Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Bertahanlah


__ADS_3

"Bukankah ini kancing baju Alia?" ucap Fabian ketika ia ingat dengan betul akan motif kancing baju yang di kenakan oleh Alia tadi ketika pergi bersamanya.


Shila yang tadinya sangat gembira karena Fabian percaya begitu saja akan ucapannya, lantas langsung berwajah masam ketika melihat Fabian menemukan sesuatu benda milik Alia.


"Sialan! harusnya tadi aku lebih teliti lagi..." ucap Shila dalam hati seakan takut Fabian mengetahui keburukannya.


Fabian yang yakin ada sesuatu yang sedang terjadi dan di sembunyikan oleh Shila, lantas langsung bangkit dan berkeliling menyusuri ruang perawatan tersebut untuk mencari keberadaan Alia karena Fabian yakin Shila tidak akan membawa Alia jauh dari ruang perawatannya.


"Al kamu di mana.... Al!" teriak Fabian kemudian sambil memutari ruang perawatan Shila dan membuka setiap almari yang ada di sana, sambil terus berharap Shila tidak melakukan hal yang gila kepada Alia.


"Bi dia sudah pulang... apa kau tidak percaya padaku?" ucap Shila lagi berusaha menghentikan langkah kaki pria itu, namun Fabian sama sekali tidak menghiraukannya.


Cklek...


Suara pintu terbuka dari arah luar, membuat Shila dan juga Fabian dengan spontan menoleh ke arah pintu masuk.


"Fabian" ucap Shiren yang terkejut ketika mendapati Fabian di kamar putrinya begitu pula Setya yang saat itu tengah berada di belakang Shiren.


"Tan..." ucap Fabian sambil sedikit menunduk memberi salam kemudian melanjutkan kembali aktifitasnya.


Baik Setya maupun Shiren tentu saja bingung akan tingkah Fabian yang terkesan menggeledah ruangan tersebut, membuat Setya lantas mendekat ke arah Fabian karena penasaran akan apa yang tengah di lakukan oleh Fabian.


"Apa yang sedang kau cari?" tanya Setya.


"Alia! aku yakin dia ada di sini." ucap Fabian sambil bergerak hendak masuk ke ruang peristirahatan keluarga namun gagal karena Setya langsung menariknya.


"Jangan bercanda Bi, kau pikir dia itu kucing yang harus kau cari sampai ke kolong kolong?" ucap Setya dengan kesal karena sikap Fabian yang seperti ini.


Pertama kalinya melihat kedatangannya, Setya bahkan sudah sangat senang, namun ketika mendengar nama yang tak seharusnya di sebutkan Setya mendadak kembali kesal.


"Diam lah sebentar kak, aku belum selesai memeriksanya..." ucap Fabian sambil dengan gerakan memaksa masuk ke dalam.


Setya yang melihat Fabian masuk tentu saja langsung mengejarnya hendak memarahi tingkah Fabian yang keterlaluan, sedangkan Shiren hanya menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang bingung.

__ADS_1


"Apa ada sesuatu yang terjadi selama mama dan kakak pergi?" tanya Shiren sambil menatap ke arah putrinya dengan tatapan menelisik, namun Shila hanya menanggapinya dengan gelengan kepala saja.


**


"Berhenti Bi!" teriak Setya sambil menarik tangan Fabian.


"Kak cobalah untuk mengerti aku..." ucap Fabian hendak berteriak namun langsung terpotong karena Fabian mendengar samar samar seperti suara gemericik air di kamar mandi.


"Kak apakah om Pramono ada di dalam?" tanya Fabian kemudian yang lantas membuat Setya heran karena tiba tiba Fabian malah menanyakan Pramono di saat saat seperti ini.


"Dia sedang ada meeting di kantor, tapi tunggu sebentar itu bahkan tidak ada hubungannya dengan saat ini!" ucap Setya dengan nada yang ketus.


Sedangkan Fabian yang mendengar jawaban dari Setya barusan, lantas langsung menghempaskan tangan Setya begitu saja dan bergegas menuju ke arah pintu kamar mandi.


"Al kau ada di dalam?" tanya Fabian kemudian sambil mengetuk pintu kamar mandi secara berulang kali namun tidak ada yang menjawabnya.


"Al... jangan membuat ku takut..." ucap Fabian lagi sambil kembali mengetuk ke arah pintu kamar mandi, namun sayangnya lagi lagi tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar mandi kecuali suara gemericik air.


Fabian yang melihat pintu bisa terbuka lantas langsung masuk ke dalam dengan terburu buru, betapa terkejutnya Fabian dan juga Setya ketika melihat Alia sudah tergeletak lemas di dalam kamar mandi yang terdapat sekat kaca dengan posisi shower yang mengalir dengan deras membasahi tubuhnya.


Tok tok tok


Fabian berusaha mengetuk kaca tersebut namun Alia sama sekali tidak bereaksi.


"Kuncinya di mana kak?" tanya Fabian kepada Setya.


"Aku juga tidak tahu..." ucap Setya dengan bingung sekaligus terkejut akan segala hal yang terjadi. "Tunggulah di sini akan ku carikan sesuatu untuk membukanya." ucap Setya kemudian berlarian beranjak dari sana.


"Tunggulah sebentar lagi Al..." ucap Fabian dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah Alia.


**


Dengan langkah yang terburu, Setya melangkahkan kakinya keluar dari ruang peristirahatan keluarga dan terus bergerak mencari barang yang bisa ia gunakan untuk membuka pintu kaca tersebut.

__ADS_1


"Apakah ada sesuatu Setya?" tanya Shiren yang melihat anaknya keluar dari ruang peristirahatan dengan langkah yang terburu buru.


Setya yang mendengar pertanyaan dari ibunya barusan lantas menghentikan langkahnya sebentar.


"Ini bahkan lebih buruk ma" ucap Setya kepada ibunya dan beralih menatap tajam ke arah Shila. "Kakak bahkan tidak menyangka bahwa kau akan melakukan hal gila ini Shila!" ucap Setya kemudian melanjutkan langkahnya kembali meninggalkan keduanya.


"Ah sudah tidak seru, aku sudah tertangkap." gerutu Shila dalam hati setelah kepergian Setya dari ruang perawatannya.


**


Beberapa menit kemudian, Setya terlihat datang dengan membawa linggis ukuran sedang di tangannya. Fabian yang melihat Setya datang lantas langsung mengambil linggis itu dan berusaha membuka pintu kaca tersebut.


Butuh waktu agak lama untuk membuat pintu kaca tersebut terbuka, karena bahan dasar pintu tersebut adalah kaca Fabian takut jika ia asal dan terburu buru dalam membukanya, itu akan membuat pintu kaca tersebut pecah dan pada akhirnya malah melukai Alia.


Klotak...


Suara engsel pintu yang terjatuh membuat Fabian merasa sedikit lega karena berhasil membuka pintu kaca tersebut.


"Al..." pekik Fabian sambil masuk ke dalam dan langsung memeluk tubuh Alia.


Di bukanya ikatan di tangan dan juga mulut Alia satu persatu. Wajah Alia sudah benar benar pucat saat itu dengan bibir yang sudah membiru karena kedinginan.


"Di...ngin..." rintih Alia dengan suara yang sangat pelan membuat Fabian yang mendengar suara tersebut langsung memeluk Alia dengan erat.


Setya yang melihat air terus mengalir dan ikut membasahi Fabian lantas langsung dengan spontan memutar kran shower tersebut.


"Bawa segera dia ke IGD Bi..." teriak Setya kemudian yang lantas membuat Fabian terkejut sekaligus tersadar dari rasa ke khawatirannya.


Dengan cekatan Fabian kemudian lantas bangkit dan menggendong Alia ala bridal style membawanya keluar dan langsung menuju IGD.


"Bertahanlah Al... kamu pasti bisa..." ucap Fabian dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya ke arah IGD.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2