Alia (Apa kamu baik baik saja?)

Alia (Apa kamu baik baik saja?)
Apa yang aku lakukan?


__ADS_3

"Apa aku sebegitu mudahnya bagimu Bi? hingga kau terus melakukan ini padaku?" ucapnya dengan nada yang terisak sambil berjongkok menahan tangisnya agar tidak pecah.


Dari arah dalam rumah makan, seorang pria yang mengenakan baju pegawai rumah makan tersebut nampak seorang pria berlarian mendekat ke arah di mana Akila tengah berada saat ini.


"Maaf mbak makanannya sudah jadi." ucap pria tersebut.


Alia yang mendengar ucapan pria itu, lantas langsung bangkit sambil mengusap air matanya yang turun di pipinya dengan kasar.


Alia kemudian mengeluarkan uang dari dompet kecil miliknya kemudian memberikannya kepada pria tersebut.


"Ini uangnya, makanannya buat mas aja ya makasih..." ucap Alia sambil tersenyum dengan paksa kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana.


"Loh mbak tapi..." ucap pria tersebut namun Alia menggerakkan tangannya agar tidak bertanya dan mengikutinya lagi.


Alia melangkahkan kakinya meninggalkan pria tersebut yang menatapnya dengan tatapan yang bingung ke arah Alia hingga Alia tidak lagi terlihat pada pandangannya.


**


Alia menyusuri bahu jalan raya dengan langkah kaki yang pelan sambil menahan isak tangisnya. Bukankah mencintai seseorang yang tak mencintai kita rasanya begitu sakit?


Alia menghembuskan nafasnya berulang kali kemudian mengusap lagi dan lagi air matanya yang jatuh membasahi pipinya. Tak lama kemudian Alia lantas menghentikan langkah kakinya ketika rasa perih menjalar pada area tumitnya.


"Ah.. kenapa harus sekarang sih?" ucap Alia dengan sesenggukan sambil menatapi kakinya yang lecet karena terkena sepatu hak tinggi yang ia kenakan saat ini.


Alia menatap ke arah depan, belakang, kanan dan samping kiri namun tak ada taksi satu pun atau kendaraan lainnya yang melintas di sana, membuat Alia lantas langsung berjongkok dan kembali menangis.


"Mengapa hal baik tidak bisa sekali saja berpihak padaku? hiks... hiks... aku juga ingin bahagia... apakah permintaan ku ini terlalu sulit? aku kira rasanya akan biasa saja ketika aku mencoba terus melangkah, tapi ternyata rasanya begitu sakit... sakit sekali..." ucap Alia dengan sesenggukan kemudian bangkit dan melanjutkan langkah kakinya lagi menyusuri bahu jalan dengan kaki yang telanjang, kedua sepatu hak tingginya Alia tenteng dan ia bawa begitu saja.

__ADS_1


***


Rumah sakit


Setelah Fabian mendapat telpon dari Shiren tadi, ia lantas langsung melajukan mobilnya menuju ke arah Rumah Sakit tempat Shila di rawat saat ini.


Dengan langkah yang tergesa, Fabian lantas melangkahkan kakinya menyusuri lorong lorong Rumah Sakit menuju ruang perawatan Shila.


"Bagaimana keadaan Shila tan?" tanya Fabian ketika sampai di depan ruang perawatan Alia.


"Dia sudah melewati masa kritisnya dan tante sangat bersyukur akan hal itu. Dokter mengatakan untuk menjaga emosinya agar tidak naik turun dan tetap stabil." ucap Shiren dengan nada yang sendu.


"Syukurlah kalau begitu aku juga ikut senang tan." ucap Fabian dengan perasaan yang lega ketika mendengar Shila baik baik saja.


"Masuklah ke dalam, Shila pasti akan sangat senang jika melihat kehadiran mu." ucap Shiren dengan tersenyum menatap ke arah Fabian.


"Aku tidak bisa melakukan hal ini di saat semua keluarga ku sedang terpuruk saat ini." ucap Fabian dalam hati ketika baru menyadari perbuatannya.


"Ada apa Bi? apa ada yang salah?" tanya Shiren ketika melihat Fabian menghentikan langkahnya yang akan masuk seakan seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Sepertinya aku tidak bisa masuk tan, rasanya sungguh tak etis ketika seluruh keluarga besar ku tengah terpuruk dan terkejut akan kenyataan ini, aku malah datang dan bertemu dengan Shila di sini, bukankah aku akan tampak seperti seorang penghianat tan?" ucap Fabian dengan nada yang lirih.


Shiren yang mendengar ucapan Fabian lantas terdiam seribu bahasa, apa yang di katakan oleh Fabian bukanlah sebuah kesalahan, hanya saja Shiren tidak akan tega jika melihat putrinya terus terusan seperti itu. Tadinya Shiren mengira Fabian akan menerima putrinya apa adanya, namun nyatanya Fabian tetaplah manusia biasa dan akan tetap lebih memilih keluarganya dari pada orang lain.


"Tidak bisakah kamu melupakan masalah tersebut hari ini saja Bi, tante mohon..." ucap Shiren mencoba kembali untuk membujuk Fabian agar sedikit membuka hatinya dan mau masuk ke dalam.


"Seperti saya harus pergi tante, maaf karena saya tidak bisa menemui Shila saat ini... saya permisi." ucap Fabian kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan Shiren yang masih menatap kepergian Fabian dengan tatapan yang sendu hingga menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


**


Di dalam mobil Fabian


Fabian terdengar menghela nafasnya panjang berulang kali, kemudian setelah Fabian merasa lebih tenang barulah Fabian mulai memasang sabuk pengamannya dan menyandarkan kepalanya sebentar pada jok mobilnya.


"Apa yang sebenarnya tengah aku lakukan saat ini? bukankah kau sudah berjanji pada dirimu sendiri akan bersikap lebih egois Bi? bodoh sekali kau yang malah memilih datang ke tempat ini sekarang!" ucap Fabian menyesali keputusannya untuk datang ke Rumah Sakit memenuhi permintaan dari Shiren tadi di telpon.


Ketika Fabian tengah merenungi apa yang tengah erjadi, suara deringan ponsel milik Fabian lantas mulai terdengar dan membuyarkan segala lamunan Fabian barusan. Fabian yang melihat nama Ardan tertulis di layar ponselnya, dengan spontan langsung mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo kak" ucap Fabian ketika sambungan telpon ia angkat barusan.


"Apa kamu sudah sampai di Resto saat ini Bi?" tanya Ardan di seberang sana.


"Belum, aku masih ada di jalan kak." jawab Fabian dengan entengnya, seakan sama sekali tidak merasa bersalah karena telah meninggalkan Alia begitu saja tanpa pamit ataupun pemberitahuan pada Alia sebelumnya.


"Lalu Alia bagaimana? apa kalian berdua sedang keluar bersama?" tanya Ardan kemudian yang lantas membuat Fabian terdiam seribu bahasa karena ia baru mengingat tentang Alia barusan.


"Alia kak?" pekik Fabian dengan nada yang terkejut membuat Ardan lantas dengan spontan langsung menjauhkan ponsel miliknya dari telinganya.


"Iya Alia, siapa lagi memangnya?" ucap Ardan dengan nada yang bingung.


"Oh Sial!" ucap Fabian dnegan kesal.


"Apa telah terjadi sesuatu Bi?" tanya Ardan ketika mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Fabian barusan.


"Aku akan menelpon mu kembali nanti ya kak, aku tutup dulu." ucap Fabian kemudian sambil langsung memutus sambungan telponnya begitu saja tanpa menunggu terlebih dahulu jawaban dari Ardan, yang tentu saja akan menyisakan tanda tanya besar bagi Ardan saat ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2