
"A L I A......" pekik Fabian dengan nada yang penuh penekanan, membuat Alia lantas tersenyum garing dengan tubuh yang juga penuh dengan cat.
Alia menampilkan deretan gigi giginya yang rapi, sedangkan wajah serta bagian depan bajunya tertutup dengan tumpahan cat tadi.
"Maafkan aku Bi, lagi pula kau jauh lebih tampan jika seperti itu..." ucap Alia sambil tersenyum usil ke arah di mana Fabian berada.
Mendengar ucapan Alia barusan membuat Fabian lantas melongo tak habis pikir, bisa bisanya Alia malah tersenyum seperti itu setelah menumpahkan satu kaleng cat penuh padanya barusan.
"Al kemari kau biar aku beritahu kamu sesuatu..." ucap Fabian sambil mengacungkan tangannya agar Alia mendekat, namun Alia yang melihat hal tersebut bukannya mendekat malah melarikan diri sambil menjulurkan lidahnya karena Alia tahu Fabian pasti akan menghukumnya.
Fabian yang melihat hal tersebut tentu saja tidak tinggal diam begitu saja, Fabian kemudian lantas mengejar Alia dan berusaha untuk menggapainya.
"Tunggu Al... berhenti sekarang juga!" ucap Fabian sambil terus mengejar Alia dan memperingatkannya.
"Tidak mau..." ucapnya dengan gaya yang meledek.
Pada akhirnya keduanya saling terlibat kejar kejaran satu sama lainnya, hingga kemudian Alia yang melihat kran air lantas langsung berlarian ke arahnya dan mulai menghidupkannya.
Alia yang usil lantas malah mengarahkan selang air tersebut tepat ke arah Fabian hingga membuat Fabian basah kuyup.
"Hentikan Al! kamu benar benar ya..." ucap Fabian sambil berusaha menghindari air tersebut dan berusaha mendekat ke arah Alia.
Tawa terdengar mulai menguar di udara ketika melihat Fabian basah kuyup dengan noda noda cat yang masih menempel di tubuhnya. Sampai pada akhirnya Fabian berhasil mendekat ke arah Alia dan langsung menggendong Alia dari arah belakang dan berputar beberapa kali, hingga membuat Alia tertawa terpingkal pingkal dengan air yang terus mengucur ke segala arah karena keduanya tidak mematikan kran terlebih dahulu.
"Hahahaha hentikan Bi aku pusing..." teriak Alia ketika Fabian terus saja berputar sambil menggendongnya.
__ADS_1
Tanpa keduanya sadari tak jauh dari sana, Shila nampak mengepalkan tangannya ketika melihat keduanya tertawa dan bercanda seperti itu. Niat hati Shila kembali untuk mengambil kopernya malah melihat sesuatu yang menyesakkan dadanya.
Shila menatap interaksi keduanya dengan penuh amarah, kedatangannya kembali ke Indonesia adalah untuk Fabian, namun nyatanya ketika ia kembali Shila malah melihat Fabian bahagia bersama wanita lain. Bukankah segala usahanya belakangan ini terlihat sia sia jika hati Fabian sudah berlabuh pada hati yang lain?
"Aku tidak akan membiarkan ini berlanjut! Fabian hanya milikku." ucapnya sambil mengepalkan tangannya kemudian melenggang pergi dari sana.
Sedangkan Valdi yang juga kebetulan ada di sana, hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan bosnya itu dengan Alia yang tak mengenal tempat. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Valdi ketika melihat interaksi keduanya.
"Sepertinya mereka tidak sadar jika di sini Resto, mereka berdua bahkan sudah jadi pusat perhatian sedari tadi." ucap Valdi ketika melihat kelakuan bosnya.
Hanya saja senyuman yang tadinya menghiasi wajah Valdi perlahan lahan mulai terlihat surut dan berganti dengan kekhawatiran ketika melihat kembali ke arah Fabian dan juga Alia.
"Apakah Alia akan tetap menerima pak bos ketika ia mengetahui kejadian 5 tahun yang lalu? aku tidak bisa membayangkan sehancur apa bos ketika saat saat itu terjadi." ucapnya lagi kemudian melenggang pergi dari sana.
Sementara itu setelah Fabian dan Alia puas bermain air, keduanya lantas duduk di bawah rerumputan dengan nafas yang terengah engah karena lelah, Fabian dan Alia saling bertatapan satu sama lain dan kembali tersenyum ketika melihat rupa mereka masing masing yang saat ini terlihat sangat sangat berantakan.
"Lihatlah penampilan mu itu." tunjuk Fabian pada Alia yang lantas di balas Alia dengan tatapan yang tajam.
"Kau bahkan lebih parah dari ku..." ucapnya tak ingin kalah.
Keduanya kemudian lantas kembali tertawa ketika melihat penampilan masing masing.
"Bukankah kita sangat berantakan?" ucap Fabian kemudian yang di balas Alia dengan anggukan kepala.
Fabian yang melihat Alia tertawa dengan bebas lantas tersenyum. "Teruslah tersenyum Al karena kau sangat cantik ketika tersenyum..." ucap Fabian kemudian yang lantas membuat Alia langsung menatap ke arah Fabian dengan tatapan yang bingung.
__ADS_1
"Jangan menggoda ku, kalau aku benar benar tertarik padamu akan ada hati yang terluka nantinya." ucap Alia memperingati Fabian agar tidak terus terusan memperlakukannya seperti itu seakan membuat batasan yang jelas untuk Fabian.
Fabian yang mendengar hal itu lantas menatap Alia dengan bingung karena tak mengerti dengan ucapan Alia yang barusan.
"Ayolah Al... siapa yang akan terluka coba, aku? atau kamu?" ucap Fabian sambil menggoda Alia.
"Tentu saja bukan, yang aku maksud itu adalah wanita yang tadi." ucap Alia memperjelas perkataannya barusan, namun malah membuat Fabian mengerutkan keningnya semakin bingung.
"Aku dan dia hanya bersahabat, kamu terlalu berlebihan." ucap Fabian lagi.
Alia yang mendengar jawaban dari Fabian lantas bangkit kemudian menatap dalam dalam ke arah manik mata Fabian.
"Tidak ada persahabatan yang benar benar murni di antara laki laki dan perempuan, aku berani bertaruh salah satu di antara kalian pasti ada yang menaruh hati, hanya saja kalian mencoba menutupinya agar persahabatan kalian tetap terjalin." ucap Alia dengan tersenyum sambil perlahan lahan mundur hendak pergi dari Fabian. "Coba kau pikirkan dengan benar, aku rasa tanpa aku memberitahu mu kau pasti juga mengetahuinya bukan?" imbuhnya lagi kemudian melenggang pergi dari sana.
Sedangkan Fabian yang mendengar semua ucapan Alia barusan lantas terdiam dan masih duduk termenung, pikirannya benar benar melayang jauh memutar kembali memorinya di saat masa masa bersama dengan Shila dahulu.
Fabian yang kembali terbayang akan saat saat itu lantas membasahi wajahnya dengan kran air yang masih mengalir kemudian menghela nafasnya panjang.
"Alia benar, tidak ada persahabatan murni antara laki laki dan perempuan karena aku pun telah merasakannya dulu. Namun setelah aku mengenalnya, aku menyadari satu hal rasa sayang yang aku miliki kepada Shila dan juga Alia itu adalah dua hal yang berbeda, benar benar berbeda." ucapnya pada diri sendiri sambil bangkit dan melenggang pergi dari sana untuk membersihkan dirinya.
Persahabatan yang terjalin antara Shila dan juga Fabian bukanlah hanya sebentar, keduanya bahkan sudah seperti kakak beradik yang tidak bisa terpisahkan. Perasaan sayang yang Fabian rasakan dari dulu nyatanya bukanlah sebuah rasa cinta yang sebenarnya, dan Fabian baru menyadarinya ketika bersama dengan Alia dan semakin mengenalnya.
Fabian tidak pernah menampik bahwa ia pernah menyukai Shila, namun jika bertanya tentang perasaan, bagi Fabian Shila lebih cocok menjadi adiknya ketimbang kekasih hatinya.
Bersambung
__ADS_1