlahan Fabian mulai bangkit dari sofa sambil membenarkan posisi duduknya.
"Halo" ucapnya setelah menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya.
"Mengapa kalian berdua suka sekali mengejutkan mama hem?" ucap Arsa yang lantas membuat Fabian yang baru bangun tidur terlihat tidak nyambung dan hanya diam saja mendengarkan ucapan Arsa. "Apa kamu mendengar mama?" tanya Arsa kemudian ketika tidak kunjung mendapat jawaban dari putranya.
"Hem" jawab Fabian dengan malas.
Arsa yang mendengar hal itu hanya bisa menghela nafasnya panjang. "Kamu benar benar anak nakal ya? tidak ada angin tidak ada hujan kamu mendadak menginginkan lamaran juga... apakah kau dan kakak mu ingin menikah secara bersamaan?" tanya Arsa kemudian.
Sedangkan Fabian yang mendengar ucapan Arsa barusan tentu saja terkejut bukan main, Fabian benar benar tidak menyangka Shila melakukannya dalam kurun waktu hanya semalam.
"Mama jangan bercanda, siapa yang akan menikah coba? kalau kak Ardan mungkin iya." ucap Fabian berpura pura tidak tahu meski ia sudah menebak arah pembicaraan Arsa yang sebenarnya.
"Kamu jangan berpura pura bodoh, Om Pramono tadi menelpon mama dan mengatakan ingin menyambung tali perjodohan antara kamu dan juga Shila. Mama dengar dia baru pulang beberapa hari yang lalu kan?" ucap Arsa menjelaskan.
"Ma nanti aja ya... aku lagi gak mood membahas hal itu." ucap Fabian memotong pembicaraan Arsa yang terdengar sangat antusias ketika menceritakannya.
Arsa yang mendengar hal itu tentu saja bingung karena setau Arsa, Fabian biasanya akan sangat antusias ketika membahas tentang Shila tapi kali ini entah mengapa rasanya sedikit berbeda.
"Apakah kalian berdua tengah bertengkar?" tanya Arsa dengan nada yang penasaran.
"Bukan begitu ma, nanti saja aku ceritain oke.." ucap Fabian kemudian mematikan sambungan telponnya begitu saja.
__ADS_1
Setelah menutup panggilan telponnya Fabian lagi lagi mengusap wajahnya dengan kasar. Di tatapnya pintu kamar pribadinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan kemudian kembali menghela nafasnya panjang.
"Tumben gak ada suara? apa Alia sudah bangun?" tanya Fabian pada diri sendiri sambil terus menatap ke arah pintu tersebut.
Fabian yang penasaran karena tak kunjung melihat Alia lantas bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu tersebut.
Tok tok tok
"Al apa kamu masih di dalam?" tanya Fabian dengan nada yang lirih sambil mendekatkan telinganya ke arah pintu kamar.
Tok tok tok
"Al aku masuk ya..." ucapnya lagi yang tak kunjung mendapat jawaban dari Alia di dalam sana.
Fabian kemudian lantas membuka pintu kamarnya secara perlahan untuk mengecek keberadaan Alia di dalam. Hanya saja, setelah Fabian masuk ke dalam ruangan kamarnya nampak terlihat sudah rapi dan bersih seperti tidak pernah di tempati.
"Gak mungkin kan?" ucapnya dengan nada yang bertanya tanya.
"Kau tahu di mana Alia sama Allea?" tanya Fabian ketika melihat kedatangan Valdi.
"Alia sudah pergi sedari semalam bos, apakah bos tidak tahu? bukankah bos semalam tidur di sini kan?" ucap Valdi yang bingung ketika mendengar pertanyaan dari Fabian barusan.
"Bagaimana mungkin? apakah kamu tidak mencegahnya?" ucap Fabian dengan nada yang kesal.
"Saya sudah berusaha, tapi kakak anda yang malah mengantarkan keduanya kembali ke rumahnya jadi saya gak bisa berbuat apa apa lagi." ucap Valdi merasa bersalah.
"Harusnya kan kamu bisa mengabari ku Val! masak gitu aja gak bisa?" ucap Fabian dengan nada yang kesal kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan Valdi sendirian dengan sejuta kebingungan dan juga perasaan bersalah pada Fabian bosnya.
"Masalahnya telpon ku sedari semalam di reject, bagaimana mungkin aku bisa mengabari bos kalau di telpon saja gak bisa?" ucap Valdi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan terus memperhatikan kepergian Fabian hingga ia menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
**
Sementara itu
Alia dan juga Allea yang cukup lama tidak membuka tokonya, lantas langsung di sibukkan dengan kondisi toko yang terlihat berserakan dengan beberapa bagian yang tertutup debu.
Alia yang melihat pemandangan itu hanya bisa tersenyum sambil geleng geleng kepala, ia bahkan pergi tidak terlalu lama mungkin sekitar 3 mingguan, namun tokonya sudah sangat berantakan seperti telah di tinggal selama berbulan bulan.
Alia menghela nafasnya panjang sambil menatap ke arah sekeliling. "Apakah kakak mau membantu Al?" tanya Alia sambil menatap ke arah Allea yang juga menatap ke segala sisi bangunan toko tersebut.
Allea yang mendapat pertanyaan tersebut lantas tersenyum sambil mengangguk, hingga kemudian terdengar sebuah suara yang mengejutkan keduanya di sana.
"Aku akan bergabung bersama kalian." ucap Ardan dari arah pintu masuk membuat Alia langsung berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara.
"Kak Ardan? tumben sudah di sini, apa kak Ardan gak kerja?" tanya Alia yang bingung ketika melihat kedatangan Ardan, sedangkan Allea malah terlihat tengah tersipu malu saat ini.
Ardan yang mendapat pertanyaan itu bukannya menjawab malah tersenyum sambil mulai menggulung kemejanya hingga sampai ke siku, membuat Alia dan juga Allea lantas saling pandang satu sama lain seakan bingung akan apa yang di lakukan oleh pria itu.
"Baiklah... bagian mana yang harus di bersihkan?" tanya Ardan mengalihkan pembicaraan karena ia sendiri tidak mau jika kedua wanita di hadapannya ini tahu tentang masalah yang kini sedang di hadapinya.
Sebenarnya sebelum ke mari, Ardan sempat melajukan mobilnya ke arah kantor seperti biasanya. Hanya saja Rafa tiba tiba menelpon dan mengatakan bahwa Zayan sudah kembali memegang kendali penuh terhadap Zayan Company.
Ardan yang mendengar berita itu tentu saja terkejut karena ia tidak menyangkan Zayan akan benar benar melakukan ini padanya. Dengan kembalinya Zayan di perusahaan, sama halnya dengan ia sudah benar benar di usir dan juga di coret dari ahli waris keluarga besar Zayan.
"Apakah kakak yakin?" tanya Alia yang seakan tidak yakin bahwa Ardan akan benar benar membantu keduanya dalam membereskan toko.
"Tentu saja, kenapa tatapan kalian berdua seperti tidak yakin?" ucap Ardan dengan nada yang kesal.
"Hahahaha tidak juga, baiklah kalau kakak memaksa. Jangan pernah menyesal kak..." ucap Alia dengan tawa kecil membuat Ardan semakin kesal karena dua wanita di hadapannya ini malah meremehkan kemampuannya.
__ADS_1
Bersambung