
Keesokan harinya
Seperti janji Ardan kepada Arsa kemarin yang akan membawa Allea bertemu dengannya, pagi ini Ardan lantas membawa Allea ke mansion utama.
Beberapa menit berkendara membelah jalanan ibu kota yang cukup ramai di hari weekend, keduanya lantas sampai di halaman mansion keluarga Zayan.
Hening sesaat tidak ada pembicaraan apapun, hingga kemudian Ardan dengan perlahan mulai membuka sabuk pengamannya dan menatap ke arah Allea dalam dalam.
"Kamu cukup diam saja dan berkata secukupnya, aku mohon kepadamu jangan membantah dan melakukan hal hal lainnya." ucap Ardan memperingati Allea, entah mengapa ia agak gugup kali ini. Dalam hatinya Ardan bahkan terus berdoa agar papa dan mamanya akan memahami pilihannya kali ini tanpa perselisihan atau hal hal lainnya yang memicu pertikaian, mengingat hubungannya dengan Zayan tidaklah begitu akur.
Sedangkan Allea yang mendengar ucapan Ardan barusan hanya diam sambil manggut manggut, sebagai tanda mengiyakan ucapan Ardan barusan tanpa membantah atau memberikan pendapat.
Setelah di rasa cukup, keduanya kemudian lantas turun dari mobil, untuk meyakinkan orang tuanya Ardan mulai menggandeng tangan Allea, sehingga membuat Allea lantas menatap ke arahnya dengan tatapan yang bingung namun ia tidak berani untuk menolak perlakuan Ardan padanya barusan.
**
Dari arah dalam mansion Arsa yang mendengar suara mobil milik putranya lantas melangkah dengan penuh semangat ke arah depan, Arsa sungguh penasaran wanita mana kali ini yang bisa membuat hati putranya itu luluh.
"Kalian sudah datang..." ucap Arsa dengan excited namun terhenti ketika melihat gadis yang kini tengah berada di sebelah Ardan.
Arsa yang merasa tidak yakin lantas langsung menatap ke arah Ardan seakan bertanya tanya tentang calon menantunya. Ardan yang melihat tatapan dari Arsa hanya bisa mengangguk sambil mengulum senyum ke arah Arsa.
Helaan nafas terdengar dari Arsa ketika ia melihat jawaban dari Ardan barusan.
__ADS_1
"Se... selamat pagi tante..." ucap Allea sambil memainkan kuku kuku jarinya sebelah kiri yang terbebas dari genggaman tangan Ardan.
"Pagi... ayo masuk ke dalam." ajak Arsa kemudian.
**
Ruang tamu
Terlihat Zayan tengah menatap tajam dan menelisik ke arah Allea sedari tadi, membuat Allea sangat sangat tidak nyaman akan tatapan dari Zayan sedari tadi. Arsa yang menyadari susana di sini begitu tegang lantas mulai menggenggam tangan Zayan agar laki laki itu bisa sedikit rileks dan tidak membuat suasana tegang di ruangan tersebut.
"Ehem pa ma kenalkan ini Alle calon istri Ardan, jika tidak ada halangan Ardan ingin melakukan pernikahannya minggu depan, aku rasa..." ucap Ardan tercekat ketika ia melihat Zayan mengangkat tangannya seakan memberikan isyarat agar Ardan menghentikan ucapannya.
"Apa yang kamu inginkan dari putra ku? harta? kedudukan atau popularitas? apakah kamu tidak menyadari bahwa dirimu itu berbeda? harusnya kamu sadar bukan? anakku itu mencari istri yang bisa mengurusnya bukan istri yang harus di urus." ucap Zayan yang lantas membuat Ardan dan juga Arsa terkejut ketika mendengar ucapan dari Zayan barusan.
"Bisakah papa sedikit lebih sopan ketika berbicara?" ucap Ardan yang tidak terima dengan ucapan Zayan barusan.
"Ayolah Ar... cukup sudah permainan ini! kamu ingin membalas papa bukan? jika kamu ingin membalas papa jangan sakiti dirimu sendiri seperti ini. Kau itu seorang laki laki normal akan sangat sulit jika memiliki istri seperti dia." ucap Zayan lagi sambil menunjuk ke arah Allea.
"Setidaknya papa bisa lebih menghargai Allea pa, jangan seperti ini..." ucap Ardan dengan nada yang lebih rendah sambil menahan emosinya.
"Pa sudah cukup, jangan seperti ini! kita bisa membicarakannya baik baik.." ucap Arsa mencoba menengahi perselisihan keduanya.
"Apanya yang di bicarakan baik baik? bagian mana coba papa tanya sekarang?" ucap Zayan tetap kekeh pada pendiriannya.
__ADS_1
Sedangkan Allea yang mendengar ketiganya mulai berselisih semakin di buat tertekan, kata demi kata yang keluar dari mulut Zayan benar benar membuat hati Allea terluka. Allea yang sudah tidak tahan lagi mendapat tekanan tersebut lantas mulai beraksi, ia menutup telinganya dengan keras dan membukanya secara perlahan dan berulang kali, sambil terus mengatakan kata "itu tidak benar" dan "saya bukan seorang benalu".
"Eeeeeee itu tidak benar... tidak benar... aku bukan benalu... bukan benalu... aaaaaaa...." ucapnya dengan air mata yang berlinang sambil terus menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah.
Baik Zayan, Ardan dan juga Arsa yang mendengar suara dari Allea barusan lantas langsung menatap ke arah Allea yang terlihat seperti sedang histeris.
Zayan yang melihat hal itu lantas hanya tersenyum dengan sinis, seakan tidak ada rasa simpati sedikit pun dalam dirinya ketika melihat keadaan Allea yang seperti itu.
"Lihatlah, mengurus dirinya saja dia tidak bisa... bagaimana mau mengurus dirimu ha?" sentak Zayan kemudian sambil menunjuk ke arah Allea.
Sedangkan Ardan yang mendengar hal tersebut tentu saja tidak terima dan menatap tajam ke arah Zayan.
"Jaga ucapan papa! apapun yang terjadi Ardan akan tetap menikah dengan Allea minggu depan dengan atau tanpa restu dari papa!" ucap Ardan sambil berjongkok dan berusaha menenangkan Allea lalu mengajaknya pergi dari sana.
"Apa yang sebenarnya kau lihat dari dirinya Ar? apakah karena wajahnya yang mengingatkan mu akan Rima?" ucap Zayan ketika mendengar keputusan mutlak yang di buat oleh Ardan barusan.
Langkah Ardan seketika terhenti ketika mendengar nama Rima terucap. "Mirip atau tidaknya yang jelas ini sudah menjadi keputusan ku dan papa tidak perlu ikut campur ke dalamnya." ucap Ardan kemudian melanjutkan kembali langkahnya pergi ke luar dari mansion utama.
Zayan yang melihat Ardan terus melangkah pergi lantas memutar otak hingga sebuah ide mendadak melintas di kepalanya. "Baik, sekarang kamu pilih tinggalkan dia atau papa akan mencoret mu dari daftar ahli waris!" teriak Zayan ketika melihat putranya sudah berdiri tepat di ambang pintu.
"Pa..." panggil Arsa seakan tidak terima dengan ucapan yang tiba tiba keluar dari mulut suaminya.
Lagi lagi Ardan menghentikan langkah kakinya, Ardan memijat pelipisnya sebentar kemudian menatap ke arah Allea yang tengah memasang wajah yang ketakutan, membuat perasaan simpati lantas kembali menyelimuti hati Ardan. Hingga pada akhirnya entah mendapat angin dari mana Ardan tiba tiba membuat keputusan yang mengejutkan Arsa dan juga Zayan.
__ADS_1
"Aku tetap memilihnya pa, lagi pula ada dan tidaknya aku di surat ahli waris itu, tetap tidak akan merubah pandangan papa terhadap ku bukan?" ucap Ardan melirik sekilas ke arah Zayan sambil tersenyum kemudian melenggang pergi dari sana.
Bersambung