Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Apa aku semudah itu


__ADS_3

"Shila... Shila buka pintunya... jangan buat mama takut Shila..." ucap Shiren sambil terus mengetuk pintu putrinya.


Hening sesaat...


"Shila...?" panggil Shiren ketika tidak lagi mendengar suara dari dalam kamar putrinya.


Shiren yang tak kunjung mendapat jawaban dari putrinya, lantas langsung berlarian ke arah almari dan mengambil kunci cadangan di sana.


Di bukanya pintu kamar Shila dengan perasaan yang khawatir sekaligus tangan yang gemetaran hebat takut terjadi apa apa dengan putrinya itu.


Shiren yang semula sudah panik malah semakin menjadi ketika pintu terbuka dan melihat tubuh putrinya sudah tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya.


"Papa!" teriak Shiren sambil berlarian menghampiri tubuh putrinya.


Shiren yang melihat putrinya tergeletak seperti itu tentu saja merasa terluka, ia tidak menyangka bahwa Shila akan melakukan hal ini.


"Shila.... hiks hiks huaaaaaaa..." teriaknya sambil tersedu dan memeluk tubuh putrinya dengan erat.


Sedangkan Pramono yang posisinya ada di ruang kerjanya lantas berlarian naik ke atas ketika mendengar teriakan Shiren dari ruangannya.


"Apa yang terjadi ma?" tanya Pramono di ambang pintu. "Astaga Shila!" pekiknya ketika melihat Shila yang sudah berada di dekapan Shiren dengan darah yang terus menetes dari pergelangan tangannya.


Melihat hal itu Pramono lantas mempercepat langkahnya dan menghampiri keduanya. Dengan cekatan Pramono menyobek gorden dan langsung membalutnya di tangah Shila. Setelah luka Shila tertutupi barulah ia menggendong putrinya itu ala bridal style, Pramono langsung membawa Shila ke arah parkiran mobil dan menuju ke rumah sakit terdekat.


"Shila..." panggil Shiren berulang kali sambil mengikuti langkah kaki suaminya.


"Tenang lah ma, jangan membuat suasana semakin keruh dengan tangisan mu itu." ucap Pramono yang langsung membuat Shiren diam seketika.


***


Bengkel Ardan


Criet...


Dengan perlahan Ardan mulai membukakan pintu kamarnya agar Allea bisa masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Ardan menaruh koper yang berisi baju baju Allea di sudut sebelah Almari.

__ADS_1


"Mandilah dulu kemudian istirahat... aku akan mandi di kamar mandi depan, tak perlu sungkan anggap saja seperti rumah sendiri." ucap Ardan sambil mengambil pakaian ganti untuknya di almari kemudian berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Allea.


Allea menatap kepergian Ardan dengan tatapan yang tidak bisa terbaca kemudian menghela nafasnya panjang.


"Apakah aku bisa... melakukannya?" ucap Allea dengan lirih sambil memainkan bawahan kebayanya.


Allea memilin bajunya kemudian mengudarinya kembali dan hal itu terus Allea lakukan cukup lama dengan bayangan malam pertama yang terus berputar di kepalanya secara terus menerus.


"Ah... aku tidak tahu caranya..." ucap Allea kemudian merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap sambil memukul mukul kan tangannya secara berulang kali di ranjang milik Ardan.


****


Sementara itu suasana di mobil yang di kendarai oleh Fabian, terlihat Alia terus mencengkram dengan erat sabuk pengamannya sedari tadi. Keheningan terjadi di antara keduanya, entah karena bingung atau malah terkejut dengan segala hal yang baru saja terjadi pada keduanya, membuat Alia dan juga Fabian lebih memilih untuk diam.


"Mengapa canggung sekali rasanya?" ucap Alia sambil terus menggenggam sabuk pengamannya.


Hingga kemudian sebuah suara yang tak di inginkan oleh Alia tiba tiba terdengar tepat di antara keheningan yang terjadi di antara keduanya.


Krucuk krucuk...


"Kenapa harus sekarang sih..." batin Alia sambil memejamkan kelopak matanya.


Fabian yang melihat hal itu, tanpa menanyakan dulu pada Alia ia lantas langsung membelokkan mobilnya memasuki area tempat makan tersebut, membuat Alia yang sedari tadi memejamkan matanya lantas langsung membuka matanya ketika merasakan mobil yang di kendarai Fabian berhenti.


"Mengapa berhenti?" ucap Alia pura pura bertanya padahal ia jelas tahu alasan Fabian menghentikan laju mobilnya.


"Aku lapar, apakah kamu tadi tidak mendengar suara perut ku?" ucap Fabian dengan nada yang menyindir.


Mendengar ucapan Fabian tentu saja langsung membuat Alia mencebikkan mulutnya dengan kesal.


"Baiklah baiklah aku bercanda..." ucap Fabian sambil mengacak acak rambut Alia dengan gemas.


"Fabian...." pekik Alia dengan kesal ketika Fabian mengacak acak rambutnya begitu saja.


"Baik baik... aku minta maaf, ayo kita turun sekarang.. bukankah kau lapar?" ajak Fabian kemudian sambil tersenyum dengan lebar.

__ADS_1


"Ayo..." ucap Alia kemudian sambil tersenyum menatap ke arah Fabian.


Keduanya kemudian lantas sama sama turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk menuju ke arah tempat makan. Hanya saja langkah kaki keduanya lantas terhenti ketika suara deringan ponsel milik Fabian mulai terdengar di telinga keduanya.


"Angkatlah dulu siapa tahu penting bukan?" ucap Alia yang paham ketika membaca ekspresi wajah Fabian yang merasa tidak enak padanya.


"Baiklah aku akan angkat telpon sebentar, kamu masuklah dulu nanti aku akan menyusul mu ke dalam." ucap Fabian yang di balas Alia dengan anggukan kepala.


Fabian kemudian lantas melangkahkan kakinya sedikit melipir ke sebelah untuk mengangkat telepon.


"Halo" ucap Fabian setelah mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.


"Halo Bi, tante minta tolong bisa?" tanya sebuah suara di seberang sana.


"Ada apa tan?" tanya Fabian ketika mendengar permintaan Shiren dengan nada yang serak seperti habis menangis.


"Shila masuk Rumah Sakit, dia tadi melakukan percobaan bunuh diri. Bisakah kamu untuk datang Bi? tante mohon..." ucap Shiren dengan nada yang memelas.


Fabian yang mendengar ucapan Shiren barusan lantas langsung terdiam seakan sedang menimbang sesuatu.


"Aku akan langsung ke sana tan, tante tak perlu khawatir." ucap Fabian kemudian.


"Terima kasih banyak Bi..." ucap Shiren dengan perasaan yang lega karena Fabian mengabulkan permohonannya.


Setelah pembicaraan tersebut, Fabian lantas menutup panggilan telponnya begitu saja kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah parkiran dan melajukan mobilnya begitu saja meninggalkan Alia di sana.


Sementara Alia yang sudah memesan menu untuk keduanya, lantas cukup terkejut ketika melihat kepergian Fabian dengan tiba tiba dan tanpa pamit.


Alia melangkahkan kakinya bergegas menuju ke arah luar berusaha untuk mengejar Fabian yang baru saja pergi, namun langkah kakinya tentu saja kalah dengan laju mobil yang cepat.


"Bian!" teriak Alia ketika melihat kepergian mobil Fabian dari sana.


Langkah kaki Alia terhenti ketika ia tak lagi sanggup menyusul Fabian. Diarahkannya dengan frustasi rambutnya ke belakang, kepergian Fabian yang tanpa kata kali ini terasa sangat menyakitkan di banding dengan ucapannya yang mengatakan akan melamar Shila tempo hari.


Alia lantas menutup mulutnya dengan jari jarinya agar tidak terisak, air matanya lolos begitu saja tanpa bisa di cegah.

__ADS_1


"Apa aku sebegitu mudahnya bagimu Bi? hingga kau terus melakukan ini padaku?" ucapnya dengan nada yang terisak sambil berjongkok menahan tangisnya agar tidak pecah.


Bersambung


__ADS_2