
Sementara itu 1 jam sebelum terjadinya kericuhan pada acara pertunangan Fabian dan juga Shila.
Di area ruang tunggu hotel, Allea terlihat sangat cantik dengan memakai pakaian kebaya putih brokat dengan motif yang simpel namun terlihat sangat anggun ketika di pakai oleh Allea.
Alia yang melihat kakaknya tengah mematut dirinya di cermin, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Allea berada.
"Apa kakak sudah siap?" tanya Alia yang lantas di balas Allea dengan senyuman ketika mendengar hal tersebut.
Keduanya kemudian lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah taman hotel tempat dilangsungkannya acara pernikahan Ardan dan juga Allea. Tidak banyak tamu undangan yang datang pada acara pernikahan tersebut karena memang baik Ardan maupun Allea tidak menginginkan sebuah pesta pernikahan yang megah, hanya beberapa kerabat dekat dan juga pegawai Ardan di bengkel yang terlihat datang dan memenuhi area taman hotel.
Allea terlihat mulai memasuki area taman dan berjalan di karpet merah dengan di dampingi oleh Alia di sampingnya, hingga menaiki sebuah panggung yang di dekorasi dengan sangat cantik.
"Kakak pasti bisa semangat..." ucap Alia setelah langkah keduanya terhenti pada panggung yang sudah di dekorasi dengan cantik.
Allea yang tadinya gugup lantas tersenyum ketika mendapat kata kata penyemangat dari Alia barusan.
"Baiklah para hadirin sekalian, berikutnya kita sambut mempelai pria untuk memasuki area." ucap MC ketika melihat Allea sudah berdiri menanti pasangannya di panggung tersebut.
**
Dari arah ujung karpet merah terlihat Ardan tengah berdiri di sana dan bersiap untuk masuk, beberapa tamu undangan yang melihat kedatangan Ardan lantas mulai bersorak ketika Ardan melangkahkan kakinya ke karpet merah. Hanya saja, ketika Ardan baru melangkahkan kakinya Rafa nampak mendekat ke arah Ardan dan membisikkannya sesuatu.
Raut wajah Ardan perlahan berubah tepat setelah mendengar bisikan dari Rafa barusan. Ardan yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih, lantas dengan spontan berlarian menjauh menuju ke arah parkiran tanpa memperdulikan tatapan bingung dari beberapa orang di sana.
Beberapa tamu undangan yang melihat kejadian tersebut tentu saja langsung bangkit dari tempat duduknya dan menatap kepergian Ardan hingga menghilang dari pandangan mereka.
Riuh suara beberapa tamu undangan mulai terdengar di area taman, Rafa yang paham akan situasi yang tengah terjadi di sana, lantas meminta Mic pada MC untuk memberikan beberapa pengumuman.
"Mohon maaf untuk beberapa tamu undangan yang hadir, acara pernikahan ini akan di undur untuk sementara waktu karena ada beberapa kendala. Terima kasih bagi para tamu undangan yang sudah menyempatkan diri untuk hadir pada acara kali ini." ucap Rafa memberikan pengumuman yang tentu saja mengejutkan semua orang yang ada di sana.
Alia yang juga ikut mendengar pengumuman tersebut, lantas langsung bergegas menghampiri Rafa yang ada di atas panggung.
"Ada apa ini?" tanya Alia dengan raut wajah yang penasaran sekaligus meminta penjelasan pada Rafa tentang semua hal yang terjadi hari ini.
__ADS_1
"Ada masalah yang tengah terjadi dan ini penting, sebaiknya kita tunggu saja kabar dari pak Ardan selanjutnya." ucap Rafa yang bingung harus menjelaskannya bagaimana kepada Alia.
Rafa benar benar takut Alia akan salah paham jika ia mengatakan kepergian Ardan ada hubungannya dengan Rima mantan istri Ardan yang telah meninggal.
"Jangan bercanda kamu, sebaiknya katakan saja ada apa?" ucap Alia dengan kesal.
Alia tentu tidak bisa diam saja ketika melihat pernikahan kakaknya gagal tanpa sebuah alasan yang jelas seperti ini.
***
Sementara itu kembali pada aula hotel tempat dilangsungkannya pertunangan antara Fabian dan juga Shila.
Shiren yang mendengar hal tersebut tidak pantang menyerah dan pasrah begitu saja. Shiren yang lahir dari keluarga terpandang lantas mulai menurunkan egonya. Dengan perlahan seorang Shiren Atmaja bersimpuh sambil mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Ardan untuk mengampuni putrinya, membuat beberapa orang yang masih tersisa di sana menatap dengan iba pemandangan yang ada di hadapannya.
Ardan yang melihat Shiren bersimpuh tentu saja langsung luluh, entah mengapa ketika melihat Shiren mengiba rasanya Ardan tampak seperti orang kejam yang tak berperasaan.
Ardan yang tidak bisa meluapkan emosinya lantas melangkah ke arah meja tamu dan menendangnya dengan keras, tak cukup sampai di situ kemarahan Ardan kali ini benar benar membabi buta hingga menghancurkan apapun yang ada di hadapannya.
Beberapa menit kemudian...
Disaat Rima meninggal karena ulah seseorang, Ardan malah dengan mudahnya percaya bahwa itu semua hanyalah sebuah kecelakaan semata tanpa berniat mencari tahu kebenarannya.
Aaaaaaaaaaa
Tubuh Ardan luruh ke lantai tepat setelah teriakannya itu, ia benar benar telah menjadi suami terbodoh di dunia.
**
Fabian yang melihat kakaknya sudah mulai sedikit lebih tenang, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Shiren yang masih bersimpuh seakan menunggu persetujuan dari Ardan, padahal jelas jelas Shila sudah pergi bersama dengan orang orang suruhan Pramono.
"Anda boleh pergi tan, biar aku yang akan menangani kak Ardan." ucap Fabian dengan lembut membuat Shiren lantas mendongak ke arah Fabian.
"Tidak bisa Bi, tante tidak akan tenang jika Ardan belum mengatakan kepada tante akan melepaskan Shila." ucap Shiren dengan perasaan yang masih khawatir akan keselamatan putrinya.
__ADS_1
"Pergilah tan, aku yang akan menjamin keselamatan Shila, asalkan tante bawa Shila pergi sejauh mungkin yang tante bisa." ucap Fabian pada akhirnya.
Shiren yang mendengar hal tersebut, tentu saja senang dan langsung bangkit berdiri dan memegang pundak Fabian.
"Apakah itu sungguhan?" tanya Shiren lagi.
"Iya tan" ucap Fabian lagi.
"Terima kasih banyak Bi... terima kasih..." ucap Shiren dengan senyum yang bahagia kemudian berlalu pergi dari sana.
Setelah kepergian Shiren dari sana, Fabian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardan yang tengah terduduk di lantai sambil menatap kosong ke arah depan.
"Ayo kak aku akan mengantar mu pulang.." ucap Fabian sambil menarik tangan Ardan berusaha untuk mengajaknya bangkit.
"Tinggalkan aku sendiri Bi... pergilah saja." ucap Ardan dengan nada yang datar sambil terus menatap ke arah depan dengan pandangan yang kosong.
Sedangkan Fabian yang mendengar ucapan Ardan barusan bukannya pergi malah mengambil duduk di sebelah Ardan.
"Tenangkan dulu pikiran mu kak baru kita kembali berbicara." ucap Fabian kemudian.
Satu jam...
Dua jam....
Tiga jam...
Hingga waktu menjelang sore keduanya tetap duduk dengan termenung di sana tanpa pembicaraan apapun. Sesekali Fabian melirik ke arah Ardan yang hanya duduk dengan termenung di sana tanpa mengatakan apapun.
Sebuah deringan ponsel milik Fabian lantas membuyarkan lamunan keduanya.
"Alia?" ucap Fabian ketika melihat nama Alia tertulis jelas pada layar ponsel miliknya.
"Allea!" pekik Ardan yang tiba tiba baru teringat akan acara pernikahannya dan juga Allea yang harusnya dilangsungkan tadi pagi.
__ADS_1
Bersambung