Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Kita bicarakan baik baik


__ADS_3

"Kita sedang bertengkar om" ucap Shila kemudian yang langsung, membuat Zayan dan juga Fabian lantas menoleh ke arah Shila dengan tatapan yang bingung tak mengerti akan ucapan yang tiba tiba keluar dari mulut Shila.


Fabian yang merasa Shila akan bertindak semakin menyimpang dan berbuat yang tidak tidak, lantas sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah Shila untuk membisikkan sesuatu kepada Shila.


"Jangan membuatnya semakin runyam, aku mohon hentikan..." bisik Fabian tepat di telinga Shila.


"Gak bisa dong Bi, kita berdua sudah di jodohkan dari kecil dan kamu malah akan lari begitu saja? ayolah Bi jangan bercanda..."ucap Shila seakan tidak terima karena Shila tahu Fabian pasti akan menolaknya dengan keras..


"Ini gak lucu... hentikan sekarang juga! aku akan mengantar mu pulang sekarang." ucap Fabian lagi sambil menarik tangan Shila agar keluar dari sana namun Shila malah meronta seakan tidak menginginkan hal itu sama sekali.


Zayan yang sedari tadi melihat keduanya berselisih sambil berbisik, lantas menatap dengan bingung ke arah keduanya. Zayan tidak tahu di antara mereka mana yang harus ia bela dan mana yang berkata jujur.


"Kalian berdua hentikan! apa yang sedang kalian lakukan sekarang?" ucap Zayan kemudian yang lantas mencoba menghentikan keduanya.


"Begini pa, aku sama sekali tidak ada niatan untuk melanjutkannya ke jenjang yang lebih serius." ucap Fabian yang lantas membuat Shila dengan spontan menarik tubuh Fabian agar menghadap ke arahnya.


"Kau tidak bisa seperti ini Bi!" ucap Shila yang tidak terima dengan keputusan yang di buat secara sepihak oleh Fabian barusan.


"Kita bicarakan nanti saja di luar oke..." ucap Fabian dengan lirih sambil mencoba mengarahkan Shila agar keluar dari sana terlebih dahulu.


"Gak bisa aku gak mau!" ucap Shila kali ini dengan nada yang meninggi.

__ADS_1


"Maaf pa nanti akan Fabian jelaskan soal ini kami permisi dulu." ucap Fabian sambil berusaha menarik tangan Shila agar keluar dari sana.


Zayan yang melihat semua itu hanya bisa menatap bingung dan tidak mengerti ke arah keduanya. Dalam benak Zayan sedari tadi berputar satu pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. "Bukankah dari dulu mereka selalu baik baik saja?"


Fabian berusaha menyeret Shila agar keluar dari sana, namun masih dengan gerakan tangan yang halus dan tidak memaksa karena bagi Fabian menyakiti fisik atau berbuat kasar pada seorang wanita pantang baginya.


"Gak mau... lepaskan aku Bi..." teriak Shila namun sama sekali tidak menyurutkan niatan Fabian untuk membawa Shila keluar dari sana.


Sejauh dan selama keduanya berteman, satu hal yang Fabian sama sekali tidak suka dari Shila yaitu temperamennya yang buruk. Shila hanya nampak kalem dan polos di luarnya saja sedangkan aslinya Shila lebih sering marah marah dan mengamuk, membuat Fabian sering tidak tega ketika meninggalkannya sendirian.


Shila yang terus di seret oleh Fabian, tentu saja tidak tinggal diam begitu saja. Shila yang melihat sebuah pajangan vas bunga di atas meja kecil lantas meraihnya kemudian melemparnya cukup kuat ke lantai hingga membuat bunyi gaduh akibat vas yang pecah dan membentur lantai.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Fabian yang lantas melepaskan cengkraman tangannya pada Shila dan menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara benda pecah.


Baik Fabian dan juga Zayan yang masih ada di sana sontak terkejut akan aksi Shila yang tiba tiba.


"Aaaaaaaaa aku tidak mau Bi... kamu harus menjadi milik ku!" teriaknya dengan histeris sambil mengarahkan pecahan vas tadi ke arah tangannya.


"Jangan seperti anak kecil, kita bicarakan baik baik oke..." bujuk Fabian sambil mengisyaratkan Shila untuk membuang pecahan vas tersebut.


"Tidak mau! aku bahkan sudah berusaha untuk menunggu mu selama bertahun tahun dan mencoba untuk mengerti dirimu. Tapi kamu... selama aku pergi alih alih menyusul ku, kamu malah asyik mendekati si penjual bunga itu! kau pikir aku tidak tahu ha?" teriak Shila lagi yang lantas membuat Zayan semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Shila dan juga Fabian.

__ADS_1


Fabian yang mendengar ucapan Shila barusan lantas mengusap rambutnya dengan kasar, Fabian sangat paham betul bahwa Shila sangatlah tempramental tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa Shila akan berbuat nekat seperti ini.


"Apa yang sebenarnya kau bicarakan? aku bahkan tidak berbuat apapun, soal kepergian mu... bukankah itu pilihan mu sendiri? aku waktu itu bahkan sempat mengiba padamu, tapi kau malah tetap pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Lalu kini tiba tiba kau mengatakan semuanya tidak adil? bagian mananya yang tidak adil La?" ucap Fabian seakan frustasi terhadap tingkah laku Shila kali ini yang menurut Fabian sudah keterlaluan.


"Tenang ya nak... kita bicarakan semuanya baik baik ok..." ucap Zayan mencoba membujuk Shila, namun jangankan di dengar ditoleh saja tidak. "Lembut lah sedikit Bi..." imbuh Zayan kemudian sambil memberikan kode kepada Fabian agar mengalah.


Fabian benar benar frustasi kali ini, di usapnya kembali wajahnya dengan kasar. Fabian benar benar tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini.


"Kita bicarakan baik baik ya... maafkan aku oke..." ucap Fabian sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Shila.


Air mata Shila bahkan sudah membanjiri pipinya sedari tadi, tidak ada niatan sedikitpun dari Shila untuk menurunkan serpihan vas itu dari tangannya. Genggaman yang terlalu erat membuat telapak tangan Shila sepertinya tergores karena dari celah celah telapak tangannya menetes darah seger setetes demi setetes namun dalam jumlah yang tidak banyak.


Fabian yang melihat hal itu semakin melangkah mendekat, di saat Shila mulai lengah dan nampak berpikir Fabian memukul bagian tangan Shila yang menggenggam serpihan tersebut cukup kuat. Sehingga Shila yang tidak bersiap lantas terkejut dan membuat serpihan itu terlempar cukup jauh dari posisi Shila saat ini.


"Tidak...!" ucap Shila yang melihat serpihan tersebut terlempar.


Fabian yang melihat Shila akan berlari, lantas langsung menggendongnya ala karung beras agar Shila tidak bisa lagi berulah dan menimbulkan keributan. Beruntung Arsa tengah keluar untuk belanja bulanan, jika Arsa melihat semua adegan barusan Fabian yakin Arsa pasti akan sangat heboh dan berisik.


"Aku pergi dulu pa, setelah menyelesaikan masalah dengan Shila aku akan kembali dan menjelaskan semuanya." ucap Fabian kepada Zayan.


"Baiklah kalau begitu pergilah sekarang." ucap Zayan kemudian.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut kepada sang ayah, Fabian lantas melangkahkan kakinya keluar dari ruang utama tersebut menuju ke arah di mana mobilnya terparkir.


Bersambung


__ADS_2