
Kediaman Zayan
Arsa yang sibuk menyiapkan menu untuk makan malam, lantas di kejutkan dengan suara notifikasi ponsel miliknya.
Arsa yang tadinya hendak mengangkat ayam dan meletakkannya ke piring saji, lantas langsung menghentikan gerakannya untuk mengecek isi dari pesan di ponselnya tepat setelah suara notifikasi pesan pada ponselnya tersebut terdengar oleh Arsa di dapur.
"Rafa? tumben tuh anak mengirim pesan.. apa kah mungkin ada laporan terbaru?" ucap Arsa kemudian sambil mulai membuka dengan perlahan pesan dari Rafa dan melihat isi dari pesan tersebut.
Ketika Arsa membuka isi pesan dari Rafa, sebuah foto Allea dan juga Ardan yang tengah bermain hujan, lantas perlahan lahan mulai terlihat dan membuat senyuman mulai nampak merekah di wajah Arsa ketika melihat foto tersebut.
"Benarkah ini sungguh sungguh Ardan? bukankah dia terlihat sangat bahagia sekarang?" ucapnya pada diri sendiri dengan penuh semangat.
Arsa yang sudah terlalu bahagia karena saking senangnya melihat foto Ardan yang terlihat sedang bahagia di bawah guyuran hujan, lantas dengan spontan langsung mematikan kompornya yang masih menyala kemudian melangkahkan kakinya dengan lebar ke arah kolam renang untuk mencari keberadaan suaminya itu.
"Pa... papa...." teriak Arsa dengan nada yang riang gembira hampir memenuhi seluruh ruangan mansion.
Arsa yang sudah terlewat senang, lantas terus melangkahkan kakinya hingga Zayan yang mendengar suara teriakan istrinya itu langsung terkejut ketika mendengarnya sekaligus melihat Arsa yang sudah mendekat ke arahnya dengan langkah kaki yang cepat..
"Ada apa sih ma... kok teriak teriak gitu?" tanya Zayan ketika melihat istrinya datang dengan wajah yang berbinar.
"Lihatlah ini pa... bukankah Ardan terlihat sangat bahagia bersamanya?" ucap Arsa dengan raut wajah yang bahagia.
Zayan yang mendengar ucapan Arsa hanya menatapnya secara sekilas kemudian menyeruput kopi di cangkirnya.
"Jangan mencoba untuk membujuk ku, aku sedang malas saat ini." ucap Zayan dengan nada yang datar.
"Mengapa papa malah berubah lagi? bukankah katanya papa ingin mengetes Ardan? tapi mengapa kini papa berubah? jangan bilang yang kemarin itu hanyalah sebuah kata kata saja pa!" ucap Arsa dengan nada yang kesal karena Zayan seakan melupakan kata katanya.
Zayan meletakkan cangkir di tangannya ke atas meja kemudian menatap ke arah manik mata istrinya itu.
__ADS_1
"Papa tidak melupakannya ma, tapi entah mengapa papa malah merasa Allea seperti menjadi beban untuk anak kita, tidakkah mama berpikir begitu?" ucap Zayan sambil menghela nafasnya panjang.
"Jangan mencoba mempengaruhi mama, mama tidak akan terpengaruh sama sekali." ucap Arsa dengan nada yang ketus.
"Ayolah ma... cobalah untuk berpikir lebih realistis lagi, seorang istri itu harusnya melayani suaminya bukan malah suami yang melayani seorang istri. Bukankah begitu ma?" ucap Zayan yang seakan masih kekeh dengan ucapannya.
"Yang benar itu seorang istri harusnya di jadikan ratu bukan malah pembantu, walau suami adalah seorang raja tapi istri bukanlah seorang pelayan. Bukankah dalam kerajaan pun yang melayani seorang Raja bukanlah seorang Ratu melainkan pelayan?" ucap Arsa yang tidak terima akan ucapan dari Zayan barusan.
"Bukan begitu ma... maksud papa itu..." ucap Zayan hendak membela diri namun keburu di potong oleh Arsa.
"Terserah apa kata papa, yang jelas mama tidak mau mendengarnya... huh..." ucap Arsa sambil bangkit berdiri dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion dengan langkah kaki yang kesal meninggalkan Zayan di sana.
Zayan yang melihat kepergian istrinya itu, lantas langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil terus menatapi kepergian istrinya dari sana.
"Apakah kali ini aku salah lagi?" ucap Zayan pada diri sendiri bertanya tanya.
***
Shila yang baru saja selesai mandi dan berganti baju, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Rendra yang terlihat sedang membuat sebuah lukisan di ruangannya.
"Ternyata kau juga penyumbang terbesar dalam galeri seni mu sendiri rupanya?" ucap Shila kepada Rendra yang kini terlihat tengah sibuk menyapukan kuas di atas kanvas.
"Jika aku tidak bisa melukis dan menghasilkan sebuah karya seni, lalu untuk apa aku membuka galeri seni? kau kira itu hanyalah sebuah kegabutan? tentu saja jawabannya tidak!" ucap Rendra dengan nada yang kesal, sambil melirik sekilas ke arah Shila yang terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana ia berada.
Shila yang mendengar jawaban ketus dari Rendra barusan, hanya memutar bola matanya dengan jengah sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rendra dan berhenti tepat di samping Rendra.
Shila menatap dengan serius ke arah lukisan yang perlahan lahan mulai terlihat bentuknya itu.
"Toko bunga... seorang gadis... jangan bilang itu Alia?" ucap Shila mencoba untuk menebak apa yang tengah di lukis oleh Rendra saat ini.
__ADS_1
Rendra yang mendengar ucapan Shila tentu saja langsung dengan spontan menoleh ke arah Shila karena tidak menyangka bahwa Shila dapat menebaknya dengan mudah, padahal gadis yang ada di lukisannya hanya terlihat bagian punggungnya saja, bukankah Shila terlalu pintar? atau memang Rendra yang membuat clue nya terlalu mudah untuk di tebak?
"Kenapa kau malah terkejut? biasa aja kali..." ucap Shila dengan nada yang santai.
"Apakah terlalu terlihat?" ucap Rendra kemudian dengan nada yang penasaran.
"Tidak terlalu, aku hanya menebak saja tidak lebih..." ucap Shila dengan santainya.
"Sial..." gerutu Rendra dengan kesal kemudian kembali fokus pada lukisannya.
"Lagi pula, bukankah kau terlalu banyak mengambil sampel lukisan dengan tema dia? ini galeri seni bukan museum yang berisi segala hal tentang Alia, tidakkah kau berpikir demikian?" ucap Shila dengan nada yang santainya namun malah membuat Rendra kesal ketika mendengarnya.
"Sudahlah jangan berkomentar dan jangan merusak mood ku... lebih baik kau pergi sekarang!" ucap Rendra dengan nada yang kesal.
"Woi woi woles... lagi pula kamu bisa kok mendapatkan yang aslinya alih alih hanya sekedar potret dirinya, asalkan kamu mau menuruti ucapan ku..." ucap Shila dengan nada yang percaya diri.
Sedangkan Rendra yang mendengar hal itu, lantas langsung terdiam seketika tepat setelah mendengar ucapan dari Shila barusan.
"Apa yang harus ku lakukan?" ucap Rendra kemudian yang lantas membuat sebuah senyuman yang merekah terlukis jelas di wajahnya.
***
Sementara itu di sebuah ruangan kantor terlihat Pramono tengah fokus menatap ke arah layar monitor, sedari pagi Pramono terus terusan berkutat dan menyelami rekaman kamera pengawas bagian jalan yang letaknya tak jauh dari Rumah Sakit.
Hingga setelah memakan waktu hampir seharian, barulah ia menemukan siapa yang telah membawa putrinya itu pergi jauh dari dirinya.
"Sesuai dugaan mu Rio, ada yang membantu putri ku melarikan diri rupanya." ucap Pramono kemudian, membuat Rio yang juga tengah sibuk mengobrak abrik rekaman kamera pengawas jalanan lantas langsung dengan spontan menoleh ke arah Pramono.
"Saya akan mencoba melacak nomor plat mobil yang ada dalam rekaman kamera pengawas tersebut sebelum tengah malam pak dan langsung melaporkannya kepada anda secepatnya." ucap Rio ketika mendengar ucapan Pramono barusan.
__ADS_1
"Bagus!"
Bersambung