
Dari arah dalam terlihat Alia membawa beberapa sampah keluar ke arah samping toko, seulas senyum terlihat dengan jelas di wajah Alia ketika ia mengintip sekilas ke arah dalam toko melihat interaksi antara Ardan dan juga Allea di dalam.
"Sepertinya kak Ardan tidak terlalu buruk." ucap Alia dengan senyum mengembang sambil membersihkan plastik sampah yang berserakan.
Di saat Alia tengah asyik menata dan membereskan sampah, dari arah belakang sebuah tangan nampak menarik tangannya dengan cepat membuat Alia dengan spontan lantas berputar mengikuti arah tarikan tangan itu.
"Kau..." ucap Alia yang bingung ketika melihat Fabian yang melakukannya.
"Aku bahkan sudah hampir gila karena tidak melihat mu pagi ini, kenapa kau tidak mengucapkan kata kata apapun pada ku ketika pergi?" ucap Fabian yang lantas membuat Alia bingung bukan main akan maksud dari ucapan Fabian barusan.
Alia yang tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali, lantas dengan spontan mendekat ke arah kemeja milik Fabian dan mengendus di area dada Fabian mencoba mengecek apakah Fabian kali ini tengah mabuk atau tidak.
Sedangkan Fabian yang mendapat perlakuan tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung ke arah Alia.
"Tidak ada bau alkohol berarti aman.." ucap Alia dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Fabian, membuat Fabian lantas tersenyum ketika mendengar ucapan Alia barusan.
Fabian yang iseng lantas mulai melangkahkan kakinya ke depan, sehingga membuat Alia yang tengah sibuk mengendus kemeja milik Fabian tersudut semakin mundur ke belakang hingga membentur ke tembok.
Alia yang mendapat serangan secara mendadak tentu saja terkejut bukan main dan bingung harus bertindak bagaimana. Sedangkan Fabian yang melihat wajah Alia bersemu merah semakin di buat semangat untuk menggoda Alia.
Secara perlahan tapi pasti Fabian mulai mendekatkan wajahnya ke arah Alia, membuat Alia yang melihat gerakan tersebut lantas dengan spontan menutup matanya karena ia pikir Fabian akan menciumnya.
"Dasar nakal, apa yang tengah kau pikirkan hingga menutup mata mu seperti itu?" bisik Fabian yang lantas membuat Alia membuka matanya dengan lebar karena ternyata Fabian bukan ingin menciumnya.
__ADS_1
"Aku tadi.. tadi... hanya kelilipan..." ucap Alia mencoba untuk mencari alasan, membuat Fabian yang mendengar hal tersebut lantas lagi lagi tersenyum ketika mendapati wajah merah bersemu milik Alia yang mirip dengan kepiting rebus saat ini.
"Ehem..."
Sebuah suara yang lantas mengejutkan keduanya seakan tengah tertangkap basah. Alia dan Fabian yang seperti kepergok lantas membenarkan posisi mereka masing masing dengan gerakan yang canggung, membuat Ardan lantas geleng geleng kepala ketika melihat tingkah keduanya yang malu malu.
"Ada apa kak?" tanya Fabian memecah kecanggungan.
"Bisakah kita berbicara berdua?" tanya Ardan kemudian yang lantas membuat Alia mengerti dan hendak melangkah pergi memberi waktu berdua untuk dua bersaudara tersebut.
"Aku akan mengecek bagian dalam permisi..." ucap Alia berpamitan yang di balas keduanya dengan anggukan kepala.
Setelah kepergian Alia dari sana, Ardan nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah Fabian.
"Ada apa kak?" tanya Fabian ketika melihat wajah muram kakaknya.
"Aku yakin tanpa aku mengatakannya pun kamu sudah tahu apa permasalahan ku saat ini Bi.." ucap Ardan dengan nada yang datar sambil tersenyum sinis ke arah Fabian, membuat Fabian lantas terdiam seribu bahasa.
"Aku rasa... kakak coba pikirkan lagi baik baik keputusan kakak tentang pernikahan itu." ucap Fabian pada akhirnya.
"Cih aku bahkan sudah dengan kerennya memilih Allea tapi kau malah menyuruhku untuk berpikir kembali, bukankah itu akan sia sia?" ucap Ardan sambil tertawa mengejek.
Fabian yang mendengar hal itu lantas menghela nafasnya panjang, ia tahu Ardan pasti sudah memikirkan dampak positif dan negatifnya segala keputusan yanga Ardan ambil saat ini. Hanya saja Fabian tetap saja tidak yakin Ardan akan sanggup menjalani semuanya dengan langkah yang terburu buru seperti ini.
__ADS_1
"Baiklah aku tidak akan memaksa kakak untuk hal ini." ucap Fabian pada akhirnya yang membuat Ardan lantas tersenyum ketika mendengar jawaban dari adiknya. "Lalu apa rencana kakak kedepannya?" tanya Fabian kemudian.
"Aku tidak terlalu yakin, hanya saja beberapa bulan yang lalu aku membeli sebuah bengkel tanpa sepengetahuan papa dari hasil kerja kerasku sendiri dan sejauh ini masih berjalan dengan lancar. Mungkin aku akan fokus ke arah sana untuk beberapa waktu ke depan." ucap Ardan sambil menatap lurus ke arah depan seakan mulai berusaha menata kehidupannya tanpa bantuan dari Zayan.
Tanpa sepengetahuan Arsa dan juga Fabian, Ardan bahkan sudah mengembalikan segala fasilitas yang di berikan oleh Zayan kepadanya, termasuk dengan Mobil dan juga Apartment yang ia tinggali tepat setelah ia mengetahui kabar bahwa Zayan mengambil alih kembali posisinya di perusahaan.
"Baiklah kak, katakan padaku jika kakak membutuhkan bantuan." ucap Fabian sambil tersenyum, meski ia tahu Ardan tidak akan mungkin merepotkannya tapi Fabian yakin Ardan mampu dan bisa berdiri di kakinya sendiri sama seperti dirinya dulu.
"Terima kasih" jawab Ardan. "Lalu bagaimana kabar mu dengan Shila?" ucap Ardan kemudian yang lantas membuat Fabian memutar bola matanya jengah ketika mendengar pertanyaan itu.
"Pasti mama bukan yang memberitahu kakak?" jawab Fabian dengan malas.
"Ayolah Bi.. itu tidaklah penting. Yang aku ingin tanyakan apakah kamu memang ingin melanjutkan perjodohan itu?" tanya Ardan lagi.
"Aku tidak berniat untuk melanjutkannya, hubungan ku dengan Shila hanya sebatas persahabatan tidak lebih. Bukankah kita sudah membahas ini berulang kali kak?" jelas Fabian dengan nada penuh penekanan membuat Ardan hanya bisa geleng geleng kepala ketika mendengarnya.
"Apa ini karena Alia? sepertinya hubungan kalian berdua lebih dari sekedar rekan kerja." ucap Ardan dengan nada yang menggoda membuat Fabian lantas salah tingkah di buatnya.
"Jangan bercanda kak, bukankah kita sedang membahas Shila? mengapa tiba tiba berubah menjadi Alia?" ucap Fabian mencoba mengalihkan pembicaraan sang kakak yang terus menyudutkannya.
Ardan yang mendengar jawaban tersebut lantas tersenyum. "Kau janganlah pura pura seperti itu Bi, aku ini kakak mu tentu saja aku tahu." ucap Ardan lagi tak ingin kalah dan terus menggoda Fabian.
"Jangan menggodaku seperti itu kak, aku dan Alia hanya berada dalam hubungan rekan kerja. Lagi pula semua ini aku lakukan untuk menebus kesalahan ku di masa lalu kak, bukannya kakak juga tahu akan hal itu?" ucap Fabian yang lantas membuat senyuman di wajah Ardan perlahan mulai meredup.
__ADS_1
"Kesalahan apa?" tanya sebuah suara dengan tiba tiba yang lantas mengejutkan keduanya di sana.
Bersambung