
"Allea!" pekik Ardan yang tiba tiba baru teringat akan acara pernikahannya dan juga Allea yang harusnya dilangsungkan tadi pagi.
***
Taman hotel
Alia benar benar tidak tahu lagi harus membujuk kakaknya seperti apa lagi, sejak kepergian Ardan dari pelaminan tadi pagi Allea tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya. Sedari tadi Allea hanya diam berjongkok di bawah panggung dekorasi tanpa bergerak sedikit pun hingga saat ini.
Alia yang tak kunjung bisa membujuk kakaknya, lantas menatap tajam ke arah Rafa yang sedari tadi masih dengan setianya menunggu kedatangan Ardan yang tak kunjung datang juga hingga matahari akan terbenam.
"Sekarang kau sudah tidak ada lagi alasan untuk enggan menjelaskan tentang apa yang terjadi padaku! apa kau tak kasihan melihat kak Allea seharian seperti itu?" ucap Alia dengan kesal karena kehadiran Rafa di sini nyatanya sama sekali tidak membantu apapun.
"Saya minta maaf... saya hanya menjalankan tugas dan saya belum mendapatkan perintah untuk memberitahu mu segalanya." ucap Rafa dengan nada yang menyesal, seakan tetap kekeh tidak ingin mengatakan alasan kepergian Ardan tadi kepada Alia.
Mendengar penolakan Rafa lagi dan lagi, membuat Alia lantas kesal dan dengan sengaja menginjak sepatu Rafa cukup kuat hingga membuat laki laki itu meringis kesakitan.
"Aw... apa yang kau lakukan? tidak bisa kah kau sedikit lebih lembut dan duduk diam menanti?" ucap Rafa dengan kesal sambil mengangkat sedikit kakinya yang terasa ngilu akibat injakan Alia.
"Bodoh amat!" ucap Alia dengan ketus kemudian berlalu meninggalkan Rafa di sana.
"Dasar cewek bar bar..." gerutu Rafa ketika melihat kepergian Alia yang tanpa mengucapkan kata maaf kepadanya karena menginjak kakinya dengan sengaja.
Alia kali ini benar benar di buat kesal, ia sudah tidak bisa lagi menunggu Rafa ataupun Ardan yang tak kunjung datang juga. Alia yang sudah tidak bisa menunggu lagi, pada akhirnya memilih mendial nomor Fabian di ponselnya, ini adalah satu satunya harapan terakhir Alia. Kali ini pikirannya benar benar buntu dan tidak punya pilihan lain lagi selain menelpon Fabian.
Satu kali...
Dua kali...
Tidak ada jawaban dari sana, Alia yang tak kunjung mendapat jawaban malah kembali menelpon Fabian tanpa jera.
__ADS_1
"Bodoh amat aku mengganggu acara bahagia keduanya, yang penting sekarang aku bisa mendapatkan informasi tentang kak Ardan." ucap Alia dengan kesal pada diri sendiri meyakinkan dirinya berulang kali bahwa yang di lakukan Alia sekarang bukanlah sebuah kesalahan karena mengganggu acara pertunangan Fabian dan juga Shila, padahal yang terjadi sebenarnya sama sekali di luar pemikiran Alia.
Hingga kemudian...
"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.
"Syukurlah kamu menjawabnya, bisakah aku meminta tolong Bi... ku mohon..." ucap Alia dengan nada yang memohon kepada Fabian karena bagi Alia, Fabian adalah harapan terakhir baginya.
"Ada apa Al?" tanya Fabian kemudian.
"Apakah kak Ardan ada di sana? aku tidak tahu harus mulai menjelaskannya dari mana... hanya saja kak Ardan tiba tiba pergi dari pesta pernikahannya tadi pagi, sedangkan saat ini kak Allea tidak mau pergi dan terus menatap kosong ke arah panggung dekorasi sejak tadi pagi, aku sungguh benar benar bingung harus bagaimana lagi membujuk kakak ku." ucap Alia dengan nada yang khawatir.
Hening sesaat tidak ada tanggapan hingga kemudian terdengar suara berisik di seberang sana yang lantas membuat Akila kebingungan ketika mendengarnya.
"Kakak mau kemana kak? tunggu aku kak..." ucap Fabian dari seberang sana tepat setelah suara berisik barusan, hingga kemudian sambungan telpon terputus begitu saja tanpa memberi Alia solusi terlebih dahulu.
Tut tut tut
"Arggg kenapa semua orang begitu menyebalkan sih?" teriak Alia dengan kesal karena ternyata harapan terakhirnya hilang begitu saja.
***
Setengah jam kemudian
Alia benar benar tidak bisa menunggu lagi kali ini, Alia yang sudah mulai kesal lantas langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekat ke arah Allea.
Ditariknya tangan sang kakak dengan sekuat tenaga mencoba untuk membangunkannya dari posisinya.
"Ayo kita pulang sekarang kak!" ucap Alia dengan nada sedikit meninggi karena kesal akan keadaan yang kini sedang menimpa keduanya.
__ADS_1
"Ti.. tidak mau... lepaskan aku..." ucap Allea sambil menghempaskan tangan Alia begitu saja.
Alia yang dihempaskan oleh Allea lantas tidak menyerah begitu saja, Alia kemudian kembali bangkit dan menarik tangan Allea sekuat tenaga lagi tanpa jera.
"Sudah saatnya kita pulang kak, jangan bodoh jadi perempuan kak! masih ada pria lain yang lebih lebih baik lagi dari pada Ardan... jadi aku mohon pada kakak hentikan ini semua... ayo kita pulang!" ucap Alia yang mulai kesal akan situasi yang tengah terjadi.
Allea yang tadinya diam, mendengar ucapan Alia barusan mendadak menjadi kesal dan tersulut emosi. Allea yang kesal lantas mulai bangkit kemudian mendorong tubuh Alia dengan kencang, hinga tubuh Alia jatuh terjerembab hampir masuk ke dalam kolong panggung.
Rafa yang sedari tadi berada di sana, melihat Alia terjatuh lantas langsung berlarian ke arah Alia dan berusaha menolongnya.
"Jangan mengganggu ku!" teriak Allea sambil melempar beberapa karangan bunga yang di desain untuk bagian bawah panggung dekorasi.
"Ayo bangun Al..." ucap Rafa berusaha membantu Alia bangun sekaligus menjadi tameng untuk Alia dari lemparan bunga yang brutal oleh Allea.
Allea terlihat mulai tidak stabil dan mulai menggerakkan tangannya naik turun ke arah kepalanya secara berulang kali, membuat Alia yang baru saja bangkit di bantu oleh Rafa lantas langsung berlarian menuju ke arah Allea dan memeluknya dar arah belakang.
"Tenang ya kak... tenang..." ucap Alia sambil memeluk kakaknya dari belakang seakan mencoba untuk memberikan ketenangan bagi Allea.
Allea yang tak kunjung tenang juga lantas berusaha melepas pelukannya kemudian kembali mendorong Alia hingga Alia kembali terjatuh ke bawah.
"Aaaaaaaaaa akau gagal... aku gagal..." ucap Allea berulang kali di sana sambil memukuli Alia yang terjatuh di bawah.
Rafa yang melihat Allea mulai mengamuk, lantas langsung mendekat ke arah Alia dan berusaha menolongnya lagi. Hingga pada akhirnya aksi saling jambak mulai terjadi yang tentu saja di dominasi oleh Allea yang kini tengah mengamuk.
**
Ketika ketiganya sedang sibuk dengan pertengkaran yang tengah terjadi. Dari arah depan terlihat Ardan dan juga Fabian berlarian menuju ke arah taman hendak menemui ketiganya.
Ardan dan juga Fabian sedikit terkejut, ketika mereka sampai di sana yang Fabian dan juga Ardan lihat malah pertengkaran ketiganya yang sudah berlangsung hingga membuat pakaian ketiganya berantakan.
__ADS_1
"Hentikan kalian semua!" teriak Ardan ketika melihat apa yang saat ini tengah di lakukan oleh ketiganya.
Bersambung